Makna dan Sejarah Nyadran Jelang Ramadhan: Doa, Gotong Royong, Ziarah Leluhur

Nyadran, Ramadhan, Makna dan Sejarah Nyadran Jelang Ramadhan: Doa, Gotong Royong, Ziarah Leluhur

Menjelang bulan Ramadhan, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia memiliki tradisi khas yang dilakukan secara turun-temurun. 

Di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, salah satu tradisi yang masih lestari hingga kini adalah Nyadran.

Tradisi nyadran atau sadranan ini yang dilakukan pada bulan Ruwah atau Syaban sebagai bentuk doa, penghormatan kepada leluhur, dan persiapan batin menyambut puasa.

Masyarakat Jawa Tengah dan Yogyakarta melakukan nyadran dengan berziarah dan berdoa di makam leluhur, membersihkan makam, serta memasak dan membagikan makanan tradisional. 

Tradisi ini juga dimaknai sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT sekaligus penghormatan kepada para pendahulu.

Nyadran dan jejak sejarahnya

Tradisi Nyadran kerap dikaitkan dengan upacara sraddha yang dikenal pada masa Kerajaan Majapahit. 

Budayawan Universitas Gadjah Mada, Rudy Wiratama, menjelaskan bahwa istilah Nyadran memang memiliki hubungan secara historis dengan sraddha.

"Berdasarkan pengertian sejarah, kemudian kata sraddha ini menjadi sraddhan, lama-lama menjadi sadran dan akhirnya sadranan," terang Rudy dilkutip dari , Kamis (6/2/2025).

Meskipun memiliki keterkaitan istilah, Rudy menegaskan bahwa ruwahan atau sadranan yang dilakukan masyarakat Jawa saat ini tidak sama dengan ritual sraddha pada masa Hindu-Buddha.

"Sementara kalau ruwahan dilakukan tiap tahun, setiap bulan Syaban sebelum Ramadhan," jelasnya.

Menurut Rudy, sraddha hanya dilakukan satu kali, yakni 12 tahun setelah seseorang meninggal dunia.

Di sisi lain, ruwahan dilakukan setiap tahun mengikuti kalender Islam.

Makna sosial dan spiritual Nyadran

Selain berdoa untuk leluhur, Nyadran memiliki makna sosial yang kuat. Salah satu rangkaian utama tradisi ini adalah besik, yakni membersihkan makam secara bersama-sama. 

Kegiatan tersebut memperkuat nilai gotong royong dan kebersamaan antarwarga.

Dilansir dari , (6/2/2025), nilai Nyadran selaras dengan pepatah Jawa, mikul dhuwur mendem jero. 

Istilah itu bermakna menjunjung tinggi ajaran baik para leluhur dan menyimpan rapat hal-hal yang kurang baik. 

Tradisi ini juga menjadi pengingat bahwa setiap manusia pada akhirnya akan menghadapi kematian.

Rangkaian Nyadran biasanya ditutup dengan kenduri atau kembul bujono, yakni makan bersama dengan membawa hidangan masing-masing. Momen ini menjadi simbol kebersamaan sekaligus keharmonisan sosial.

Tradisi lain menyambut Ramadhan

Selain Nyadran, infografik ANTARA mencatat sejumlah tradisi lain yang dilakukan masyarakat Indonesia menjelang Ramadhan. 

Di Papua, masyarakat melaksanakan tradisi bakar batu, yakni memasak bahan makanan dengan batu panas untuk disantap bersama sebagai sarana mempererat silaturahmi.

Di Jawa Barat, terdapat tradisi cucurak, yaitu berkumpul bersama keluarga dan kerabat untuk makan bersama di ruang terbuka. Tradisi ini dimaknai sebagai ajang silaturahmi dan saling bermaafan sebelum Ramadhan.

Sementara itu, masyarakat Aceh menyambut Ramadhan dengan tradisi bakar lemang bambu dan membagikannya kepada warga sekitar. 

Di Sumatera Barat, dikenal tradisi potang balimau, berupa menyiram tubuh dengan air jeruk nipis bercampur bunga rampai sebagai simbol penyucian diri. 

Adapun di Lampung, masyarakat menjalankan tradisi belangiran, yakni mandi bersama di sungai sebelum memasuki bulan puasa.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang