Puthul, Serangga yang Jadi Kuliner Musim Hujan Khas Gunungkidul, Seperti Apa Rasanya?
Wilayah Gunungkidul kaya akan berbagai jenis kuliner, dan salah satu yang terkenal adalah kuliner ekstrim yang berasal dari berbagai jenis serangga.
Jenisnya bahan dasarnya pun beragam, mulai dari belalang, ulat jati, kepompong, dan masih banyak lagi.
Salah satunya menjadi panganan khas musim hujan di Gunungkidul yaitu serangga yang oleh warga setempat disebut "puthul".
Apa Itu Puthul?
Puthul adalah jenis serangga yang memiliki nama ilmiah Phyllophaga hellery.
Serangga yang menyerupai kumbang ini hanya keluar setahun sekali saat awal musim hujan.
Hewan yang satu ini merupakan hama yang kerap menyebabkan kerugian bagi para petani.
Hal ini dikarenakan puthul akan bertelur dan menghasilkan larva berupa uret yang nantinya memakan akar tanaman terutama padi.
Pada saat memasuki musim huja, puthul akan kembali melalui musim kawin dan menebarkan telur di tanah yang selanjutnya akan menjadikan berbagai tanaman termasuk padi sebagai inang.
Karena itu, petani atau masyarakat Gunungkidul biasanya memutus rantai siklus hidup puthul agar tidak berkembang semakin banyak, salah satunya dengan diburu dan dikonsumsi.
Yang perlu diketahui, puthul yang biasa dikonsumsi bukanlah yang masih ada di masa, melainkan puthul yang sudah berubah setelah melalui masa kepompong dan biasanya dijumpai pada masa awal musim penghujan.
Bagaimana Cara Menangkap Puthul?
Bagi sebagian masyarakat, kemunculan puthul sebagai berkah tersendiri karena hama ini ternyata bisa dikonsumsi.
Mereka akan memburu hewan ini atau sering disebut dengan nyuluh Puthul, untuk dijadikan santapan lezat untuk dinikmati di rumah bersama keluarga.
Cara mendapatkannya juga cukup mudah, setelah matahari terbenam puthul akan muncul dan hinggap di bawah dedaunan.
Cara penangkapannya pun terbilang mudah dan hanya membutuhkan alat-alat sederhana seperti lampu senter untuk membantu berburu dalam kegelapan malam dan botol plastik sebagai wadah penampung.
Adapun banyak sedikitnya hasil berburu puthul bergantung pada cuaca, di mana semakin deras dan sering hujan makan puthul akan semakin banyak keluar.
Bagaimana Cara Mengolah Puthul?
Puthul yang sudah ditangkap akan dicuci bersih dan dihilangkan bagian sayapnya yang keras.
Sebelum digoreng, puthul akan direbus dengan bumbu bacem yang bercita rasa manis agar semakin nikmat.
Namun, ada juga yang hanya merendamnya dengan racikan bumbu bawang putih dan garam sebelum digoreng.
Setelah ditiriskan, puthul akan diolah dengan cara digoreng dengan minyak hingga berwarna kecoklatan.
Masyarakat setempat sering menjadikannya sebagai lauk atau hanya sekedar untuk camilan.
Apa Rasa Puthul yang Telah Digoreng?
Dilansir dari laman Desa Tepus Gunung Kidul, salah seorang warga menggambarkan rasa puthul yang telah diolah.
"Rasanya gurih seperti belalang kecil, selain untuk camilan juga untuk lauk makan nasi anget," ujar seorang warga.
Sementara, warga lain mengungkap jika rasa phutul memiliki rasa lebih gurih daripada belalang.
Hanya saja dalam mengolahnya, puthul harus dibersihkan dan saat digoreng harus dalam waktu yang agak lama namun dengan api yang tidak telalu besar agar dagingnya tidak alot.
Sementara dilansir dari TribunJogja.com, Sulis Mustika (28), warga Bendorejo, Semanu, Gunungkidul menjelaskan lebih detail cita rasa dari puthul.
Dia mengatakan Puthul yang sudah diolah memiliki cita rasa yang gurih seperti udang dengan sedikit rasa daging ayam.
"Pokonya enak apalagi kalau digoreng krispi garing. Biasanya buat lauk dengan nasi hangat dan sambal bawang, atau bisa juga hanya untuk camilan saja. Enak kok," tambah dia.
Apakah Puthul Aman Dikonsumsi?
Meski rasanya yang enak dan gurih, Sulis mengatakan tidak semua orang bisa mengonsumsi Puthul.
Sebab orang yang tidak tahan dengan makanan ini akan muncul alergi gatal dan biduran.
"Karena, inikan proteinnya tinggi sekali.Jadi, ada sebagian orang kalau makan itu alergi dan gatal- gatal, biasanya muncul ruam pada kulit seperti orang terkena biduran," jelasnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.