Pencarian Syafiq Ali di Gunung Slamet Berlanjut, Relawan Masih Bergerak Meski Operasi SAR Resmi Ditutup
Harapan untuk menemukan Syafiq Ali (18), pendaki asal Magelang yang hilang Gunung Slamet ternyata belum padam.
Meski operasi pencarian resmi Tim SAR telah dihentikan, upaya menemukan Syafiq Ali masih terus berlanjut.
Sejumlah relawan memilih melakukan pencarian mandiri di jalur pendakian dengan medan berat dan cuaca yang kerap ekstrem.
Pencarian difokuskan pada rute pendakian Gunung Slamet jalur Dipajaya Pemalang hingga perluasan ke jalur lain yang berpotensi dilalui korban.
Langkah ini dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab kemanusiaan meski peluang semakin menantang.
Relawan yang tergabung dalam Basecamp Slamet jalur Bambangan, Purbalingga, tetap bergerak setelah operasi resmi ditutup pada Rabu (7/1/2026) tanpa hasil.
Mereka menilai pencarian tetap perlu dilakukan mengingat belum ditemukannya tanda-tanda keberadaan korban.
Relawan Bergerak atas Dasar Kemanusiaan
Koordinator Basecamp Slamet jalur Bambangan, Syaiful Amri, mengatakan keputusan melanjutkan pencarian dilakukan secara mandiri dengan pertimbangan kemanusiaan.
Sebagai pengelola jalur pendakian dan warga yang tinggal di kawasan kaki Gunung Slamet, relawan merasa memiliki tanggung jawab moral.
Upaya pencarian mandiri telah dilakukan sejak 9 Januari 2026 dengan menerjunkan tiga Search and Rescue Unit (SRU).
Titik pencarian mengacu pada pemetaan dan koordinat yang sebelumnya disusun oleh Basarnas.
"Tiga hari kemarin kami kembali menelusuri area sesuai pemetaan dari Basarnas, bahkan kami maksimalkan lagi.
Tapi, sampai dengan hari Minggu (11/1/2026) kemarin, belum ada tanda-tanda," ujar Syaiful saat dikonfirmasi Tribunbanyumas.com, Senin (12/1/2026).
Area Pencarian Diperluas ke Jalur Baturraden
Meski belum membuahkan hasil, pencarian tetap dilanjutkan dengan memperluas area penyisiran.
Syaiful menyebut relawan telah berkoordinasi dengan Basecamp Bambangan untuk membuka pencarian ke jalur Baturraden.
"Semalam, kami sudah koordinasi dengan Basecamp Bambangan. Dari situ kami sepakat memperluas pencarian ke jalur Baturaden. Karena secara histori, seringkali pendaki itu nyasar ke jalur ini," jelasnya.
Dalam operasi tersebut, dua tim diterjunkan dengan total 57 personel yang merupakan kolaborasi relawan Basecamp Bambangan dan Basecamp Baturraden.
Penyisiran dilakukan sejak pagi hari dan dibatasi hingga maksimal pukul 15.00 WIB demi menghindari risiko cuaca ekstrem pada sore hari.
Isu Temuan Bau dan Korban Ditepis
Terkait informasi yang sempat beredar di media sosial mengenai tercium bau tidak sedap di jalur pendakian, Syaiful memastikan kabar tersebut tidak berkaitan dengan keberadaan korban.
"Memang terdeteksi bau, tapi bukan di pos 7. Setelah kami cek, ternyata bau itu berasal dari temuan daging ayam yang dibuang pendaki. Jadi, bukan tanda-tanda korban," tegasnya.
Ia juga menepis kabar yang menyebut korban telah ditemukan. Hingga Senin siang, relawan belum menerima laporan terbaru terkait penemuan Syafiq Ali.
"Sampai saat ini kita masih menunggu kabar pencarian terbaru, karena sinyal di area itu sangat terbatas. Sejak kemarin, kita juga belum menemukan adanya tanda-tanda penemuan korban," ujarnya.
Cuaca Ekstrem Jadi Tantangan Utama
Syaiful menambahkan, kendala terbesar dalam pencarian adalah cuaca ekstrem yang menyulitkan penyisiran, terutama di area jurang dan medan terjal.
Meski demikian, relawan berkomitmen memaksimalkan upaya pencarian hingga 14 Januari 2026.
Di tengah keterbatasan dan kondisi lapangan yang berat, ia berharap seluruh relawan tetap diberi kekuatan dan pencarian ini dapat membawa hasil.
teman dan relawan tetap semangat, dan semoga segera ada titik terang agar ananda Syafiq bisa segera di temukan," pungkasnya.
Artikel ini telah tayang di TribunJateng.com dengan judul “Relawan Purbalingga Tetap Bergerak Cari Syafiq di Gunung Slamet Meski Operasi SAR Sudah Ditutup”.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang