Wanadri Ungkap Jalannya Pencarian dan Detik-detik Penemuan Syafiq Ali di Gunung Slamet

Pendaki Syafiq Ridhan Ali Razani (18) asal Magelang, Jawa Tengah, akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Rabu (14/1/2026) di Gunung Slamet.
Upaya pencarian Syafiq Ali dimulai sejak ia dinyatakan hilang, yaitu Senin (29/12/2025).
Syafiq ditemukan di lereng puncak selatan Gunung Slamet, tepatnya di antara jalur Gunung Malang dan Baturraden.
Penemuan Syafiq ini mengakhiri misi pencarian yang sudah berlangsung selama lebih dari dua pekan sejak Syafiq dinyatakan hilang saat mendaki.
Pencarian sendiri terdiri dari dua tahap.
Tahap pertama dihentikan dan resmi ditutup pada Rabu (7/1/2026) setelah dua pekan pencarian tidak membuahkan hasil.
Kemudian pencarian tahap kedua, dilakukan oleh para relawan dan dimulai pada 13 Januari 2026.
Berikut kronologi lengkap upaya pencarian Syafiq Ali hingga tim relawan berhasil menemukannya pada tanggal 14 Januari 2026.
Mengumpulkan data dari Himawan
Salah satu rescuer dari Wanadri, Angga Septa Gumilar, membeberkan persiapan dan detik-detik penemuan Syafiq Ali kepada Kompas.com, Jumat (16/1/2026).
Kompas.com sendiri sudah berusaha mengubungi Bucek atau Tjek, panggilan akrab Angga, untuk dimintai keterangan pada Kamis (15/1/2026). Namun pada Kamis malam itu, Bucek dan beberapa tim pencari masih berada di atas gunung, belum mencapai basecamp.
Barulah di Jumat pagi, ia mau membagikan kronologi lengkapnya.
Menurut Bucek, Wanadri menginisasi pencarian tahap kedua ini dengan merangkul banyak pihak, seperti Mayapada, UPL MPA Unsoed, Wikupala, APGI, Mapala Batik, Mapala Kanpas, Mapala STIKAP, Comunitas RAPI, Orari, relawan-relawan, dan Rescue BC Dipajaya.
Persiapan Wanadri dan relawan dimulai dari Kamis (8/1/2026).
Operasi ini diawali dengan penggalian data ke Himawan, rekan Syafiq Ali mendaki Gunung Slamet.
Abdul Azis dari Wanadri sempat melaju ke Magelang pada Jumat (9/1/2026) untuk menggali data lebih akurat, soal titik terakhir perpisahan Syafiq Ali dan Himawan.
Kemudian pada Sabtu (10/1/2026), berdasarkan data yang diperoleh dari Himawan, barulah tim dari Wanadri bisa menganalisa dan memetakan lokasi di peta.
Selanjutnya, tim Wanadri melanjutkan dengan langkah pemenuhan perbekalan untuk flying camp di lokasi yang sudah ditentukan.
Lalu pada Minggu (11/1/2026), Wanadri menunggu personel dari beberapa relawan yang akan bergabung. Setelah semua datang, barulah secara resmi operasi ESAR tahap 2 dibuka dengan SAR Mission Coordinator atau SMC atas nama Arie Affandi dari Wanadri, yang berjaga di basecamp Dipajaya.
Dan Bucek sendiri sebagai On Scene Commander yang berlokasi di Pos 7 Gunung Malang.
"Senin, 12 Januari, berdasarkan hasil analisis di peta, tim kami naik lewat jalur Gunung Malang, dan kami mendirikan flying camp di sana," ujar Bucek.
Penemuan ceceran barang milik korban
Himawan, yang mengenakan jas hujan warna merah, saat bertemu dengan Bucek (syal orange) di sekitar Batu Langgar.
Esok paginya, Selasa (13/1/2026), adalah hari pertama pencarian tahap kedua. Tim yang terdiri dari 4 SRU bergerak sesuai dengan koordinat yang sudah ditentukan.Pada hari itu, mereka menemukan ceceran barang milik Syafiq Ali yang tergeletak di satu titik.
Diketahui, lokasi penemuan barang-barang ini hanya berjarak sekitar 200 meter dari titik lokasi Syafiq ditemukan, meski berbeda area punggungan.
"Pada pagi itu, kami menemukan ceceran barang korban, yaitu senter, dompet berisi STNK, jas hujan, emergency blanket, tracking pool, kabel HP, dan charger HP," ujar Bucek.
Setelah dicek, nama dan alamat pada STNK cocok dengan biodata Syafiq Ali.
Kemudian pagi harinya, Rabu, pencarian kembali dilakukan. Kali ini, Himawan ikut naik untuk membantu pencarian dengan didampingi oleh tim rescue dari Basecamp Dipajaya lewat jalur Dipajaya.
Hari itu Himawan bertemu dengan Bucek di Batu Langgar, di ketinggian sekitar 3.300 Mdpl.
"Himawan naik untuk kembali mengingat lokasi pasti saat berpisah dengan Ali," ujar Bucek.
Segera Himawan bergerak dengan tim rescue Dipajaya, menyeberangi punggungan gunung, dan sempat berpisah dengan Bucek karena berbeda area pencarian dengan SRU 4 yang dipimpin Bucek.
Di saat melanjutkan penyisiran inilah, salah satu personel SRU 4 menemukan adanya benda warna hitam di sebuah lembah.
"Posisi saya saat itu 100 meter di atas, di belakang tim penemu," ujar Bucek.
"Setelah tim turun, dipastikan bahwa benda warna hitam itu benar korban," sambungnya.
Penemuan Syafiq tersebut terjadi sekitar pukul 09.22 WIB. Tim SRU segera mengamankan korban dengan peralatan seadanya, menggunakan matras, sarung, dan flysheet.
"Sembari menunggu tim evakuasi datang membawa peralatan tactical rescue, kami sudah sempat mengamankan korban, namun hanya bisa menggesernya sekitar 100 meter ke atas karena terhalang cuaca buruk," ujar Bucek, yang juga sudah mengamankan barang-barang ceceran ke dalam trash bag.
Diketahui, cuaca pada pagi itu berkabut tebal, hujan deras, dan juga angin kencang.
Karena dinilai berisiko tinggi, tim SRU pun menghentikan upaya evakuasi dan menunggu tim yang menyusul dari bawah.
Evakuasi lewat jalur Gunung Malang
Serah terima Tim SRU dan Basarnas sebelum proses evakuasi Syafiq Ali.
Kamis (15/1/2026) sekitar pukul 05.30 WIB, tim evakuasi sampai di lokasi dan pukul 06.00 WIB evakuasi korban pun langsung dilakukan."Sebelum evakuasi, tim SRU melakukan serah terima kepada tim evakuasi yang diwakili oleh Basarnas," ujar Bucek.
Untuk mengangkat korban dari lembah ke atas, dibutuhkan waktu sekitar 2 jam.
Wanadri sendiri sempat mengusulkan untuk menurunkan korban lewat Plawangan Dipajaya yang dinilai memiliki jalur lebih landai.
Namun keputusan terakhir memutuskan menurunkan korban lewat jalur Gunung Malang.
Evakuasi korban dari area batas vegetasi hingga sampai ke basecamp menempuh waktu sekitar 7-8 jam.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang