Longsor Banjarnegara: Operasi SAR Diperpanjang 3 Hari, Fokus Cari 16 Korban yang Masih Hilang

operasi SAR, longsor pandanarum banjarnegara, bencana tanah longsor Banjarnegara, korban longsor banjarnegara, longsor situkung banjarnegara, Longsor Banjarnegara: Operasi SAR Diperpanjang 3 Hari, Fokus Cari 16 Korban yang Masih Hilang, Bagaimana Rencana Pencarian pada Hari Kedelapan?, Alat Berat Apa Saja yang Dikerahkan?, Berapa Banyak Korban yang Sudah Ditemukan?, Berapa Estimasi Kerugian Akibat Longsor?, Mengapa Biaya Penanganan Bencana Sangat Besar?

Tim search and rescue (SAR) gabungan resmi memperpanjang operasi pencarian korban tanah longsor di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, selama tiga hari.

Keputusan ini diambil setelah seluruh unsur terlibat menggelar rapat evaluasi di Pendopo Kecamatan Pandanarum pada Sabtu (22/11/2025).

Kepala Kantor Basarnas Semarang, Budiono, menyampaikan bahwa perpanjangan dilakukan setelah evaluasi menyeluruh atas operasi hari ketujuh.

"Hari ketujuh ini merupakan hari evaluasi SAR. Evaluasi memutuskan untuk menambah waktu tiga hari lagi untuk upaya evakuasi korban," katanya dikutip dari Antara.

Ia menyebut kondisi cuaca yang relatif mendukung berkat modifikasi cuaca membuat proses pencarian berlangsung lebih optimal dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Bagaimana Rencana Pencarian pada Hari Kedelapan?

Pada hari ini, Minggu (23/11/2025), operasi pencarian akan berfokus pada sektor A, B, dan C. Penentuan titik pencarian dilakukan berdasarkan informasi dari anjing pelacak K-9, keterangan keluarga korban, serta analisis tim SAR.

"Besok (23/11/2025) pencarian akan fokus pada sektor A dan C yang merupakan lokasi ditemukannya banyak korban. Sektor B juga akan ditangani secara intensif karena waktu penambahan hanya tiga hari," ujar Budiono.

Ia berharap kondisi cuaca tetap bersahabat sehingga seluruh alat berat dapat berfungsi maksimal.

"Semoga dukungan dari Pemerintah Kabupaten Banjarnegara dan seluruh pihak membuat relawan tetap mampu bekerja maksimal, karena misi ini adalah misi kemanusiaan," ucapnya.

Alat Berat Apa Saja yang Dikerahkan?

Komandan Satgas Penanganan Bencana Longsor Situkung, Letkol Czi Teguh Prasetyanto, menjelaskan bahwa operasi hari kedelapan akan diperkuat dengan tambahan alat berat berkapasitas besar.

Menurut dia, tumpukan material longsor yang tinggi menjadi salah satu hambatan utama, sehingga dibutuhkan alat berat dengan daya garuk lebih kuat.

"Operasi besok (23/11/2025) akan kita optimalkan dengan penambahan tiga alat berat PC 200 dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO). Dengan dukungan cuaca baik, harapannya semakin banyak korban dapat ditemukan," ujarnya.

Berapa Banyak Korban yang Sudah Ditemukan?

Pada hari ketujuh operasi, Sabtu (22/11/2024), tim SAR menemukan dua korban. Dengan temuan tersebut, total korban yang berhasil diidentifikasi mencapai 12 orang, ditambah dua temuan berupa bagian tubuh manusia.

Dengan begitu, masih terdapat 16 korban yang belum ditemukan dari total 28 orang yang dilaporkan hilang.

"Kami terus berupaya agar seluruh korban dapat ditemukan dan dievakuasi," kata Teguh.

Seluruh unsur gabungan yang terdiri atas TNI, Polri, Basarnas, relawan, dan pemerintah daerah disebut akan memaksimalkan perpanjangan waktu operasi tersebut.

Berapa Estimasi Kerugian Akibat Longsor?

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kerugian sementara akibat longsor di Banjarnegara mencapai sekitar Rp 35 miliar.

Angka tersebut dihitung dari kerusakan langsung seperti rumah warga yang hancur dan lahan pertanian yang tersapu material longsor.

“Hitungan kasar misalnya rumahnya rubuh, kemudian lahan pertanian yang langsung saja sudah sekitar Rp 35 miliar untuk Banjarnegara. Itu yang terdampak langsung saja,” ujar Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto, Jumat (21/11/2025).

Ia menegaskan bahwa angka tersebut belum termasuk biaya relokasi, pembangunan hunian sementara, serta kebutuhan dalam masa tanggap darurat.

"Belum dihitung kebutuhan relokasi. Ini baru perkiraan sementara, dan tentu saja angka ini akan bergerak terus," katanya.

Mengapa Biaya Penanganan Bencana Sangat Besar?

Suharyanto mencontohkan bahwa penanganan bencana besar memerlukan pembiayaan yang sangat tinggi.

"Kalau terjadi bencana ini sangat mahal. Contoh seperti Cianjur, itu untuk rehabilitasi rekonstruksi Rp 2,5 triliun," ujarnya.

Menurutnya, tingginya biaya penanggulangan bencana menunjukkan pentingnya penguatan mitigasi, terutama di wilayah rawan longsor dan gerakan tanah seperti Banjarnegara serta daerah selatan Jawa Tengah.

Ia menegaskan bahwa upaya mitigasi sangat menentukan besarnya kerugian dan jumlah korban ketika bencana terjadi.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.