Deretan Pernyataan Lawas Kontroversi Mantan Menag Yaqut Cholil Qoumas
Mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Yaqut ditetapkan tersangka terkait kasus dugaan korupsi kuota haji.
Menyusul dengan penetapan status tersangka terhadap Yaqut, rekam jejak mantan menag tersebut kembali disorot. Publik kembali diingatkan dengan sejumlah pernyataan yang menuai kontroversi di kalangan masyarakat. Lantas apa saja pernyataan Yaqut yang kontroversial?
Berikut ini deretan pernyataan kontroversial Yaqut Cholil Qoumas.
- Sebut Kementerian Agama Sebagai Hadiah untuk Nadhlatul Ulama (NU)
Pada tahun 2021 lalu, Yaqut pernah melontarkan pernyataan yang menimbulkan kontroversial dalam acara webinar memperingati hari santri yang diselenggarakan PBNU. Dalam acara tersebut, Yaqut menyebut Kementerian Agama adalah hadiah negara untuk NU.
Dalam acara itu, Yaqut sempat menyinggung tentang perdebatan di internal Kemenag terkait asal usul kemenag. Yaqut mengungkap ada satu tokoh agama yang menyebut kemenag hadiah untuk umat Islam. Namun pernyataan tokoh agama itu ditepis oleh Yaqut.
”Saya bantah, bukan. Kementerian Agama itu hadiah negara untuk NU bukan untuk umat Islam secara umum tapi spesifik untuk NU. Jadi wajar kalau sekarang NU itu memanfaatkan banyak peluang yang ada di kementerian agama karena hadiahnya untuk NU,” kata dia pada Oktober 2021 lalu.
Yaqut mengungkapkan dasar alasannya mengapa dia mengatakan hal tersebut. Salah satunya karena Pendiri NU KH. Wahab Chasbullah berjasa dalam mengusulkan konsep piagam Jakarta yang menjadi cikal bakal lahirnya dasar negara Pancasila.
Menyusul dengan pernyataan kontroversi tersebut, Yaqut juga sempat melakukan klarifikasi. Dia menjelaskan bahwa pernyataannya saat itu disampaikan dalam forum internal keluarga besar NU dengan tujuan untuk memotivasi para santri dan pesantren.
”Itu saya sampaikan di forum internal. Intinya sebatas memberi semangat kepda para santri dan pondok pesantren. Ibarat obrolan pasangan suami-istri dunia ini milik kita berdua yang lain Cuma ngekos, karena itu disampaikan secara internal. Dan memang saya juga tidak tahu sampai keluar lalu digoreng ke publik. Itu forum internal, konteksnya untuk menyemangati,” kata dia.
Yaqut juga memastikan bahwa Kemenag tidak diperuntukkan hanya untuk NU. Hal ini terlihat dari susunan karyawan Kemenag yang terdiri dari berbagai unsur.
”Semuaya diberikan hak secara proposional. Ormas juga tidak hanya NU saja, bahkan di Kemag ada Dirjen Penyelengaraan Haji dan Umrh itu kader Muhammadiyah. Ada juga Irjen Kemenag yang bukan dari NU,” kata dia.
- Sindir Salah Satu Paslon dalam Pemilu 2024 lalu
Yaqut juga pernah melemparkan candaan untuk Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar (Amin) yang melaju dalam pilpres 2024 lalu. Dalam sebuah acara Pembukaan Orientasi PPPK di Surabaya pada September 2023 lalu, dia menyinggung soal bid’ah terhadap kedua calon pasangan presiden dan wakil presiden saat itu.
”Kalau masih ada yang milih (Anies-Cak Imin), itu bid’ah,” kata dia.
Menyusul kontroversi tersebut, Yaqut sempat memberi klarifikas. Dia menyebut bahwa kelakar yang disampaikannya tidak ada kaitannya dengan Pilpres 2024. Guyon itu disampaikan Yaqut dalam konteks pegawai di lingkungan Kementerian Agama yang namanya ditambahkan 'Amin'.
"Jadi, dulu ada Kepala Balitbang Kemenag namanya Suyitno, ketika MC manggil namanya kok ada tambahan Amin, itu. Kaget saya. Setahu saya namanya Suyitno, gak ada Amin-nya. Nah, saya bilang ini kok aneh ada nama Amin karena lagi ramai-ramai pilpres, kemudian begitu. Gak ada konteks apa-apa. Jadi, konteksnya bercanda," kata Yaqut.
Yaqut juga menjelaskan makna kata bid’ah.
"Nah, artinya apa? Ini sebenarnya istilah yang netral, bahkan kalau mau cari blessing-nya itu positif loh. Jadi, ini kemudian orang saja yang mempersempitnya menjadi bid'ah seolah olah jelek. Gak, bid'ah itu artinya kreatif, novelty kebaruan," jelas Yaqut.
Yaqut menyampaikan, jika merujuk arti harafiah tersebut maka seharusnya senang dengan sebutan bid'ah. Namun, dia menegaskan sekali lagi bahwa kelakarnya soal Amin bid’ah tak terkait dengan politik. Ia bilang seperti itu hanya gurauan soal nama pegawai Kemenag yaitu Suyitno yang namanya ditambahi Amin.
"Ya memang itu guyonan. Dan, itu tadi bid'ah itu kata yang netral. Kemudian, orang banyak menimpanya dengan istilah-istilah keagamaan," ujarnya.