Waspada! 5 Bahaya Thrifting Baju Bekas Bagi Kesehatan, Ini Kata Dokter

Ilustrasi thrifting, 1. Sarang Parasit Penyebab Kudis, 2. Risiko Eksim Akibat Debu dan Jamur, 3. Penularan Infeksi Melalui Cairan Tubuh, 4. Potensi Penyebaran Virus Pernapasan, 5. Paparan Bahan Kimia dari Cairan Disinfektan
Ilustrasi thrifting

Tren thrifting atau berburu pakaian bekas semakin populer di kalangan anak muda karena dianggap ramah di kantong dan berkontribusi pada gaya hidup berkelanjutan. Sayangnya, praktik jual beli baju bekas ternyata menyimpan sederet risiko kesehatan yang serius.

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin dr. Arini Widodo, SM, SpDVE dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) mengungkapkan bahwa pakaian bekas sulit dijamin kebersihannya. 

“Agen infeksi seperti bakteri, jamur, virus, hingga parasit berpotensi menular melalui pakaian tersebut,” dokter Arini dikutip dari Antara pada Kamis, 30 Oktober 2025.

Berikut penjelasan dokter Arini tentang bahaya thrifting bagi kesehatan. Scroll untuk informasi lengkapnya.

1. Sarang Parasit Penyebab Kudis

Pakaian bekas yang tidak disterilkan dengan benar dapat menjadi tempat hidup tungau penyebab scabies atau kudis. Penyakit ini menimbulkan rasa gatal hebat, terutama di malam hari, dan sering kali disertai ruam kemerahan. Jika tidak diobati, infeksi bisa menyebar ke anggota keluarga lainnya.

2. Risiko Eksim Akibat Debu dan Jamur

Pakaian bekas yang lama disimpan di gudang atau tempat lembap rentan dipenuhi debu dan spora jamur. Ketika digunakan, hal ini bisa memicu eksim atau peradangan kulit yang menyebabkan gatal, kemerahan, hingga kulit melepuh jika terus digaruk.

3. Penularan Infeksi Melalui Cairan Tubuh

Kebiasaan mencoba-coba baju saat thrifting juga bisa memicu penularan penyakit. Menurut dr. Arini, cairan tubuh seperti keringat atau air liur bisa berpindah antar pengguna dan menjadi media penyebaran infeksi. Risiko ini meningkat jika pakaian tidak dicuci atau disterilkan dengan benar sebelum dijual kembali.

4. Potensi Penyebaran Virus Pernapasan

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pakaian bekas dapat menjadi media penyebaran virus, termasuk influenza. Karena melewati banyak tangan sebelum sampai ke konsumen akhir, baju bekas berpotensi menjadi jalur penularan infeksi yang tidak disadari.

5. Paparan Bahan Kimia dari Cairan Disinfektan

Untuk menjaga tampilan pakaian tetap “bersih”, sebagian penjual menyemprotkan bahan kimia atau cairan disinfektan secara berlebihan. Uap dari bahan tersebut bisa menyebabkan efek samping seperti sakit kepala, pusing, mual, hingga gangguan pernapasan bila terhirup terus-menerus.

Dengan berbagai risiko medis tersebut, larangan impor pakaian bekas yang dikeluarkan pemerintah bukan sekadar kebijakan ekonomi, tetapi juga langkah perlindungan kesehatan masyarakat.

Tren thrifting memang menggiurkan dari sisi harga, namun penting bagi masyarakat untuk tetap waspada. Karena di balik pakaian murah yang tampak menarik, bisa saja tersimpan ancaman kesehatan yang tidak terlihat mata.