Anak Underweight Berisiko Alami Stunting, Orangtua Perlu Waspada
Kondisi anak dengan berat badan kurang atau underweight perlu mendapat perhatian sejak dini dari orangtua.
Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan pada anak, termasuk stunting.
Menurut Guru Besar Pangan dan Gizi IPB University Prof. Ali Khomsan, anak dengan status gizi underweight merupakan kelompok yang perlu mendapat perhatian dalam upaya pencegahan stunting.
“Anak underweight itu adalah salah satu faktor yang bisa menyebabkan stunting nantinya. Jadi kita utamakan yang underweight dulu,” ujarnya dalam konferensi pers Program Pendampingan Gizi 2025 Nestle di Jakarta Selatan, Rabu (4/3/2026).
Menurut Ali, kondisi underweight merujuk pada anak dengan berat badan lebih rendah dibandingkan berat badan menurut usianya.
Status gizi ini biasanya dapat dilihat melalui kurva pertumbuhan anak yang digunakan dalam pemantauan di posyandu.
Perbedaan underweight, stunting, dan wasting
Dalam penilaian status gizi anak, terdapat beberapa indikator yang umum digunakan, yaitu underweight, stunting, dan wasting.
Underweight merupakan kondisi ketika berat badan anak lebih rendah dibandingkan dengan standar berat badan menurut umur.
Sementara itu, stunting terjadi ketika tinggi badan anak lebih rendah dari standar tinggi badan menurut usia.
Adapun wasting adalah kondisi ketika berat badan anak terlalu rendah dibandingkan dengan tinggi badannya.
“Wasting itu kalau berat badan menurut tinggi badannya kurang. Tapi mayoritas yang masuk di dalam program ini adalah anak-anak underweight, yang berat badannya kurang menurut umurnya,” jelas Ali.
Ia menambahkan bahwa pemantauan status gizi anak biasanya dilakukan secara rutin di posyandu melalui pengukuran berat badan dan tinggi badan.
Perlu ditangani sejak dini
Guru Besar Pangan dan Gizi IPB University Prof. Ali Khomsan dalam acara konferensi pers Program Pendampingan Gizi 2025 Nestle di Jakarta Selatan, Rabu (4/3/2026).
Ali menjelaskan bahwa anak dengan status gizi underweight perlu segera mendapatkan penanganan agar tidak berkembang menjadi masalah gizi yang lebih serius.
Jika kondisi ini tidak diatasi, anak berisiko mengalami gangguan pertumbuhan yang lebih sulit ditangani, termasuk stunting.
“Stunting itu kalau sudah menimpa seorang anak, proses intervensinya akan lebih panjang lagi,” kata Ali.
Maka dari itu, upaya pencegahan perlu dilakukan sedini mungkin melalui pemantauan pertumbuhan anak serta intervensi gizi yang tepat.
Cara menangani anak underweight
Menurut Ali, anak dengan berat badan kurang biasanya dapat diketahui melalui pemantauan pertumbuhan menggunakan kurva pertumbuhan anak.
Jika ditemukan berat badan anak tidak sesuai dengan usianya, kondisi tersebut perlu segera ditangani agar tidak berkembang menjadi masalah gizi yang lebih berat.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah pemberian makanan tambahan untuk membantu meningkatkan status gizi anak.
Ali menjelaskan bahwa kondisi underweight yang masih ringan sering kali belum mendapatkan penanganan khusus di masyarakat.
Namun, jika kondisi tersebut sudah masuk kategori severe underweight atau berat badan sangat kurang, biasanya akan dilakukan intervensi gizi secara lebih intensif.
“Kalau sudah severe underweight, biasanya puskesmas akan turun tangan memberikan intervensi selama sekitar tiga bulan,” jelasnya.
Dengan penanganan yang tepat sejak dini, anak dengan status gizi underweight diharapkan dapat kembali mencapai pertumbuhan yang optimal sekaligus mencegah terjadinya stunting di kemudian hari.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang