Raksasa Logistik Lakukan PHK Massal di 2025, 48.000 Karyawan Jadi Korban
Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali mengguncang dunia korporasi global. Kali ini datang dari United Parcel Service (UPS), raksasa logistik asal Amerika Serikat yang baru saja mengumumkan pemangkasan 48.000 posisi hanya dalam sembilan bulan pertama tahun 2025.
Langkah ini menjadi salah satu PHK terbesar di sektor logistik dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah kondisi pasar yang tidak pasti dan penurunan harga saham, keputusan ini dianggap sebagai bagian dari strategi besar UPS untuk bertahan hidup, meski bagi puluhan ribu karyawannya, keputusan ini membuat mereka kehilangan pekerjaan.
Dalam laporan resminya, UPS yang berbasis di Atlanta menyatakan bahwa total 48.000 posisi telah dipangkas sejak awal tahun. Dari jumlah tersebut, 14.000 posisi berasal dari level manajemen, sementara sekitar 34.000 lainnya berasal dari tenaga operasional, yakni para pekerja yang terlibat langsung dalam kegiatan logistik dan layanan pengiriman harian.
Ketika diminta konfirmasi, pihak UPS hanya merujuk pada pernyataan resmi yang menegaskan bahwa semua pemangkasan tersebut sudah terjadi. Artinya, keputusan ini bukan rencana masa depan, tetapi langkah nyata yang sudah dijalankan.

Perusahaan menjelaskan, pemangkasan dilakukan sebagai bagian dari upaya menyeluruh untuk mengurangi biaya dan menyesuaikan diri dengan perubahan dinamika pasar. Langkah ini juga dilakukan untuk merespons tekanan investor terhadap penurunan harga saham UPS yang telah anjlok lebih dari 20 persen sepanjang 2025.
PHK massal ini diumumkan bersamaan dengan laporan keuangan kuartal ketiga UPS. Dalam periode tiga bulan yang berakhir pada 30 September, UPS mencatat pendapatan konsolidasi sebesar US$21,4 miliar atau setara Rp353 triliun dan laba per saham sebesar US$1,74 sekitar Rp28.710.
Meski angka tersebut sedikit turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni US$22,2 miliar dan US$1,76 per saham, hasil ini tetap melampaui ekspektasi Wall Street. Tak heran, harga saham UPS langsung naik lebih dari 7 persen setelah laporan tersebut dirilis.
Namun di balik kenaikan sesaat itu, ada realitas pahit, di mana ribuan pekerja kehilangan pekerjaan mereka. Bahkan, jumlah PHK kali ini jauh melampaui rencana UPS sebelumnya.
Pada April lalu, perusahaan hanya berencana memangkas 20.000 karyawan dan menutup 73 gedung operasional. Kini, angka itu melonjak dua kali lipat, di mana 93 gedung sudah ditutup sepanjang tahun 2025.
Upaya efisiensi besar ini telah menghemat biaya sekitar US$2,2 miliar atau setara Rp36,3 triliun selama sembilan bulan pertama tahun ini, dan UPS menargetkan total penghematan US$3,5 miliar (sekitar Rp57,75 triliun) hingga akhir 2025.
“Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh karyawan UPS atas dedikasi dan komitmen mereka dalam melayani pelanggan kami. Kami sedang menjalankan perubahan strategis terbesar dalam sejarah perusahaan, dan langkah-langkah yang kami ambil dirancang untuk memberikan nilai jangka panjang bagi semua pemangku kepentingan," ungkap CEO UPS, Carol Tomé, sebagaimana dikutip dari Newsweek, Rabu, 29 Oktober 2025.
"Dengan pengiriman di musim liburan yang semakin dekat, kami siap menjalankan periode puncak paling efisien dalam sejarah kami sambil tetap memberikan layanan terbaik kepada pelanggan untuk tahun kedelapan berturut-turut.”
Meskipun bernada optimistis, pernyataan ini tidak mampu meredakan kekhawatiran publik terhadap arah kebijakan UPS. Banyak pihak menilai, langkah efisiensi ini menunjukkan tanda-tanda perlambatan permintaan global dan tantangan struktural di industri logistik.
Untuk kuartal keempat, UPS memperkirakan pendapatan konsolidasi sekitar US$24 miliar atau ekitar Rp396 triliun, turun dari US$25,3 miliar tahun lalu. Proyeksi ini menunjukkan tekanan pasar masih akan berlanjut hingga akhir tahun.
UPS sendiri menyatakan akan terus meninjau jaringan udara dan daratnya untuk mengidentifikasi gedung-gedung tambahan yang bisa ditutup demi menjaga efisiensi.