NASA Lakukan PHK Massal di Tengah Shutdown AS, Pastikan Misi Luar Angkasa Tetap Jalan
Badan Penerbangan dan Antrarika Nasuonal milik pemerintah Amerika Serikat (AS), NASA, mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK). Keputusan tersebut terjadi di tengah penutupan pemerintah (government shutdown) yang resmi berlaku sejak 1 Oktober 2025.
NASA akan merumahkah sekitar 15.000 pegawai imbas menghentikan sebagian besar aktivitas yang sudah lebih dulu tertekan akibat pemangkasan anggaran dan gelombang PHK. Tersisa lebih dari 3.000 pegawai tetap bekerja selama masa shutdown AS atau dua kali lebih banyak dibandingkan rencana darurat sebelumnya.
Di tengah keterpurukan ini, NASA menengaskan tetap menjalakan misi Artemis, yakni mengembalikan astronot ke bulan untuk pertama kalinya dalam 50 tahun. Berbeda dengan sektor lain yang lumpuh, proyek ini mendapatkan pengecualian khusus dari pemerintah karena dianggap sebagai prioritas keamanan nasional.
Sebagian besar pekerja yang tersisa akan fokus pada persiapan misi tersebut tepatnya pada proses penerbangan uji berawak mengelilingi bulan yang dijadwalkan lepas landas paling cepat pada Februari 2026. Misi ini dianggap krusial untuk memastikan keselamatan sebelum tahap pendaratan di bulan.
Astronot mendarat di Bulan.
“Kami berharap tetap bisa melanjutkan progres Artemis II meski terjadi shutdown," ujar Wakil Administrator Eksplorasi Sistem NASA, Lakiesha Hawkins, dikutip dari Indian EXpress pada Selasa, 7 Oktober 2025.
NASA juga merencana pengerjaan Artemis III, yaitu misi pendaratan di bulan pertama sejak era Apollo. Misi ini ditargetkan rampung pada tahun 2027 dan menjadi tonggak sejarah bagi AS dalam memperkuat dominasinya di luar angkasa, terutama di tengah meningkatnya rivalitas dengan Tiongkok.
Meski mendapat bantuan dana sebesar US10 miliar untuk pertama kalinya di pemerintahan Trump, NASA menghadapi ancaman pemangkasan anggaran besar-besaran. Gedung Putih mengusulkan pemotongan hingga 50 persen untuk program sains dan penurunan total anggaran lembaga sebesar 24 persen.
Kondisi ini dikhawatirkan akan memperlambat inovasi di bidang penelitian antariksa lainnya. Meskipun demikian, NASA bekomitmen untuk melanjutkan proyek besar tersebut.