Kabasarnas: Tim SAR Bencana Aceh–Sumatera Mulai Alami Kelelahan Ekstrem
Kepala Badan SAR Nasional (Kabasarnas) Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengungkapkan bahwa tim SAR gabungan yang telah bertugas selama tujuh hari nonstop dalam operasi tanggap darurat bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, mulai mengalami kondisi kelelahan ekstrem.
Menurut Kabasarnas, tim SAR gabungan telah bertugas di lokasi bencana sejak 25 November 2025, secara nonstop dalam situasi medan berat, komunikasi terputus, dan cuaca ekstrem, sehingga membutuhkan stamina ekstra.
"Jadi anggota SAR mengalami tantangan tersendiri pada saat mereka disebar di beberapa titik, mereka harus berjalan kaki di situasi kondisi terisolir, tidak bisa komunikasi, dan disitu pada saat tiga hari sebenarnya mereka sudah mengalami ekstra kelelahan," kata Kabasarnas saat menghadiri rapat dengan Komisi V DPR RI di Komplek Parlemen, Senin, 1 Desember 2025.
Kepala Basarnas (Kabasarnas) Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii
Bahkan, kata Kabasarnas, banyak petugas SAR sudah bertugas lebih dari 72 jam tanpa jeda ketika banjir bandang dan longsor terjadi secara bersamaan, terutama di Agam dan Tapanuli Selatan.
Basarnas kemudian menambah pasukan cadangan menggunakan KN Ganesha dari Jakarta dan Kantor SAR Pekanbaru untuk menggantikan personel yang sudah kelelahan di Aceh dan Sumatera Barat.
Sementara di Sumatera Utara, beban kerja meningkat karena banyaknya desa terisolasi yang hanya dapat dijangkau dengan helikopter, sehingga tim harus melakukan evakuasi udara berkali-kali dalam sehari.
Syafii menyatakan bahwa keselamatan penyelamat/rescuer tetap menjadi prioritas utama, dan rotasi tim mulai dilakukan secara berkala untuk menjaga kualitas operasi dan menghindari kecelakaan.
"Dukungan berbagai pihak terus mengalir agar operasi kemanusiaan ini dapat berjalan optimal hingga seluruh korban ditemukan," cetusnya
Pusat Pengendalian Operasi Basarnas mencatat total 33.620 warga terdampak, 447 korban meninggal dan 399 orang masih hilang. Dari jumlah tersebut hingga hari ini sebanyak 33.173 orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.
Dalam kesempatan operasi yang sama di Provinsi Aceh, Basarnas mengevakuasi 1.146 warga, dimana 102 meninggal dunia dan 116 masih dalam pencarian. Sebanyak 165 personel Basarnas diterjunkan untuk memperkuat Kantor SAR Banda Aceh.
Wilayah Sumatera Utara mencatat kondisi darurat paling luas, dengan 3.029 warga terdampak, 217 meninggal, dan 168 masih hilang. Basarnas mengerahkan helikopter, kapal, drone, perahu karet, dan 121 personel untuk mendukung operasi.
Di Sumatera Barat, 29.445 warga terdampak dan 128 meninggal dunia. Operasi difokuskan pada desa-desa terisolasi serta lokasi longsor besar yang menyulitkan akses tim penyelamat menuju titik pencarian.