Profil dan Harta Kekayaan Sherly Tjoanda

Sherly Tjoanda, Maluku Utara, profil Sherly Tjoanda, Benny Laos, Gubernur Maluku Utara, harta kekayaan, profil sherly tjoanda, Profil dan Harta Kekayaan Sherly Tjoanda

Nama Sherly Tjoanda, Gubernur Maluku Utara, menjadi sorotan publik setelah Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) menyebut adanya izin sejumlah perusahaan tambang yang diduga terbit setelah ia menjabat gubernur.

Temuan itu memicu spekulasi bahwa Sherly memiliki konflik kepentingan dalam bidang usaha ekstraktif.

Namun, dalam program ROSI yang tayang di KompasTV, Kamis (20/11/2025), Sherly Tjoanda membantah keras tudingan tersebut.

Ia menegaskan seluruh perizinan perusahaan tambang yang dimilikinya sudah terbit sebelum dia menjadi gubernur.

“Faktanya itu tidak ada (izin tambang baru), bisa dibuka di kementerian, bisa dilihat. Kalau di OSS itu jelas, kapan izin itu diberikan…tidak ada perizinan yang baru keluar,” ujar Sherly, seperti dikutip Kompas.com.

Sherly menegaskan informasi perizinan tambangnya merupakan data publik yang dapat diverifikasi langsung melalui sistem OSS dan kementerian terkait.

“Semua perizinan itu sudah ada sebelum saya menjadi gubernur…jadi bisa dicek saya berbohong apa tidak,” tambahnya.

Menutup pernyataannya, Sherly menegaskan bahwa latar belakangnya sebagai ibu rumah tangga, membuatnya tak terpikir melakukan manuver politik atau bisnis yang rumit.

“Otak saya enggak sampai untuk sesuatu yang terlalu ribet…Saya tidak berencana kehilangan kebebasan saya. Saya bersyukur apa yang saya miliki lebih dari cukup,” ujarnya.

“Hidup saya sederhana. Waktu yang saya punya saya konversikan untuk membangun Maluku Utara,” imbuhnya.

Simak selanjutnya profil Sherly Tjoanda berikut.

Profil Sherly Tjoanda

Sherly Tjoanda lahir di Ambon pada 8 Agustus 1982. Sehingga, ia saat ini berusia 43 tahun.

Namanya banyak disorot publik ketika ia menggantikan posisi suaminya, Benny Laos, menjadi Gubernur Maluku Utara.

Benny meninggal dunia dalam kecelakaan perahu cepat pada 12 Oktober 2024.

Pada Pilkada 2025, Sherly bersama Sarbin Sehe memenangkan pemilihan daerah dengan 359.416 suara, berdasarkan rekapitulasi KPU Maluku Utara.

Saat ini, Sherly tercatat sebagai kader Partai Demokrat.

Sherly diketahui sempat menempuh pendidikan di SMA Kristen Petra 2 Surabaya, kemudian pindah ke SMA Katolik Swastiastu Denpasar.

Selanjutnya, ia melanjutkan pendidikan di Universitas Kristen Petra Surabaya untuk mengambil jurusan International Business Management.

Sebelum menikah dengan Benny pada 28 Mei 2005, ia melanjutkan studi dalam program double degree di Inholland University, Belanda dan lulus pada 2004.

Di dunia sosial, Sherly memimpin Yayasan Bela Peduli, yang bergerak untuk memberi bantuan bagi anak yatim dan masyarakat kurang mampu.

Sementara di sektor pertanian, ia menjabat sebagai Ketua DPD HKTI Maluku Utara.

Harta kekayaan Sherly Tjoanda

Setelah dilantik, Sherly menyerahkan LHKPN dengan nilai harta mencapai Rp 972,1 miliar setelah dikurangi utang.

  • Bidang tanah dan bangunan bernilai Rp 201 miliar
  • Kendaraan mewah warisan, seperti mobil Land Rover R Rover Tahun 2019 (Rp 3 miliar), Lexus Tahun 2023 (Rp 2,6 miliar), Toyota Alpard (Rp 241,3 miliar), Kawasaki Tahun 1900 (Rp 115 miliar), Hummer Jeep Tahun 1900 (Rp 1,2 miliar)
  • Surat berharga Rp 262 miliar
  • Kas dan setara kas Rp 236 miliar
  • Harta lainnya Rp 234,2 miliar

Dalam program ROSI, Kamis (20/11/2025), Sherly mengaku memiliki lima perusahaan tambang yang beroperasi di Maluku Utara.

Namun, ia menegaskan telah melepaskan diri dari seluruh jabatan struktural sebelum dilantik sebagai gubernur pada 20 Februari 2025.

“Sebelum saya dilantik, saya sudah melepaskan kepengurusan saya yang saya aktif di semua PT yang saya miliki,” kata Sherly.

Kini, ia hanya tercatat sebagai pemegang saham pasif.

“Saya tidak terlibat dalam rapat direksi atau pengambilan keputusan, seluruh operasional diserahkan pada profesional,” ujarnya.

Menurut catatan JATAM, Sherly memiliki lima bisnis keluarga berupa perusahaan tambang yang beroperasi di wilayah Maluku Utara, yaitu:

  • PT Karya Wijaya (nikel – Gebe)
  • PT Bela Sarana Permai (pasir besi – Wooi Obi)
  • PT Amazing Tabara (emas)
  • PT Indonesia Mas Mulia (emas)
  • PT Bela Kencana (nikel)

“Semua izin pertambangan saya itu 2020 ke bawah. Mungkin 2018, 2020, mungkin ada 2022, saya enggak hafal. Tapi, intinya tidak ada perizinan yang baru keluar,” jelas Sherly dalam program ROSI.

Ia kemudian memastikan bahwa tidak akan bisa menggunakan kekuasaannya untuk melindungi perusahaannya.

“Sebagai gubernur, jika saya mau melindungi perusahaan, saya juga tidak punya otoritas untuk itu. Kita gubernur tidak memiliki otoritas yang absolut. Izin bukan kita yang keluarkan, kerusakan lingkungan, penutupan dan tidak tutup itu bukan kita,” bebernya.

Menurutnya, Kementerian ESDM bisa mengutus siapa saja untuk turun mengecek, menyegel, dan menghentikan aktivitas perusahaan tambang tanpa persetujuan gubernur.

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "" dan di Tribunnews.com dengan judul “Profil Sherly Tjoanda, Gubernur Malut Akui Punya 5 Perusahaan Tambang, Hartanya Rp972 Miliar”.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.