Sejarah Kelam Lokalisasi Dolly Surabaya, Ada Sejak Zaman Kolonial Belanda

Nama Dolly sudah lama melekat sebagai simbol dunia prostitusi di Surabaya. Kawasan yang terletak di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, ini pernah tercatat sebagai lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara, dengan ratusan wisma, ribuan pekerja seks, dan ekonomi bawah tanah yang begitu masif.
Namun, jejak Dolly tak hanya soal gemerlap lampu malam dan deretan wisma.
Di baliknya, tersimpan sejarah panjang sejak masa kolonial Belanda hingga akhirnya ditutup pemerintah pada 18 Juni 2014.
Artikel ini merunut kembali sejarah Dolly berdasarkan buku Dolly Pasca Penutupan"karya Danty Indra Puspitaningtyas, serta buku Pusat Data dan Analisa Tempo "Menutup Dolly".
Dari Makam Tionghoa Hingga Munculnya Tante Dolly
Dalam buku Dolly Pasca Penutupan, disebutkan bahwa kawasan Gang Dolly sudah ada sejak abad ke-19, jauh sebelum berubah menjadi lokalisasi.
Menurut Purnomo dan Siregar (1982) dalam National Geographic Indonesia (2014), kawasan itu awalnya merupakan kompleks makam Tionghoa yang juga berbatasan dengan makam Islam di Putat Gede.
an, sebagian besar makam dibongkar dan dijadikan pemukiman padat penduduk. Dari sinilah babak baru Dolly dimulai.
Sekitar tahun 1967, muncul seorang mantan pekerja seks berdarah Jawa–Filipina bernama Dolly Khavit, atau lebih dikenal sebagai Tante Dolly. Ia menikah dengan seorang pelaut Belanda dan mendirikan rumah bordil pertama di Jalan Kupang Gunung Timur I.
Versi lain menyebutkan, nama Dolly berasal dari Dolly van der Mart, perempuan keturunan Belanda yang membuka wisma berisi perempuan-perempuan cantik untuk melayani tentara Belanda.
Pelayanan yang diberikan dianggap memuaskan sehingga para tentara kembali datang dan membuat lokasi itu semakin dikenal.
“Pelayanan yang diberikan pada waktu itu memuaskan sehingga hal ini membuat para tentara kembali lagi ke wisma tersebut,” tulis Danty dalam bukunya.
Kabar itu lalu menyebar ke masyarakat pribumi. Penduduk sekitar yang penasaran mulai berdatangan. Wisma-wisma baru bermunculan, dan kawasan itu akhirnya dikenal sebagai Gang Dolly.
Etalase Manusia di Balik Kaca
Gang Dolly berdiri di Jalan Kupang Gunung Timur
Seiring waktu, usaha prostitusi berkembang pesat. Wisma semakin meluas hingga mencapai sebagian Jalan Jarak, yang kelak ikut terkenal sebagai bagian dari kompleks Dolly.Para pekerja seks dipajang di balik kaca bening seperti etalase, sehingga para lelaki yang datang bisa memilih dengan siapa mereka ingin ditemani.
Sistem ini meniru praktik zona merah di beberapa negara Eropa.
Ekonomi Dolly pun bergerak cepat. Ratusan usaha ikut tumbuh: kos-kosan, warung, laundry, jasa keamanan, hingga hiburan malam.
Namun, dampak negatifnya juga membesar. Menurut berbagai studi, kawasan tersebut turut menyumbang peningkatan kasus HIV/AIDS di Surabaya dan memunculkan kerentanan sosial bagi anak-anak di sekitarnya.
Penutupan oleh Risma: Akhir Sebuah Era
Pada 18 Juni 2014, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini secara resmi menutup Lokalisasi Dolly. Kebijakan ini menuai pro-kontra, tetapi menjadi tonggak penting dalam penataan sosial kota Surabaya.
Sejak penutupan itu, kawasan Dolly digencarkan sebagai kampung UMKM, kampung tematik, serta area pemberdayaan ekonomi warga.
Namun demikian, sejumlah operasi kepolisian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan masih adanya praktik prostitusi terselubung di sejumlah gang Putat Jaya.
Jejak Sosok Dolly, Makam Sepi di Kota Malang
Kawasan Dolly di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya, saat ini sudah berubah wajah setelah dulunya dikenal sebagai kawasan prostitusi atau tempat hiburan malam.
Dalam buku Pusat Data dan Analisa Tempo, “Menutup Dolly”, sosok pendiri Dolly diceritakan lebih dalam.Dolly, yang memiliki nama lengkap D.A. Chavid (Dolly Advonco Chavid), dimakamkan di Tempat Pemakaman Nasrani Sukun, Kota Malang. Makamnya berada di baris keempat sebelah kiri dari pintu masuk.
“Hijau tumbuh liar di pusara makam D.A. Chavid,” tulis Tempo menggambarkan suasana makam.
Di batu nisannya tertulis bahwa Dolly lahir 15 September 1929 dan meninggal 7 Januari 1992.
Ia dikenal warga Malang dengan sebutan Mama Dolly.
“Tubuhnya gemuk. Saya yang menggotong jenazahnya,” kata seorang penjaga makam pada 19 Juni 2014.
Dolly menghabiskan masa tuanya di Kelurahan Kemirahan, Malang, tinggal bersama anaknya, Edduar Soukup Eddy. Namun, setelah Eddy meninggal pada 25 Januari 1998, makam itu jarang lagi dikunjungi keluarga.
“Sekarang jarang ada yang berziarah,” kata Kasemin, juru kunci makam tersebut.
Hanya Yudi, cucu Dolly yang memeluk Islam, yang rutin datang berziarah menjelang bulan puasa.
Meski sudah lebih dari satu dekade ditutup, nama Dolly tetap hidup dalam ingatan publik.
Sejarahnya yang kompleks dari eks-makam, wisma kolonial, etalase manusia, hingga penutupan dramatis menjadikannya salah satu bab penting dalam sejarah sosial Surabaya.
Kawasan itu kini terus berupaya membangun citra baru, namun kisah masa lalunya tetap menjadi catatan penting tentang urbanisasi, ekonomi gelap, dan perubahan sosial di Indonesia.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.