Saat Proklamasi Dibacakan dalam Bahasa Madura di RRI Surabaya, Cara Cerdik Arek Suroboyo Menipu Jepang

— Ketika berita kemerdekaan Indonesia dikumandangkan oleh Soekarno dan Hatta di Jakarta pada 17 Agustus 1945, gaungnya tak langsung terdengar di seluruh penjuru negeri.
Namun, di Surabaya, semangat kemerdekaan justru menyala lewat cara unik dan berani yakni proklamasi dibacakan dalam bahasa Madura melalui Radio Surabaya.
Peristiwa ini tercatat dalam buku "Surabaya 1945: Sakral Tanahku", yang menggambarkan bagaimana arek-arek Suroboyo, dengan kecerdikan dan keberanian, berhasil menipu sensor militer Jepang yang masih mengawasi ketat setiap siaran radio.
Jepang Menyerah, Indonesia Bersiap Merdeka
Pada Agustus 1945, situasi di Indonesia tengah bergolak. Jepang baru saja kalah perang setelah pengeboman Hiroshima dan Nagasaki oleh Sekutu. Namun, meski sudah menyerah, pasukan Jepang di Indonesia masih memegang kendali dan berusaha mempertahankan pengaruhnya.
“Bahkan dalam keadaan kalah perang dan telah menyerah, Jepang terus berusaha memanfaatkan kemerdekaan Indonesia untuk menggebuk Barat,” tulis Wehl dalam catatannya, sebagaimana dikutip dalam buku tersebut.
Jepang disebut masih berusaha mengendalikan arah politik Indonesia.
Sementara itu, di Surabaya, rakyat dan para pemuda sudah tak sabar menantikan kabar kemerdekaan dari Jakarta. Mereka bersiap, bahkan sebagian mulai merebut senjata dari tangan Jepang yang kini tak lagi ditakuti.
Ketegangan di Surabaya Menjelang Proklamasi
Situasi di Surabaya kala itu sangat tegang. Jepang mengumumkan pembubaran Pembela Tanah Air (PETA) pada 22 Agustus 1945, hanya beberapa hari setelah proklamasi dikumandangkan di Jakarta.
Keputusan itu memicu kekecewaan dan kemarahan, karena PETA dianggap sebagai kekuatan inti untuk mempertahankan kemerdekaan.
“Para veteran menyebut langkah ini licik dan penuh tipu muslihat,” tulis penulis buku tersebut.
PETA dan Heiho di Surabaya mulai menyusun rencana untuk merebut kembali senjata dari tangan Jepang.
Abdulgani, salah satu tokoh pergerakan di Surabaya, menyebut bahwa rakyat semakin berani menantang Jepang.
Mereka menolak perintah larangan berkumpul yang ditempel oleh Kempeitai di dinding-dinding kota, bahkan merobek poster larangan itu sambil meneriakkan "Indonesia Merdeka!".
Siaran Rahasia: Proklamasi Dibacakan dalam Bahasa Madura
Puluhan arek Suroboyo memberikan penghormatan usai bendera perobekan bendera dan menghormat pada bendera merah putih.
Di tengah ketegangan itu, staf Radio Surabaya memutar otak. Mereka ingin mengumumkan berita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia kepada rakyat, tetapi studio mereka masih diawasi oleh Kempeitai, polisi militer Jepang, serta petugas sensor yang fasih berbahasa Indonesia.Malam itu, Sabtu, 18 Agustus 1945, pukul 19.00, Djakfar Brotoatmodjo, pembaca berita di Radio Surabaya, menemukan cara yang jenius.
Ia memulai siaran dengan 15 kali dentang gong gamelan Jawa sebagai tanda pembuka, lalu membacakan berita proklamasi dalam bahasa Madura.
Langkah ini sukses besar. Para sensor Jepang tak mengerti bahasa Madura, sehingga mereka tak menyadari bahwa yang dibacakan Djakfar adalah pengumuman kemerdekaan Indonesia.
Malam itu juga, kabar bahwa Indonesia telah merdeka menyebar cepat ke jalan-jalan dan kampung-kampung Surabaya. Keesokan harinya, para pedagang asal Madura yang berkeliling kota ikut menyiarkan kabar gembira itu kepada masyarakat.
Berita kemerdekaan akhirnya menyebar luas tanpa harus melalui peluru atau ledakan, melainkan melalui bahasa rakyat yang cerdas dan penuh keberanian.
Surabaya Menyala, Semangat Arek-Arek Berkobar
Surabaya yang sejak awal sudah dikenal sebagai kota para pemberani, semakin bergolak setelah kabar proklamasi menyebar. Arek-arek Suroboyo menyerang markas-markas Jepang, merebut senjata, dan mengibarkan Merah Putih di berbagai penjuru kota.
Sejarawan mencatat, pada masa itu hampir semua penduduk Surabaya telah mendengar berita kemerdekaan hanya dalam waktu satu hari.
Tentara Jepang yang tadinya sombong mendadak kehilangan semangat. “Mereka terlihat pucat pasi dan tak berdaya,” tulis Abdulgani dalam kesaksiannya.
Jepang yang dulu ditakuti kini menjadi bahan ejekan.
“Penduduk Plampitan mengejek Jepang yang dahulunya pongah, tapi sekarang menyerah tanpa perlawanan sama sekali,” kenang Abdulgani. Ia bahkan menyebut kekalahan Jepang sebagai “pernyataan kalah yang paling aneh dalam sejarah.”
Peristiwa proklamasi dalam bahasa Madura di Radio Surabaya bukan sekadar anekdot sejarah. Ia menunjukkan kecerdikan dan keberanian arek-arek Suroboyo yang menggunakan bahasa daerah sebagai alat perjuangan untuk menyebarkan kabar kemerdekaan.
Dari sebuah siaran sederhana pada malam 18 Agustus 1945, Surabaya menjadi kota pertama di luar Jakarta yang dengan cepat mengetahui dan menyebarkan berita proklamasi ke seluruh rakyatnya.
Kini, setiap 10 November, Hari Pahlawan, kisah ini menjadi pengingat bahwa perjuangan tidak selalu dilakukan dengan senjata. Kadang, bahasa lokal seperti bahasa Madura bisa menjadi peluru yang paling ampuh untuk melawan penjajahan dan menyebarkan kemerdekaan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.