Amran Ungkap Cara Mafia Mainkan Harga Pangan hingga Untung Ratusan Miliar Per Hari
Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, blak-blakan soal cara para mafia pangan yang berkomplot untuk memainkan harga-harga barang kebutuhan pokok masyarakat, dan meraup keuntungan jumbo dari praktik kotornya tersebut.
Hal itu diungkapkannya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2025, yang digelar secara virtual bersama Kementerian Dalam Negeri, Badan Pusat Statistik (BPS), dan para stakeholder terkait lainnya.
Dia mencontohkan kasus yang terjadi pada komoditas minyak goreng, yang sempat mengalami kelangkaan beberapa waktu lalu.
Sebagai produsen minyak goreng skala global yang telah mengekspor hingga 26 juta ton ke Amerika Serikat (AS) maupun Eropa, kelangkaan minyak goreng yang sempat terjadi di Tanah Air itu menurut Amran merupakan sebuah anomali luar biasa yang tidak masuk di akal.
"Minyak goreng di Indonesia pernah langka, padahal kita produsen terbesar di dunia yang menyuplai hingga ke Amerika dan Eropa. Tapi barangnya langka, ini kan anomali," kata Amran, Selasa, 4 November 2025.
Minyak goreng di pasar tradisional Ciledug.
"Dan ini lebih ekstrem lagi, bukan lagi disparitas (harga), tapi barangnya hilang. Nah, ini tidak boleh lagi terjadi ke depannya," ujarnya.
Amran menegaskan bahwa hal itu terjadi karena ulah sejumlah mafia, yang berkomplot untuk kongkalikong memainkan harga komoditas tersebut. Bahkan, Dia pun membongkar bahwa praktik yang dilakukan para mafia untuk mempermainkan harga komoditas itu sebenarnya sangat sederhana.
"Karena ada orang-orang tertentu yang sengaja mempermainkan (harga). Kami pernah mendapati bahwa mereka ini hanya bermodal sms-an untuk naikkan Rp 1.000 (per liter/kg), dan itu mereka bisa untung sampai ratusan miliar per hari," kata Amran.
Karenanya, Dia pun memastikan bahwa anomali-anomali yang kerap terjadi pada harga dan pasokan berbagai komoditas pangan di Indonesia saat ini, umumnya bukan karena kendala di sisi produksinya. Melainkan biasanya justru berasal dari masalah distribusi, dan permainan kotor para mafia pangan di lapangan.
BULOG menggelontorkan beras SPHP secara serentak di seluruh Indonesia
"Nah, ini yang jadi anomali pasar kita. Bukan karena produksi sebagaimana yang diributkan banyak orang, yang menyebut penyebabnya karena tidak ada produksi," ujar Amran.
Tak hanya di komoditas beras atau minyak goreng, anomali berupa disparitas harga pangan di berbagai wilayah Indonesia juga terjadi karena masalah distribusi. Data Kantor Sekretariat Presiden (KSP) bahkan mencatat,bada harga daging ayam ras yang menyentuh hingga Rp 70 ribu per kg sementara di wilayah lain berkisar di angka Rp 40-Rp 50 ribu per kg.
Karenanya, lanjut Amran, Kementan pun berterima kasih pada kinerja pengawasan Kementerian Dalam Negeri dan para Kepala Daerah/Bupati, yang bekerja sama melakukan pemantauan harga-harga pangan di wilayahnya masing-masing. Sehingga, berbagai kendala dan anomali di pasar bisa diketahui sesegera mungkin oleh pemerintah.
"Tadi sudah disebutkan bahwa harga ayam di Lampung Selatan Rp 19 ribu per kg. Tapi tadi dari pihak KSP dijelaskan bahwa ada daerah yang harganya sampai Rp 70 ribu per kg. Nah, ini kan anomali yang harus segera diketahui dan diselesaikan oleh pemerintah," kata Amran.
"Untungnya ada Pak Mendagri dan para Bupati yang memantau inflasi tiap minggu. Ini sangat menolong kami di sektor pertanian karena membantu membuka data," ujarnya.