Amran Ungkap Peredaran 72 Ton Bawang Bombai Impor Ilegal Mengandung OPTK Berbahaya

Mentan Andi Amran Sulaiman
Mentan Andi Amran Sulaiman

Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, mengungkap peredaran 72 ton bawang bombai impor ilegal berorganisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK), di wilayah Jawa Timur.

Amran yang juga menjabat Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) itu menegaskan, tidak ada toleransi terhadap praktik impor pangan secara ilegal, karena itu akan mengganggu semangat dalam mewujudkan kemandirian pangan bangsa.

"Di saat kami sedang gencar meningkatkan produksi pangan nasional, justru masih ada oknum yang mencoba menyeludupkan beras, bawang, dan komoditas pangan lainnya. Ini tidak bisa ditoleransi dan harus ditindak tegas," kata Amran dalam keterangannya, Rabu, 23 Desember 2025.

Truk berisi bawang bombai

Dia pun meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas dan menindak tanpa kompromi kasus impor gelap bawang bombai di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur tersebut. Karena selain masuk tanpa izin resmi, komoditas tersebut juga terbukti mengandung OPTK yang berpotensi menimbulkan kerusakan besar pada sektor pertanian nasional.

"Setelah dilakukan pemeriksaan, komoditas tersebut terbukti mengandung penyakit yang berpotensi merusak tanaman pertanian di Indonesia," ujar Amran.

Mentan menambahkan, komoditas ilegal tersebut berasal dari Belanda, dan masuk ke Indonesia melalui Malaysia sebelum akhirnya diselundupkan ke dalam negeri. Akhirnya, pengungkapan penyelundupan bawang bombai ilegal tersebut terjadi pada 2 Desember 2025, sekitar pukul 10.00 WIB.

Informasi awal mengindikasikan adanya rencana pengiriman bawang bombai dari Kalimantan menuju Jawa Timur melalui jalur laut. Komoditas tersebut dikirim dari Pelabuhan Kumai, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, dengan tujuan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur.

"Saya percaya Bapak Kapolda Jawa Timur bersama jajaran Ditkrimsus akan menindaklanjuti kasus ini secara serius," ujar Amran.

Mentan membeberkan, total bawang bombai ilegal yang teridentifikasi mencapai 18 kontainer, terdiri atas 14 kontainer yang telah terdeteksi sebelumnya dan tambahan 4 kontainer atau setara dengan kurang lebih 72 ton dalam pengungkapan terbaru.

"Ini termasuk berani sekali masuk di jantung kota Indonesia," ujarnya.