Harga Sayuran Segar Makin Mahal, Inflasi Pangan Jadi Ancaman Baru

Ilustrasi Sayuran organik.
Ilustrasi Sayuran organik.

Lonjakan harga energi global mulai memberikan dampak nyata terhadap kebutuhan pokok masyarakat. Tidak hanya bahan bakar yang semakin mahal, harga pangan terutama sayuran segar juga ikut meroket dan membebani pengeluaran rumah tangga.

Di Kanada, inflasi tahunan pada Maret 2026 naik menjadi 2,4 persen, lebih tinggi dibanding Februari yang berada di level 1,8 persen. Kenaikan ini terutama dipicu oleh melonjaknya biaya bahan bakar akibat perang Iran serta penutupan Selat Hormuz yang mengganggu jalur distribusi energi dunia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Saat ini, tekanan pada sektor pangan justru semakin terasa. Harga makanan yang dibeli dari toko naik 4,4 persen pada Maret, lebih tinggi dibanding Februari yang berada di angka 4,1 persen.

Yang paling mencolok terjadi pada kelompok sayuran segar. Harga sayuran segar tercatat naik 7,8 persen pada Maret 2026, jauh lebih tinggi dibanding Februari yang hanya naik 0,5 persen. Ini menjadi lonjakan terbesar sejak Agustus 2023 ketika harga sayuran naik 8,7 persen.

Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan signifikan antara lain mentimun, paprika, dan seledri. Statistics Canada menyebut kenaikan ini terjadi sebagian karena pasokan yang lebih ketat terkait kondisi pertumbuhan yang buruk di negara-negara produsen.

Artinya, cuaca buruk di negara pemasok membuat pasokan sayuran menjadi lebih terbatas sehingga harga ikut melonjak. Kondisi ini membuat masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk kebutuhan dapur sehari-hari. 

Bahkan harga bahan makanan di restoran juga masih mengalami kenaikan sebesar 3,2 persen pada Maret, meski lajunya lebih lambat dibanding Februari yang sempat melonjak 7,8 persen. Di sisi lain, harga energi juga ikut menekan daya beli masyarakat. Jika pada Februari harga energi turun 9,3 persen, pada Maret justru berbalik naik 3,9 persen.

Harga bensin menjadi pendorong utama inflasi, dengan konsumen membayar 5,9 persen lebih mahal dibanding periode yang sama tahun lalu. Bahkan jika dibandingkan Februari, harga bensin melonjak hingga 21,2 persen.

Analis ritel Bruce Winder mengatakan biaya bahan bakar dan harga pangan memiliki hubungan yang sangat erat. Menurutnya, konflik Timur Tengah telah menyebabkan inflasi transportasi pangan secara langsung.

“Konflik di Timur Tengah menyebabkan inflasi secara langsung pada biaya transportasi untuk makanan,” kata Winder, sebagaimana dikutip dari Global News, Selasa, 21 April 2026.

Biasanya, masyarakat berharap harga pangan akan mulai turun saat musim tanam domestik dimulai. Namun kali ini situasinya berbeda karena harga pupuk global juga ikut melonjak.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Pasar pupuk global juga terguncang akibat konflik di Timur Tengah,” lanjutnya.

Ekonom utama Canadian Chamber of Commerce, Andrew DiCapua, juga mengingatkan bahwa dampak perang Iran dan penutupan Selat Hormuz bisa semakin memperburuk ekspektasi inflasi jika berlangsung lebih lama.