Utang Oracle Membengkak di Tengah Ambisi Besar Infrastruktur AI, Tembus Ratusan Miliar Dolar
Raksasa teknologi asal Amerika Serikat (AS), Oracle, agresif membangun fondasi bisnis kecerdasan buatan (AI). Naas, langkah tersebut berujung lonjakan utang fantastis mencapai ratusan miliaran dolar.
Dikutip dari The Motley Fool pada Kamis, 18 Desember 2025, Oracle mencatat kewajiban kinerja yang tersisa (remaining performance obligations/RPO) atau nilai kontrak yang sudah ditandatangani dengan pelanggan sebesar US$523 miliar atau Rp 8.743,5 triliun (estimasi kurs Rp 16.720 per dolar AS). Namun, pendapatannya baru akan diakui di masa mendatang seiring layanan atau proyek dijalankan.
Dalam kuartal II-2026, Oracle berhasil menambah US$68 miliar kontrak baru, terutama dari kesepakatan penyediaan infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Kliennya mencakup perusahaan besar seperti Meta Platforms dan Nvidia yang membutuhkan pusat data dan komputasi berdaya tinggi.
Kontrak AI ini menuntut Oracle untuk membangun pusat data canggih yang dilengkapi GPU berdaya tinggi sebelum pendapatan dapat diakui. Tuntutan ini mengharuskan Oracle harus mengeluarkan belanja modal dalam jumlah sangat besar di awal.
Ilustrasi Uang
Sementara, arus kas masuk baru akan terealisasi dalam beberapa tahun ke depan. Oracle memasuki boom AI dengan struktur neraca yang sudah sarat utang, dan tekanan tersebut kini semakin meningkat.
Sepanjang enam bulan yang berakhir hingga 30 November 2025, Oracle membukukan arus kas operasional sebesar US$10,2 miliar. Namun, belanja modalnya (Capital Expenditure/capex) mencapai US$20,5 miliar.
Kondisi ini menyebabkan arus kas bebas Oracle berada di posisi negatif US$10,3 miliar. Belanja modal perusahaan melonjak lebih dari tiga kali lipat secara tahunan, mencerminkan betapa agresifnya strategi AI yang dijalankan.
Lonjakan belanja ini juga mempercepat akumulasi utang hingga akhir kuartal II-2025, total utang Oracle naik signifikan dari US$92,6 miliar dari US$108 miliar pada Mei 2025. Pada September 2025, perusahaan bahkan menyelesaikan penerbitan obligasi senilai US$18 miliar untuk menopang kebutuhan pendanaan tersebut.
Utang jumbo ini langsung mendapat respon negatif dari pasar. Saham Oracle melemah setelah perusahaan merilis laporan kinerja kuartal kedua.
Investor mencermati Oracle mampu mengonversi backlog infrastruktur AI yang masif menjadi pendapatan riil dalam beberapa tahun ke depan. Jika berhasil, pertumbuhan pendapatan perusahaan diperkirakan akan melonjak tajam. Namun, biaya awal yang harus ditanggung juga sangat besar.
Risiko lain datang dari ketergantungan pada klien utama. Salah satu kontrak yang disorot adalah kesepakatan infrastruktur AI dengan OpenAI yang dilaporkan bernilai hingga US$300 miliar.
Jika OpenAI kesulitan mengamankan pendanaan atau gagal menghasilkan pendapatan memadai di tengah persaingan AI yang makin ketat, Oracle berpotensi menanggung risiko finansial yang signifikan.
Analis KeyBanc Capital Markets sebelumnya memperkirakan Oracle mungkin perlu menambah utang hingga US$100 miliar dalam empat tahun ke depan. Dana ini untuk membiayai kontrak OpenAI. Menanggapi kekhawatiran tersebut, manajemen Oracle memberikan sinyal lebih optimistis.
“Berdasarkan apa yang kami lihat saat ini, kami memperkirakan akan membutuhkan lebih sedikit, jika tidak jauh lebih sedikit, dana yang dihimpun dibandingkan jumlah tersebut," ujar Co-CEO Oracle, Clay Magouyrk.