Ribuan Karyawan IBM Terancam Kena PHK Massal, Perusahaan Alihkan Fokus ke Bisnis AI

Kantor IBM.
Kantor IBM.

Di tengah gelombang transformasi digital global, perusahaan teknologi raksasa seperti IBM kini berlomba mengoptimalkan bisnis yang memberikan margin keuntungan tinggi. Pergeseran besar dari layanan tradisional ke software berbasis cloud dan kecerdasan buatan (AI) menjadi langkah yang tak terhindarkan. 

Namun, langkah ini juga membawa konsekuensi bagi tenaga kerja yang terdampak restrukturisasi besar-besaran.

IBM, salah satu pemain tertua di industri teknologi dunia, baru saja mengumumkan langkah tegas untuk memangkas ribuan karyawan pada kuartal keempat tahun 2025. Keputusan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya perusahaan untuk memperkuat fokus pada segmen software yang lebih menguntungkan. 

Langkah ini menandai pergeseran yang semakin dalam menuju bisnis berbasis AI dan cloud computing, yang mana dua sektor tersebut kini menjadi primadona di pasar teknologi global.

“Kami secara rutin meninjau tenaga kerja kami dan terkadang melakukan penyeimbangan kembali sesuai kebutuhan,” ujar pihak IBM dalam keterangan resmi sebagaimana dikutip dari The Business Times, Rabu, 5 November 2025.

“Pada kuartal keempat, kami melaksanakan tindakan yang akan berdampak pada persentase satu digit rendah dari total tenaga kerja global kami,” tulisnya. 

IBM diketahui mempekerjakan sekitar 270.000 karyawan hingga akhir 2024, dan langkah pemangkasan ini diperkirakan akan memengaruhi ribuan orang di berbagai negara. Meskipun begitu, IBM menegaskan bahwa jumlah karyawan di Amerika Serikat secara keseluruhan “diperkirakan akan tetap relatif sama dari tahun ke tahun.”

Kebijakan ini sejalan dengan arahan CEO Arvind Krishna, yang dalam beberapa tahun terakhir gencar mengarahkan perusahaan untuk memperkuat lini software, khususnya melalui divisi Red Hat. Divisi ini menjadi ujung tombak IBM dalam memanfaatkan lonjakan permintaan layanan cloud dan adopsi AI di kalangan bisnis.

Namun, tidak semua berjalan mulus. IBM sempat melaporkan perlambatan pertumbuhan pada segmen software berbasis cloud bulan lalu, yang memicu kekhawatiran di kalangan investor. Kondisi ini membuat pasar mempertanyakan kemampuan IBM untuk mempertahankan momentum di tengah persaingan ketat dengan raksasa seperti Microsoft, Amazon, dan Google.

Meski saham IBM telah melonjak lebih dari 35 persen sepanjang tahun 2025, kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) ini sempat menekan harga sahamnya hingga turun sekitar 2 persen pada Selasa, 4 November 2025.

Langkah efisiensi ini bukan hanya soal memangkas biaya, tetapi juga bagian dari upaya IBM untuk menyesuaikan diri dengan arah baru industri teknologi. Fokus utama perusahaan kini adalah mengoptimalkan produk dan layanan dengan margin tinggi, termasuk platform software dan sistem berbasis kecerdasan buatan yang mampu menggerakkan pertumbuhan jangka panjang.

Selain restrukturisasi tenaga kerja, IBM juga terus berinovasi. Baru-baru ini, perusahaan meluncurkan chip Power11, pembaruan besar pertama dari lini “Power” sejak tahun 2020, yang diklaim mampu menyederhanakan pemrosesan AI di berbagai perangkat. 

Upaya ini diharapkan dapat memperkuat posisi IBM di segmen teknologi canggih yang tengah naik daun. Dalam beberapa tahun mendatang, IBM diperkirakan akan terus mengalokasikan investasi besar untuk memperluas portofolio software dan AI-nya, sembari menjaga efisiensi operasional. 

Pengamat menilai langkah tersebut bisa menjadi strategi kunci agar “Big Blue” tetap relevan di era cloud dan kecerdasan buatan yang berkembang pesat. 

Menurut laporan terbaru, kabar mengenai pemangkasan ribuan pekerja ini pertama kali muncul pada Selasa pagi sebelum dikonfirmasi langsung oleh perusahaan. Dengan fokus yang semakin tajam pada AI dan software, masa depan IBM tampaknya akan bergantung pada kemampuan mereka mengimbangi kecepatan inovasi dan efisiensi biaya di tengah lanskap teknologi yang terus berubah.