Meta PHK Massal! Mark Zuckerberg Pecat Ratusan Karyawan di Bidang AI

Kepala Eksekutif Meta Mark Zuckerberg.
Kepala Eksekutif Meta Mark Zuckerberg.

Setelah Amazon dikabarkan akan memangkas 30.000 karyawan, kini giliran Meta. Perusahaan tersebut  mengambil langkah drastis dengan memangkas ratusan pegawai di divisi kecerdasan buatannya. 

Ironisnya, keputusan ini diambil hanya beberapa bulan setelah CEO Mark Zuckerberg melakukan perekrutan besar-besaran dan menggelontorkan dana triliunan rupiah untuk merekrut talenta terbaik di bidang AI.

Langkah terbaru Meta menunjukkan bahwa persaingan di industri kecerdasan buatan semakin ketat, sekaligus memperlihatkan tekanan besar yang dihadapi raksasa teknologi dalam menjaga keseimbangan antara ambisi dan efisiensi. 

Di tengah perlombaan menciptakan AI supercanggih, Meta kini justru harus memangkas sumber daya manusianya demi mempercepat pengambilan keputusan dan merampingkan struktur organisasi.

Menurut laporan Axios, Meta memutuskan untuk memecat sekitar 600 pegawai dari lab Superintelligence, divisi yang dibentuk pada pertengahan 2025 untuk mengembangkan proyek “personal superintelligence”. Kepala Meta AI, Alexandr Wang, menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut. 

“Dengan mengurangi ukuran tim, jumlah percakapan yang diperlukan untuk membuat keputusan akan lebih sedikit, dan setiap orang akan memiliki tanggung jawab serta dampak yang lebih besar,” tulisnya dalam memo internal yang dikutip dari Futurism, Selasa, 28 Oktober 2025.

Meta AI.

Meski begitu, Meta tetap mendorong para pegawai terdampak untuk melamar posisi lain di dalam perusahaan, termasuk di TBD Lab, unit baru yang didirikan bulan lalu untuk mengembangkan model AI generasi berikutnya. 

Meta menegaskan bahwa langkah ini bukan bentuk kemunduran dalam ambisi AI mereka, melainkan bagian dari restrukturisasi agar lebih efisien dan fokus.

Menariknya, keputusan pemangkasan ini terjadi tidak lama setelah Zuckerberg melakukan rekrutmen besar-besaran di awal tahun. Ia dilaporkan menawarkan kontrak senilai hingga US$1 miliar atau setara Rp16,5 triliun untuk menarik talenta AI terbaik. 

Pada Juni lalu, Meta juga membeli 49 persen saham Scale AI senilai US$15 miliar atau setara Rp247,5 triliun, sekaligus menunjuk mantan CEO perusahaan tersebut, Alexandr Wang, sebagai pemimpin divisi AI Meta.

Namun strategi Zuckerberg tampaknya belum menemukan arah yang stabil. Hanya sebulan setelah mendirikan lab Superintelligence, The Wall Street Journal melaporkan bahwa Meta membekukan perekrutan baru di bagaian AI sebagai proses perencanaan organisasi. 

Dalam restrukturisasi tersebut, tim Superintelligence dibagi menjadi empat unit, termasuk TBD Lab dan tim riset keamanan AI yang dikenal sebagai FAIR (Fundamental AI Research), yang kini juga terdampak PHK.

Walau tengah memangkas karyawan, Zuckerberg belum berhenti memburu talenta baru. Ia baru-baru ini merekrut Andrew Tulloch, pendiri Thinking Machines, serta Ananya Kumar, peneliti dari OpenAI. Langkah ini menunjukkan bahwa Meta masih berambisi memperkuat tim AI-nya meski harus melakukan perombakan besar di struktur internal.

Perusahaan juga tetap berinvestasi besar-besaran. Awal pekan ini, Meta mengumumkan kemitraan dengan Blue Owl Capital dalam proyek pusat data AI senilai US$27 miliar atau setara Rp445,5 triliun. Namun di sisi lain, analis memperingatkan adanya potensi “gelembung AI” (AI bubble) yang bisa pecah kapan saja dan mengguncang ekonomi Amerika Serikat.

Pihak eksekutif Meta menegaskan bahwa PHK ini bukan tanda penurunan semangat perusahaan terhadap proyek AI. Menurut mereka, superintelligence tetap menjadi prioritas utama. Meski demikian, keputusan ini memperlihatkan betapa Meta sedang berusaha menyeimbangkan ambisi besar dengan realitas keuangan yang menantang.