PHK Besar-besaran di Cloudflare, Lebih dari 1.000 Karyawan Jadi Korban

Cloudflae
Cloudflae

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri teknologi kembali terjadi. Kali ini, perusahaan infrastruktur internet dan keamanan siber asal Amerika Serikat, Cloudflare, mengumumkan rencana memangkas sekitar 20 persen tenaga kerjanya secara global di tengah masifnya adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Keputusan tersebut diumumkan perusahaan pada Kamis, 7 Mei 2026. Cloudflare menyebut restrukturisasi dilakukan karena perusahaan mulai mengubah cara kerja operasional mereka agar lebih berfokus pada pemanfaatan AI di berbagai lini bisnis.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Langkah ini sekaligus memperlihatkan bagaimana perkembangan AI mulai mengubah struktur tenaga kerja di perusahaan teknologi besar. Bukan hanya soal efisiensi biaya, tetapi juga perubahan cara kerja yang dinilai semakin bergantung pada otomatisasi dan teknologi berbasis AI.

Cloudflare mengungkapkan bahwa mereka akan memangkas lebih dari 1.100 posisi pekerjaan di seluruh dunia. Hingga akhir 2025, perusahaan tercatat memiliki 5.156 karyawan penuh waktu.

Selain itu, Cloudflare memperkirakan akan menanggung biaya restrukturisasi sebesar US$140 juta hingga US$150 juta atau setara Rp2,38 triliun sampai Rp2,55 triliun pada kuartal kedua tahun ini.

Meski melakukan efisiensi besar-besaran, perusahaan justru membukukan kinerja keuangan yang cukup kuat pada kuartal pertama. Cloudflare melaporkan pendapatan sebesar US$639,8 juta atau setara Rp10,87 triliun, melampaui ekspektasi analis yang memperkirakan pendapatan sebesar US$621,9 juta atau sekitar Rp10,57 triliun.

Sementara itu, laba disesuaikan perusahaan tercatat sebesar 25 sen per saham, lebih tinggi dibanding perkiraan pasar yang berada di angka 23 sen per saham.

Namun demikian, proyeksi pendapatan untuk kuartal kedua dinilai sedikit di bawah harapan Wall Street. Cloudflare memperkirakan pendapatan kuartal kedua berada di kisaran US$664 juta hingga US$665 juta atau setara Rp11,28 triliun sampai Rp11,30 triliun.

Angka tersebut sedikit di bawah estimasi analis yang memperkirakan pendapatan mencapai US$665,3 juta atau sekitar Rp11,31 triliun.

Tak lama setelah pengumuman tersebut, saham Cloudflare yang berbasis di San Francisco langsung anjlok sekitar 19 persen dalam perdagangan setelah jam bursa, meski hasil keuangan kuartal pertamanya melampaui ekspektasi.

CEO Cloudflare, Matthew Prince, bersama salah satu pendiri perusahaan, Michelle Zatlyn, menjelaskan bahwa perusahaan sedang memasuki era operasional baru yang berfokus pada AI.

Mereka mengatakan perusahaan tengah membangun ulang cara kerja setiap tim dan fungsi agar sesuai dengan era AI modern. “Cloudflare sedang membayangkan ulang setiap tim dan fungsi agar dapat beroperasi dalam era AI agentik,” ungkap perusahaan, sebagaimana dikutip dari Reuters, Jumat, 8 Mei 2026.

Perusahaan juga menegaskan bahwa PHK ini bukan disebabkan oleh performa buruk karyawan maupun tekanan biaya jangka pendek. Menurut Cloudflare, keputusan tersebut lebih berkaitan dengan desain ulang proses internal perusahaan.

“Cloudflare mengatakan pemangkasan pekerjaan ini mencerminkan perancangan ulang proses internal dan peran di perusahaan, bukan sebagai respons terhadap kinerja karyawan atau tekanan biaya jangka pendek,” jelasnya. 

Cloudflare bahkan menyebut penggunaan AI internal mereka meningkat lebih dari enam kali lipat hanya dalam tiga bulan terakhir. Lonjakan itu memicu perubahan besar dalam pola kerja tim di dalam perusahaan.

Fenomena ini memperlihatkan semakin besarnya dampak AI terhadap pasar tenaga kerja global. Kekhawatiran investor dan ekonom terhadap otomatisasi berbasis AI juga semakin meningkat karena teknologi tersebut dinilai dapat menggantikan sejumlah pekerjaan manusia di berbagai sektor.

Sebelumnya, perusahaan pembayaran digital Block juga mengumumkan PHK besar-besaran pada Februari lalu. Perusahaan tersebut memangkas lebih dari 4.000 pekerja sebagai bagian dari transformasi operasional berbasis AI.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tak hanya itu, ekonom dari Goldman Sachs sebelumnya memperkirakan AI menjadi penyebab hilangnya 5.000 hingga 10.000 pekerjaan bersih setiap bulan sepanjang 2025 di sektor-sektor Amerika Serikat yang paling rentan terhadap otomatisasi.

Meski diterpa sentimen negatif akibat rencana PHK, saham Cloudflare sebenarnya masih mencatat kenaikan sekitar 30,3 persen sepanjang tahun ini. Hal itu menunjukkan investor masih melihat potensi besar perusahaan di tengah booming teknologi AI global.