Verizon Bakal Pangkas 15 Ribu Karyawan, Gelombang PHK Massal Makin Ngeri!
Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di Amerika Serikat kembali menunjukkan tren mengkhawatirkan. Setelah beberapa perusahaan digital raksasa melakukan perampingan sepanjang tahun 2025, kini giliran Verizon yang mengumumkan langkah drastis, yakni memangkas 15.000 pekerja.
Situasi ini memperlihatkan bahwa sektor teknologi dan telekomunikasi sedang berada dalam masa penuh tekanan.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan-perusahaan besar seperti Amazon, Target, UPS, hingga Microsoft telah mengambil langkah serupa dengan jumlah korban PHK yang tidak kecil.
Kompetisi yang makin ketat, investor yang terus menekan efisiensi, serta adopsi AI yang kian agresif, perusahaan seolah berlomba melakukan efisiensi ekstrem meski harus mengorbankan puluhan ribu pekerja.
The Wall Street Journal melaporkan bahwa Verizon akan memberhentikan 15.000 karyawan, setara 15 persen dari total tenaga kerja. Selain itu, perusahaan akan mengubah 200 gerai menjadi waralaba.
Verizon sebelumnya memiliki 100.000 karyawan pada Februari 2025 setelah memangkas 20.000 posisi dalam tiga tahun terakhir. Bahkan, laporan menyebut bahwa perusahaan berencana memangkas lebih dari 20 persen posisi manajerial non-serikat.
Verizon menghadapi tekanan besar dari kompetitor kabel internet seperti Comcast, yang kini merambah layanan seluler dengan menggabungkan paket internet rumah dan ponsel. Akibatnya, Verizon kehilangan 7.000 pelanggan hanya dalam satu kuartal.
Bulan lalu, Daniel Schulman, mantan CEO PayPal dan Virgin Mobile USA, ditunjuk menjadi CEO baru. Dalam panggilan kinerja, ia menyebut Verizon berada di titik “inflection point” dan menegaskan bahwa pemangkasan biaya akan banyak dilakukan.
Meski perusahaan tengah krisis dan melakukan PHK besar-besaran, CEO yang akan lengser, Hans Vestberg, tetap diproyeksikan menerima sebagian besar paket kompensasinya senilai US$20 juta atau setara Rp334 miliar.
PHK Massal Meluas ke Banyak Perusahaan Besar AS
Ilustrasi ekonomi Amerika Serikat
Sebagaimana kita ketahui, pada 28 Oktober, Amazon mengumumkan pemotongan 14.000 posisi. Dalam pesannya kepada karyawan, seorang wakil presiden senior mengatakan AI memungkinkan perusahaan berinovasi lebih cepat dari sebelumnya.
Pada hari yang sama, Target mengumumkan pemangkasan 18.000 pekerjaan korporat, atau 8 persen posisi global. Lalu, UPS memecat 48.000 pegawai pada 2025, terdiri dari 34.000 pengemudi dan 14.000 staf manajemen. Microsoft juga memangkas 9.000 posisi atau 4 persen tenaga kerja.
PHK juga terjadi di Meta, Rivian, hingga IBM. Dalam wawancara dengan New York Times, COO OpenAI Brad Lightcap mengatakan AI akan menyebabkan PHK di kelas pekerja yang lebih senior, lebih terbiasa dengan rutinitas dan cara kerja tertentu.
Data PHK AS Tunjukkan Lonjakan Terburuk dalam 20 Tahun
Perusahaan konsultan Challenger, Gray & Christmas melaporkan lebih dari 150.000 PHK terjadi pada Oktober, tiga kali lipat dibanding tahun lalu dan yang terbesar dalam dua dekade.
Sepanjang 2025, perusahaan AS telah mengumumkan 1,1 juta PHK, naik 65 persen dari 664.839 periode yang sama tahun lalu. Ini menjadi level tertinggi sejak 2020.
The Wall Street Journal mencatat bahwa adopsi AI membuat perusahaan berharap teknologi dapat menggantikan pekerjaan pekerja kerah putih yang bergaji tinggi. Investor juga menekan manajemen untuk bekerja lebih efisien dengan jumlah pegawai lebih sedikit. Ketidakpastian politik dan biaya yang meningkat turut memperlambat perekrutan.
Bagi mereka yang kehilangan pekerjaan, peluang mendapatkan pekerjaan baru semakin kecil. Survei WSJ menunjukkan hanya 20 persen responden di AS yang merasa dapat menemukan pekerjaan yang baik.