Kenapa Disebut Surabaya? Mitos Cura-Bhaya Jadi Awalnya

Asal-usul nama Surabaya hingga kini masih menjadi perdebatan panjang di kalangan sejarawan dan masyarakat.
Kota yang dikenal sebagai Kota Pahlawan ini ternyata menyimpan banyak versi tentang dari mana sebetulnya nama “Surabaya” berasal.
Masyarakat Surabaya umumnya percaya bahwa nama kota ini berasal dari dua kata, “Sura” dan “Baya”, atau sering disebut “Sura ing Baya” (dibaca Suro ing Boyo).
Paduan dua kata itu dimaknai sebagai simbol keberanian menghadapi bahaya, yang sejalan dengan karakter masyarakat Surabaya yang dikenal pantang menyerah.
Namun, di balik legenda populer tentang pertempuran ikan Sura dan buaya Baya, para ahli sejarah menghadapi kendala besar dalam menentukan asal-usul nama Surabaya secara pasti.
Dari Curabhaya hingga Suro ing Boyo
Beberapa catatan sejarah menunjukkan bahwa nama Surabaya semula ditulis dalam berbagai ejaan, seperti Surabaia, Soerabaia, Surabaja, hingga Curabhaya.
Nama terakhir ini, menurut penelitian arkeolog, ditemukan dalam Prasasti Trowulan I yang berangka tahun Caka 1280 atau 1358 Masehi.
Dalam prasasti tersebut, tertulis bahwa Curabhaya merupakan kelompok desa di tepi sungai yang berfungsi sebagai tempat penambangan.
Selain itu, dalam Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca tahun 1365 Masehi, Surabaya juga disebut sebagai salah satu wilayah penting di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Baitnya berbunyi: “Yen ring Janggala lok sabha n rpati ring Surabhaya terus ke Buwun,” yang berarti “Jika di Jenggala ke laut, raja tinggal di Surabaya terus ke Buwun (Bawean).”
Meski begitu, belum ditemukan data otentik yang menjelaskan sejak kapan nama Curabhaya berubah menjadi Surabaya.
Surabaya dan Hujunggaluh yang Hilang dari Catatan
Gedung Algemene atau yang akrab dijuluki 'Gedung Singa' di jantung kota tua Surabaya. Arsiteknya, Hendrik Petrus Berlage, Bapak Arsitektur Modern di Belanda.
Kendala utama dalam penelusuran sejarah nama Surabaya muncul karena adanya peralihan nama wilayah yang tidak terdokumentasi jelas.Sebelum dikenal sebagai Surabaya, wilayah ini disebut Hujunggaluh atau Ujunggaluh, sebuah pelabuhan penting di muara Sungai Brantas.
Namun, hingga kini, belum ada bukti pasti kapan nama Hujunggaluh “menghilang” dan digantikan oleh nama Surabaya.
Sejarawan memperkirakan perubahan itu terjadi pada abad ke-14, bertepatan dengan meletusnya Gunung Kelud tahun 1334 yang mengubah kondisi geografis muara Brantas.
Perubahan alam itu kemudian diyakini sebagai momen munculnya mitos tentang pertarungan antara penguasa laut (ikan Cura) dan penguasa darat (buaya Bhaya).
Menurut Soenarto Timoer dalam buku Mitos Cura-Bhaya (Balai Pustaka, 1983), peristiwa alam dan legenda tersebut saling berkelindan, melahirkan nama baru: Curabhaya, yang kelak dikenal sebagai Surabaya.
Antara Fakta Sejarah dan Pengaruh Mitos
Kisah pertempuran ikan dan buaya yang kini menjadi lambang Kota Surabaya ternyata telah muncul sejak abad ke-12 hingga ke-13 Masehi.
Relief tentang pertarungan hewan laut dan darat itu bahkan terpahat di Gua Selomangleng, Gunung Klotok, Kediri, sebagai bagian dari ajaran Buddha Mahayana.
Namun, Soenarto menegaskan, “Mitos Cura-Bhaya hanyalah versi lokal yang berlaku di Hujunggaluh. Nama itu adalah wujud pujian kepada sang Cura dan Bhaya yang menguasai lautan dan daratan.”
Dengan kata lain, mitos tersebut memperkaya khazanah budaya, tetapi belum dapat dijadikan bukti historis tentang perubahan nama Hujunggaluh menjadi Surabaya.
Polemik Junggaluh, Sugalu, dan Suyalu
Pemerintah Kota Surabaya telah menetapkan revitalisasi kawasan kota tua tepatnya di Jalan Panggung dan Jalan Karet.
Kebingungan lain muncul dari perbedaan tafsir terhadap nama Junggaluh, yang juga disebut sebagai cikal bakal Kota Surabaya.Dalam perdebatan Hari Jadi Kota Surabaya tahun 1975, sejumlah ahli menyinggung catatan sejarah Tiongkok yang menyebut nama “Sugalu.”
Profesor N.J. Krom menafsirkan istilah itu sebagai Junggaluh, sedangkan ahli lain mengaitkannya dengan Sedayu di Gresik.
Namun, Prof. Suwoyo Woyowasito berpendapat lain. Ia menyebut bahwa istilah dalam dialek Tionghoa kuno yang tertulis “Su-ya-lu” sebenarnya adalah pelafalan dari “Hujunggaluh.”
Catatan sejarah menunjukkan bahwa dari Su-ya-lu inilah, pasukan Tartar berlayar menuju pusat Kerajaan Majapahit di Trowulan, melewati Kali Brantas, indikasi kuat bahwa lokasi tersebut berada di sekitar muara Sungai Surabaya.
Hasil penelitian itulah yang akhirnya menjadi dasar DPRD Kota Surabaya menetapkan bahwa Hujunggaluh dan Surabaya adalah wilayah yang sama, bukan Sedayu seperti yang diduga sebagian sejarawan.
Dari Pelabuhan Majapahit hingga Kota Pahlawan
Seiring waktu, Surabaya berkembang menjadi pelabuhan dagang utama di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Tanggal 31 Mei 1293 menjadi titik penting dalam sejarah Surabaya, ketika Raden Wijaya berhasil mengalahkan pasukan Mongol di muara Kali Mas.
Kemenangan itu kemudian dijadikan Hari Jadi Kota Surabaya, simbol kemenangan rakyat Nusantara atas kekuatan asing.
Pada masa kolonial Belanda, Surabaya tumbuh sebagai kota pelabuhan dan pusat perdagangan di Jawa Timur. Pelabuhan Tanjung Perak, yang dahulu dikenal sebagai Hujunggaluh, menjadi pusat ekspor hasil bumi dari wilayah timur Pulau Jawa ke Eropa.
“Berani Menghadapi Bahaya”
Lebih dari sekadar nama, “Surabaya” memuat filosofi mendalam tentang keberanian dan keteguhan hidup berdampingan.
Masyarakat Surabaya yang berasal dari beragam suku, agama, dan etnis mampu bersatu layaknya Sura dan Baya, dua kekuatan berbeda yang berpadu di muara kehidupan.
Kini, di tengah hiruk pikuk modernisasi, kisah di balik asal-usul Surabaya tetap menjadi bagian penting dari identitas kota.
Meski berbagai versi masih berseliweran dan kendala penelusuran sejarah belum sepenuhnya terjawab, Surabaya tetap teguh memegang makna namanya, “berani menghadapi bahaya.”
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.