Sang Ibu Pingsan di Rumah Sakit, Kisah Duka Keluarga Nabila Korban Banjir Bandang di Agam

Agam, Sumbar, Sang Ibu Pingsan di Rumah Sakit, Kisah Duka Keluarga Nabila Korban Banjir Bandang di Agam, Teridentifikasi Lewat Tes DNA, Sosok Nabila di Mata Keluarga, Dampak Banjir Bandang di Kabupaten Agam, Ombudsman RI Soroti Akses Jalan Terputus

Isak tangis pecah di ruang penjemputan jenazah RS Bhayangkara Padang, Sumatera Barat, Senin (15/12/2025).

Duka mendalam menyelimuti keluarga korban banjir bandang di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, dan kawasan Jembatan Kembar, Kota Padang Panjang.

Seorang ibu tampak tak kuasa menahan pilu saat menerima penyerahan jenazah putri tercintanya, Nabila Salsabila, pelajar SMA asal Korong Kayu Pasak, Nagari Salareh Aie, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam.

Tubuh sang ibu limbung hingga akhirnya pingsan ketika jenazah diserahkan secara simbolis oleh Polda Sumatera Barat.

Beberapa kali sang ibu ditenangkan oleh suaminya, Afrizul. Namun kehilangan anak yang telah dicari selama dua pekan pascabencana banjir bandang tersebut begitu berat untuk ditanggung.

Tangis pun pecah seiring kepastian bahwa Nabila merupakan salah satu korban meninggal dunia yang berhasil diidentifikasi.

Teridentifikasi Lewat Tes DNA

Sebelumnya, jenazah Nabila sempat dimakamkan oleh Polda Sumbar di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bungus, Kota Padang, lantaran identitasnya belum diketahui.

Setelah melalui proses Disaster Victim Identification (DVI) Mabes Polri dengan pencocokan data antemortem dan postmortem, identitas korban akhirnya dipastikan.

Keluarga pun memutuskan untuk memindahkan makam Nabila ke TPU keluarga di Kabupaten Pasaman Barat.

“Kami baru diberi tahu kemarin sore oleh pihak Polda Sumbar. Kami diminta datang ke RS Bhayangkara untuk penjemputan anak kami, Nabila Salsabila, yang sudah dua minggu kami cari,” ujar Afrizul dengan suara bergetar, saat ditemui di RS Bhayangkara Padang.

Afrizul mengaku baru mengetahui bahwa putrinya telah lebih dulu dimakamkan beberapa hari sebelumnya.

“Kami memang kurang tahu pasti sebelumnya. Tapi kami dengar Nabila sudah dimakamkan. Keluarga ingin dia dimakamkan di Pasaman Barat, di makam keluarga,” jelasnya.

Ia menambahkan, identitas Nabila diketahui melalui tes DNA, mengingat kondisi jenazah korban banjir bandang lainnya sudah sulit dikenali secara visual setelah dua pekan pascabencana.

“Nabila dikenali lewat tes DNA. Korban lainnya sudah sulit dikenali karena waktu sudah lama,” kata Afrizul.

Sosok Nabila di Mata Keluarga

Nabila merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Lahir di Jakarta, ia dikenal sebagai pribadi yang penurut dan ringan tangan. Sepulang merantau, Afrizul bersama keluarga mendirikan rumah tahfiz di kampung halaman.

“Sudah tiga tahun kami mendirikan rumah tahfiz untuk anak-anak TK dan SD. Nabila sering membantu kegiatan di sana,” kenangnya.

Kini, sosok yang kerap membantu ayahnya itu telah pergi untuk selama-lamanya, menjadi salah satu korban dari ganasnya banjir bandang di Sumatera Barat.

Saat penjemputan jenazah, Afrizul mengenakan baju koko hitam, bersorban cokelat, dan peci putih. Sorban itu beberapa kali digunakannya untuk menghapus air mata.

Sang istri mengenakan gamis hitam dengan cadar senada, berdiri tertunduk di samping suaminya. Sementara keluarga besar menunggu di luar ruangan, bersiap mengantarkan Nabila ke peristirahatan terakhir.

Dampak Banjir Bandang di Kabupaten Agam

Agam, Sumbar, Sang Ibu Pingsan di Rumah Sakit, Kisah Duka Keluarga Nabila Korban Banjir Bandang di Agam, Teridentifikasi Lewat Tes DNA, Sosok Nabila di Mata Keluarga, Dampak Banjir Bandang di Kabupaten Agam, Ombudsman RI Soroti Akses Jalan Terputus

Sejumlah pengendara motor melintasi Jalan Padang Koto Gadang-Bukittinggi, Jorong Silungkang, Nagari Tigo Koto Silungkang, Palembayan, Agam, Sumatera Barat pada Selasa (9/12/2025). Warga yang melintas terancam bahaya tertimbun longsor susulan dan tergelincir masuk jurang akibat jalan yang licin.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Agam merilis data dampak bencana hidrometeorologi berupa banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan angin kencang.

Berdasarkan data BPBD Agam, per 13 Desember 2025, korban meninggal dunia di Kecamatan Malalak tercatat sebanyak 14 orang, sementara tiga orang masih dinyatakan hilang.

Kerusakan rumah dilaporkan mencapai 47 unit di Nagari Malalak Timur, dua unit di Malalak Utara, dan dua unit di Malalak Selatan.

Kebutuhan mendesak meliputi alat berat seperti excavator, mobil tangki, BBM, genset, WC portable, kawat bronjong, serta kebutuhan ibu dan anak, pangan, sandang, kesehatan, dan layanan trauma healing.

Ombudsman RI Soroti Akses Jalan Terputus

Di sisi lain, Ombudsman RI menyoroti kerusakan jalan di Kabupaten Agam akibat 18 titik longsor yang menyebabkan ribuan warga terisolasi dan menghambat distribusi bantuan.

Ombudsman mencatat baru dua unit ekskavator milik PU dan TNI yang beroperasi di lokasi. Dengan jumlah tersebut, pembukaan akses jalan diperkirakan memakan waktu minimal 30 hari.

“Dengan kondisi 18 titik longsor, dua alat berat jelas belum cukup. Penambahan alat berat sangat menentukan agar akses bisa dibuka lebih cepat,” ujar Pimpinan Ombudsman RI Yeka Hendra Fatika, dalam keterangan resminya, Sabtu (13/12/2025).

Kabupaten Agam tercatat sebagai wilayah dengan korban jiwa terbanyak, dengan 188 orang meninggal dunia, 72 orang hilang, lebih dari 4.000 warga mengungsi, dan hampir 1.000 jiwa masih terisolasi akibat akses jalan terputus total.

Ombudsman RI menilai pemulihan akses jalan menjadi kunci percepatan penanganan darurat, termasuk sinkronisasi data antarinstansi dan perbaikan distribusi logistik agar bantuan dapat menjangkau seluruh warga terdampak banjir bandang Agam, Sumatera Barat.

Sebagian Artikel ini telah tayang di TribunPadang.com dengan judul Tangis Ibu Pecah! 2 Pekan Dicari, Nabila Salsabila Korban Galodo Sumbar Dipastikan Pulang Selamanya

Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini