Di Balik Kesuksesannya, Mathew Baker Ternyata Pernah Menghadapi Tantangan Besar: Sang Ibu Ungkap Faktanya
Nama Mathew Baker semakin dikenal publik sepak bola Indonesia setelah berhasil menembus Timnas Indonesia di usia yang masih sangat muda. Di balik pencapaiannya tersebut, ternyata ada perjalanan panjang dan berbagai tantangan yang harus dilalui pemain berdarah Indonesia-Australia itu sebelum akhirnya mengenakan seragam Garuda.
Pemain Timnas Indonesia, Mathew Baker
Kisah perjuangan Mathew Baker terungkap melalui penuturan sang ibu yang bernama Nita Baker yang mengaku sangat bangga melihat putranya kini berjuang untuk Indonesia, negara yang memiliki ikatan kuat dengan keluarganya.
Mathew Baker lahir dan besar di Melbourne, Australia. Meski tumbuh di negeri Kanguru, darah Indonesia mengalir kuat dalam dirinya melalui sang ibu yang berasal dari keluarga bermarga Sitorus.
Keluarga Mathew telah lama menetap di Australia. Sang ibu pindah ke negara tersebut dan kemudian membangun keluarga bersama ayah Mathew yang merupakan warga negara Australia.
Meski demikian, hubungan keluarga dengan Indonesia tetap terjaga. Karena itu, kesempatan membela Timnas Indonesia menjadi momen yang sangat spesial bagi Mathew dan keluarganya.
Kesempatan mengenakan seragam Merah Putih menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam perjalanan karier Mathew Baker. Pemain muda tersebut mengaku bangga karena bisa mewujudkan impian membela Indonesia lebih cepat dari yang pernah dibayangkannya.
Tidak hanya itu, pengalaman bergabung dengan skuad Garuda juga memberikan kesan mendalam baginya. Mathew mengungkapkan bahwa para pemain senior menyambutnya dengan sangat baik sejak hari pertama.
Sikap hangat dari rekan-rekan setim membuatnya merasa nyaman berada di lingkungan Timnas Indonesia. Rasa diterima itulah yang kemudian semakin memperkuat kecintaannya terhadap Indonesia.
Sang Ibu Ungkap Rasa Haru
Di balik senyum Mathew saat berada di lapangan, ada rasa haru yang dirasakan keluarganya, terutama sang ibu.
Ia mengaku bangga melihat putranya kembali ke tanah leluhur bukan sebagai wisatawan, melainkan sebagai atlet profesional yang membawa nama Indonesia di level internasional.
Menurutnya, perjalanan kali ini memiliki makna berbeda dibanding kunjungan-kunjungan sebelumnya. Mathew datang dengan tanggung jawab besar untuk membela Merah Putih dan berusaha memberikan yang terbaik bagi bangsa.
Sang ibu pun terus memberikan dukungan moral agar anaknya tetap fokus pada tujuan dan tidak mudah terpengaruh oleh tekanan yang datang dari luar lapangan.
Kembali ke Tanah Leluhur
Selain membela Timnas Indonesia, ada momen emosional lain yang dirasakan keluarga Baker. Sang ibu mengaku bahagia melihat kedua putranya kembali menginjakkan kaki di Sumatera Utara, daerah asal keluarga besar mereka.
Wilayah tersebut memiliki arti khusus karena menjadi tempat asal para leluhur keluarga Sitorus. Kunjungan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa meski lahir dan tumbuh di Australia, Mathew dan Timothy tetap memiliki akar yang kuat dengan Indonesia.
Dalam ajang Piala AFF U-19 2026, Timnas Indonesia dijadwalkan menghadapi Australia pada babak semifinal. Pertandingan tersebut diprediksi menjadi salah satu laga paling emosional dalam karier Mathew.
Pasalnya, Australia merupakan negara tempat ia lahir dan menghabiskan masa kecilnya. Namun kini, ia harus berhadapan dengan negara tersebut demi memperjuangkan kemenangan bagi Indonesia.
Situasi serupa juga dirasakan oleh Timothy Baker yang memiliki latar belakang yang sama.
Meski demikian, keluarga Baker menegaskan bahwa mereka mendukung penuh perjuangan kedua putra mereka bersama Timnas Indonesia. Sang ibu berharap Mathew dan Timothy dapat memberikan performa terbaik, meraih kesuksesan, dan terus membawa kebanggaan bagi keluarga serta bangsa Indonesia.
Nasionalisme yang Semakin Kuat
Ayah Mathew Baker Tak Kuasa Menahan Haru, Debut Sang Anak Bersama Timnas Indonesia
Dukungan dari keluarga, penerimaan hangat dari rekan-rekan setim, serta kesempatan mengenakan lambang Garuda di dada membuat nasionalisme Mathew Baker semakin tumbuh.
Di usia yang masih 17 tahun, ia telah menunjukkan komitmen besar untuk Indonesia. Kisahnya menjadi bukti bahwa kecintaan terhadap sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh tempat lahir, tetapi juga oleh ikatan keluarga, budaya, dan rasa bangga terhadap akar yang dimiliki.