Apakah Makanan Mentah Lebih Sehat dari Makanan Matang? Ini Faktanya

nutrisi, makanan matang, makanan mentah, Apakah Makanan Mentah Lebih Sehat dari Makanan Matang? Ini Faktanya

Di kalangan pencinta gaya hidup sehat, perdebatan antara tim makanan mentah (raw food) dan tim makanan matang (cooked food) seolah tidak pernah ada habisnya. 

Sebagian orang percaya bahwa mengonsumsi sayur dan buah dalam kondisi mentah jauh lebih baik karena nutrisi dan enzim alaminya masih utuh.

Di sisi lain, kelompok yang pro makanan matang menilai memasak makanan justru membuatnya lebih aman dan mudah dicerna.

Lantas, sebenarnya metode mana yang paling unggul menurut sains? Apakah mengonsumsi makanan mentah selalu menjamin tubuh kita jadi lebih sehat?

Melansir dari Healthline, jawabannya ternyat, baik makanan mentah maupun makanan matang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing bagi tubuh kita.

Makanan Mentah, Benarkah Memasak Menghancurkan Nutrisi?

Salah satu argumen utama para pendukung raw food diet adalah bahwa proses memasak dapat menghancurkan enzim esensial di dalam makanan. 

Secara medis, hal ini ada benarnya. Suhu panas yang tinggi memang bisa mengubah struktur enzim. 

Namun, perlu dicatat bahwa tubuh manusia sebenarnya sudah memproduksi enzim pencernaannya sendiri untuk mengolah makanan.

Meski begitu, memasak memang terbukti dapat menurunkan kadar nutrisi tertentu, terutama vitamin yang larut dalam air. Beberapa nutrisi yang rentan menyusut saat terkena panas antara lain:

  • Vitamin C dan Vitamin B: Proses merebus sayuran bisa membuat vitamin-vitamin ini larut ke dalam air rebusan dan terbuang.
  • Antioksidan Tertentu: Beberapa jenis antioksidan sensitif terhadap suhu panas tinggi.

Oleh karena itu, mengonsumsi sayuran tertentu seperti kubis, brokoli, dan mentimun dalam kondisi mentah atau matang minimalis (dikukus sebentar) sangat bagus untuk meraup kadar Vitamin C secara maksimal.

Makanan Matang, Memasak Justru Meningkatkan Nutrisi Tertentu

nutrisi, makanan matang, makanan mentah, Apakah Makanan Mentah Lebih Sehat dari Makanan Matang? Ini Faktanya

Di balik hilangnya sebagian vitamin larut air, proses memasak ternyata memiliki keajaiban medis tersendiri. Healthline memaparkan bahwa memasak dapat memecah dinding sel tumbuhan yang keras, sehingga memudahkan tubuh kita untuk menyerap nutrisi yang ada di dalamnya.

Hebatnya lagi, beberapa senyawa antioksidan justru kadarnya melonjak drastis setelah dimasak. Berikut contohnya:

  • Likopen (Lycopene): Antioksidan kuat yang menurunkan risiko penyakit jantung dan kanker ini banyak ditemukan pada tomat. Tomat yang dimasak atau dipanaskan justru mengeluarkan likopen berkali-kali lipat lebih tinggi dibandingkan tomat mentah.
  • Beta-Karoten: Senyawa ini akan diubah tubuh menjadi Vitamin A. Memasak sayuran seperti wortel, ubi jalar, dan asparagus terbukti meningkatkan penyerapan beta-karoten oleh tubuh kita.

Selain meningkatkan nutrisi, memasak adalah cara paling efektif untuk membunuh bakteri, parasit, dan virus berbahaya seperti Salmonella atau E. coli yang sering menempel pada bahan makanan mentah. 

Memasak juga mengurangi senyawa "anti-nutrisi" pada beberapa biji-bijian dan polong-polongan yang bisa menghambat penyerapan mineral dalam tubuh.

Mana yang Harus Dipilih?

Fakta medis menunjukkan bahwa tidak ada pemenang mutlak dalam perdebatan ini. Pola makan yang paling ideal bagi tubuh bukanlah memilih salah satu secara ekstrem, melainkan mengombinasikan keduanya.

Kamu bisa mengonsumsi buah-buahan dan sayuran tertentu secara mentah sebagai camilan atau salad demi mendapatkan pasokan Vitamin C segar. 

Di saat yang sama, tetaplah memasak daging, telur, dan sayuran berserat keras secara tepat agar nutrisinya keluar maksimal dan tubuh terhindar dari risiko keracunan bakteri.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang