Jangan Asal Seduh! Begini Cara Tepat Menyiapkan Susu agar Nutrisi Tidak Rusak
Menyeduh susu adalah hal yang dianggap sepele tapi sering keliru dilakukan ibu-ibu yang memiliki balita. Kelihatan mudah, cukup mencampur air dengan susu, aduk merata dan susu pun siap diminum oleh anak. Namun yang sering terlewatkan adalah urutan air atau susu, suhu air dan proses mengaduk yang salah dapat merusak nutrisi penting di dalam susu, sehingga manfaatnya untuk tumbuh kembang anak jadi berkurang.
Ada beberapa cara menyeduh susu pertumbuhan yang benar agar tidak merusak kandungan gizi di dalam susu seperti disampaikan oleh Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat Aisyiyah (Makes PPA). Pertama gunakan air hangat bukan air mendidih. Dijelaskan bahwa air yang terlalu panas atau mendidih dapat merusak kandungan protein, vitamin, dan zat besi yang ada di dalam susu pertumbuhan. Gunakan air matang yang sudah didinginkan sejenak hingga bersuhu suam-suam kuku atau sekitar 40°C.
“Yang penting diperhatikan adalah kebersihan tangan sebelum menyiapkan susu, lalu suhu air yang digunakan adalah air hangat 70 derajat, atau kita di sini bilang air hangat-hangat kuku,” demikan kata Wakil Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Chairunnisa Senin 8 Juni 2026.
Kedua pastikan kebersihan wadah. Pastikan botol atau gelas anak dicuci bersih dengan air mengalir dan disterilkan jika memungkinkan untuk mencegah infeksi saluran pencernaan atau diare. Ketiga takaran harus sesuai petunjuk.
“Jangan mengurangi atau melebihkan takaran sendok takar yang tertera pada kemasan. Susu yang terlalu encer membuat anak kekurangan kalori, sedangkan susu yang terlalu kental bisa memberatkan kerja pencernaan anak,” sambung pihaknya.
Terkait dengan cara menyeduh susu, organisasi tersebut baru saja melakukan edukasi gizi termasuk cara menyeduh susu pertumbuhan anak yang benar sehingga nilai gizi tidak berkurang untuk masyarakat korban banjir bandang di Nagari Salareh Aia, Kabupatan Agam, Sumatera Barat.
Selain itu, peserta edukasi yang sebagian besar membawa balita juga diajak berdiskusi seputar susu dan pemberian pangan yang menjadi asupan makanan anak selama ini.
"Pentingnya edukasi gizi pasca bencana bagi para ibu yang memiliki balita ini karena ketika masa bencana, banyak sekali bantuan masuk yang sifatnya darurat berupa makanan instan, seperti mi instan atau susu. Berdasarkan dialog kami dengan ibu-ibu korban bencana di sini, mereka ternyata juga menerima susu kental manis dan menganggapnya sebagai susu. Padahal, itu sebenarnya bukan susu," ujar Chairunnisa.
Pihaknya bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) menaruh kepedulian besar pada fase transisi ini. Menurut Chairunnisa, membiarkan anak terus-menerus mengkonsumsi makanan instan dan produk tinggi gula seperti kental manis pasca bencana dapat berdampak fatal bagi masa depan mereka.
"Karena sekarang sudah memasuki masa pasca-bencana, kami memiliki kepedulian untuk menjaga supaya tumbuh kembang anak jangan sampai terganggu akibat asupan gizi yang keliru. Jika pola instan ini terus-menerus diberlakukan dan menjadi kebiasaan, anak akibatnya bisa kekurangan gizi. Bagi anak di bawah usia dua tahun, kekurangan gizi kronis ini akhirnya bisa memicu stunting," tambahnya.
Melalui edukasi intensif ini, pihaknya berharap para ibu di Agam dapat lebih selektif dan tepat dalam mengolah bantuan makanan yang diterima, demi memastikan anak-anak mereka tumbuh sehat dan terbebas dari ancaman gizi buruk serta stunting di masa depan.