Makan Telur Mentah, Benarkah Lebih Sehat atau Malah Bahaya Bagi Tubuh?

telur, telur mentah, Salmonella, makan telur, Makan Telur Mentah, Benarkah Lebih Sehat atau Malah Bahaya Bagi Tubuh?

Banyak orang percaya kalau mengonsumsi telur tanpa dimasak bisa memberikan nutrisi yang lebih murni dan membantu pembentukan otot secara instan. 

Tapi, apakah tren ini benar-benar sehat atau justru kita sedang "bermain api" dengan kesehatan sendiri?

Melansir laporan dari NDTV Food, pro dan kontra seputar konsumsi telur mentah memang selalu menarik untuk dibahas. 

Mari kita bedah faktanya secara medis agar kamu tidak salah langkah.

Secara umum, telur adalah superfood yang kaya akan protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral.

Memang benar bahwa proses memasak bisa sedikit mengurangi kandungan vitamin tertentu, seperti Vitamin A, B5, dan kalium. Namun, perbedaannya ternyata tidak terlalu signifikan.

Masalah utamanya bukan hanya pada vitamin, tapi pada biovailabilitas protein. Tubuh kita ternyata jauh lebih efisien menyerap protein dari telur yang sudah matang dibandingkan yang mentah. 

Jadi, anggapan bahwa telur mentah lebih bagus untuk otot tidak sepenuhnya akurat secara biologis.

Ancaman Bakteri Salmonella

Hal yang paling dikhawatirkan oleh para pakar kesehatan saat seseorang mengonsumsi telur mentah adalah bakteri Salmonella. 

Bakteri ini bisa hidup di cangkang maupun di dalam telur. Jika Anda terinfeksi, gejalanya tidak main-main: mulai dari kram perut, diare parah, demam, hingga muntah-muntah.

"Risiko keracunan makanan akibat Salmonella adalah alasan utama mengapa para ahli kesehatan sangat menyarankan untuk memasak telur hingga matang sempurna," tulis NDTV Food.

Siapa yang Paling Berisiko?

Meskipun banyak orang sehat mungkin tidak merasakan efek langsung setelah makan telur mentah, ada kelompok tertentu yang sangat dilarang melakukannya.

Para pakar kesehatan memperingatkan bahwa kelompok rentan seperti:

  • Bayi dan Anak-anak: Sistem imun mereka belum sekuat orang dewasa.
  • Ibu Hamil: Infeksi Salmonella bisa berdampak buruk pada janin.
  • Lansia: Risiko komplikasi akibat keracunan makanan jauh lebih tinggi.
  • Orang dengan Imunitas Rendah: Mereka yang sedang menjalani pengobatan tertentu atau memiliki kondisi medis kronis.
  • Masalah Penyerapan Biotin

Selain risiko bakteri, sering mengonsumsi telur mentah juga bisa memicu kekurangan Biotin (Vitamin B7). 

Kenapa? Karena putih telur mentah mengandung protein bernama avidin. Protein ini akan mengikat biotin dalam usus dan mencegah tubuh menyerapnya. 

Jika telur dimasak, panas akan merusak struktur avidin sehingga biotin bisa diserap tubuh dengan normal.

Tips Jika Kamu Tetap Ingin Mengonsumsi Telur Mentah

Kalau Kamu tetap merasa perlu mengonsumsi telur mentah untuk alasan tertentu, pastikan untuk mengikuti langkah keamanan berikut:

  • Gunakan Telur Pasteurisasi: Ini adalah jenis telur yang sudah diproses dengan panas ringan untuk membunuh bakteri tanpa memasak telurnya.
  • Simpan di Kulkas: Jangan biarkan telur di suhu ruang terlalu lama karena bisa mempercepat pertumbuhan bakteri.
  • Cangkang Harus Utuh: Jangan pernah mengonsumsi telur mentah yang cangkangnya sudah retak atau kotor.

Makan telur mentah mungkin terlihat praktis dan "keren," tapi risiko kesehatannya jauh lebih besar daripada manfaat yang didapat. 

Dengan memasak telur, kamu tidak hanya memastikan keamanan dari bakteri berbahaya, tetapi juga membantu tubuh menyerap protein dan biotin secara lebih maksimal.

Jadi, lebih baik buat scrambled egg atau telur rebus saja!

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang