Susah Beli Rumah hingga Cari Kerja, Gen Z Mengaku Alami 'Midlife Crisis'

Ilustrasi gen z bekerja
Ilustrasi gen z bekerja

 Generasi Z yang selama ini dianggap sebagai generasi penuh semangat dan siap menghadapi masa depan ternyata justru sedang dilanda krisis besar, terutama soal keuangan. Sebuah studi terbaru menemukan sebanyak 38 persen Gen Z merasa seperti sedang mengalami “krisis paruh baya” meski usia mereka masih sangat muda.

Tekanan finansial disebut menjadi penyebab utama. Harga rumah yang semakin tak terjangkau, biaya hidup yang terus naik, hingga pasar kerja yang makin sulit dimasuki membuat banyak anak muda merasa kehilangan arah. Scroll untuk info lebih lanjut...

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Studi dari firma profesional global Ernst & Young (EY) menunjukkan kurang dari sepertiga Gen Z merasa aman secara finansial. Bahkan, lebih dari separuh responden mengaku sangat sering khawatir karena merasa tidak memiliki cukup uang.

Life coach Brittney Lindstrom menjelaskan bahwa tekanan finansial kronis dapat memengaruhi seluruh aspek kehidupan seseorang. “Ketika Anda kelelahan, semuanya terasa lebih sulit, terutama dalam mengelola emosi,” kata Lindstrom, seperti dikutip dari Your Tango, Senin, 20 April 2026.

Burnout bisa membuat Anda merasa rentan dan terlalu sensitif,” sambungnya. 

Bagi Gen Z, situasi ini bukan sekadar persoalan pribadi, tetapi hasil dari kondisi ekonomi yang jauh lebih berat dibanding generasi sebelumnya. Mereka memasuki usia dewasa saat pandemi, menghadapi pasar perumahan yang mahal, dan persaingan kerja yang jauh lebih ketat dibanding era orang tua mereka.

Platform investasi Arta Finance melakukan survei terhadap 2.000 orang dewasa Amerika Serikat pada Agustus 2024. Hasilnya menunjukkan 38 persen Gen Z merasa sedang mengalami krisis hidup layaknya krisis paruh baya.

Meski banyak faktor emosional yang berperan, masalah uang menjadi pemicu terbesar. Sebanyak 30 persen Gen Z mengaku stres berat karena persoalan finansial.

Selain masalah uang, tekanan lain yang paling banyak dirasakan Gen Z adalah kesehatan mental sebesar 25 persen dan persoalan karier sebesar 23 persen. Kedua faktor ini dinilai sangat berkaitan dengan kestabilan finansial.

Banyak Gen Z juga merasa konsep American Dream atau mimpi sukses lewat kerja keras kini semakin mustahil diwujudkan. Mentalitas “kerja keras pasti berhasil” yang dulu diyakini generasi baby boomer dan sebagian Gen X kini dianggap tidak lagi relevan.

Mereka merasa sekeras apa pun bekerja, hasilnya tetap belum cukup untuk membeli rumah, membangun keluarga, atau mencapai stabilitas hidup.

Laporan Bank of America pada Juli 2024 juga menunjukkan 46 persen Gen Z dewasa di Amerika masih bergantung pada bantuan keuangan dari orang tua dan keluarga. Setengah dari responden berusia 18 hingga 27 tahun bahkan mengaku tidak yakin bisa membeli rumah dalam lima tahun ke depan.

Kondisi ini sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya. Menurut Arta Finance, hanya 15 persen baby boomer yang mengaku menghadapi kesulitan finansial serupa saat masih muda.

Sebanyak 51 persen baby boomer sudah memiliki rumah sebelum usia 30 tahun. Sementara pada generasi milenial, angkanya turun menjadi 42 persen. Untuk Gen Z, angkanya diperkirakan lebih rendah lagi.

Sebanyak 55 persen Gen Z dan milenial percaya orang tua mereka memiliki hidup yang jauh lebih mudah dalam mencapai berbagai pencapaian hidup tersebut. Nasdaq juga mencatat bahwa baby boomer menguasai sekitar 50 persen kekayaan nasional Amerika Serikat atau setara US$78,1 triliun. 

Sementara itu, belum ada bukti kuat yang menunjukkan Gen Z memiliki akses kekayaan yang sebanding. Banyak generasi yang lebih tua sering mempertanyakan mengapa anak muda saat ini sulit membeli rumah atau mencapai kestabilan finansial. Namun yang sering luput dipahami adalah kondisi ekonomi saat ini sudah sangat berbeda.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Gen Z lahir di tengah berbagai gejolak ekonomi, mulai dari Great Recession hingga krisis pascapandemi. Mereka tumbuh melihat orang tua berjuang menghadapi tekanan keuangan, dan kini harus menghadapi tantangan yang sama, bahkan lebih berat.

Tak heran jika banyak dari mereka merasa seperti mengalami krisis hidup lebih cepat dari seharusnya.