Apa itu "Gerakan Kecoa"? Simbol Protes Gen Z yang Ramai di India

Cockroach Janta Party, Apa itu

baru ini, India mengalami salah satu fenomena besar dalam bentuk protes kekecewaan generasi muda terhadap pemerintahnya.

Gerakan bernama Cockroach Janta Party (CJP) atau "Partai Rakyat Kecoa" berhasil menarik perhatian jutaan anak muda dalam waktu singkat.

Hanya dalam beberapa pekan saja, akun Instagram CJP gerakan ini telah mengumpulkan lebih dari 12.000 pengikut.

Fenomena tersebut mencerminkan meningkatnya frustrasi Gen Z India terhadap sulitnya mencari pekerjaan serta berbagai kontroversi yang belakangan mengguncang sistem pendidikan nasional.

Apa itu gerakan kecoa?

Gerakan ini bermula pada 16 Mei 2026 ketika salah satu hakim tertinggi India, Surya Kant, menuai kontroversi setelah menyebut sebagian anak muda yang menganggur sebagai "parasit" dan "kecoa" dalam sebuah sidang.

Pernyataan tersebut memicu kritik luas di media sosial. Meski kemudian hakim Surya Kant menyatakan ucapannya telah disalahartikan oleh sebagian media, kemarahan publik telanjur meluas.

Di tengah polemik tersebut, seorang mahasiswa pascasarjana di Amerika Serikat bernama Abhijeet Dipke memutuskan membuat situs parodi bernama Cockroach Janta Party.

Melalui situs itu, ia menyebut partainya sebagai rumah bagi generasi muda India yang merasa diabaikan, tidak memiliki pekerjaan, dan tidak terwakili oleh politik tradisional.

Tak disangka, situs tersebut langsung viral dan menjadi bahan perbincangan di berbagai platform media sosial.

Kesuksesan di dunia maya mendorong Dipke mengubah gerakan satir tersebut menjadi tempat aktivisme sosial bagi warga India.

Menurut Dipke, Cockroach Janta Party lebih diarahkan menjadi kelompok penekan yang bertujuan mengawasi pemerintah dan menyuarakan aspirasi anak muda.

Pada awal Juni 2026, ia bahkan memimpin aksi demonstrasi di New Delhi yang menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan India, Dharmendra Pradhan.

Aksi tersebut menjadi ujian pertama apakah popularitas gerakan di media sosial dapat diterjemahkan menjadi dukungan nyata di lapangan.

Penyebab gen Z India semakin marah

Di balik popularitas Cockroach Janta Party terdapat persoalan mengenai sulitnya tercipta lapangan pekerjaan yang tidak seimbang dengan jumlah anak muda.

Meski India saat ini merupakan salah satu ekonomi besar namun hal ini tidak menyelesaikan masalah dengan banyaknya sarjana yang lulus di berbagai perguruan tinggi di India.

Data resmi pemerintah menunjukkan tingkat pengangguran kelompok usia 15 hingga 29 tahun berada di kisaran 10 persen. Namun sejumlah akademisi menilai angka tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya.

Penelitian dari Azim Premji University memperkirakan tingkat pengangguran usia 15 hingga 25 tahun mencapai hampir 40 persen pada 2023. Sementara kelompok usia 25 hingga 29 tahun memiliki tingkat pengangguran sekitar 20 persen.

Kondisi tersebut membuat banyak anak muda merasa peluang kerja semakin sempit meski telah menempuh pendidikan tinggi.

Tidak hanya itu, kemarahan generasi muda India lainnya juga dipicu oleh berbagai kontroversi di sektor pendidikan.

Pada Mei 2026, pemerintah membatalkan ujian masuk kedokteran terbesar di India yang diikuti lebih dari 2,27 juta peserta setelah ditemukan indikasi kebocoran soal sebelum ujian berlangsung.

Pada bulan yang sama, penyelenggara juga merilis hasil yang keliru untuk salah satu ujian kelulusan sekolah menengah yang digunakan secara luas di negara tersebut.

Serangkaian kasus itu membuat kepercayaan publik terhadap sistem pendidikan menurun. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang