Cari Kerja Kantoran Makin Susah, Gen Z Ramai-ramai Jadi Buruh Pabrik
Pasar tenaga kerja China mulai menunjukkan sinyal pelonggaran bagi kelompok usia muda. Data terbaru mencatat tingkat pengangguran muda mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.
Meski demikian, realitas di lapangan menunjukkan tantangan struktural yang jauh lebih kompleks, terutama bagi lulusan perguruan tinggi yang berharap mendapatkan pekerjaan sesuai kualifikasi akademik mereka.
Di balik penurunan angka, persaingan kerja di China masih sangat ketat. Tekanan deflasi, perlambatan ekonomi global, serta risiko eksternal terus membayangi dunia usaha.
Akibatnya, banyak perusahaan cenderung menahan perekrutan tenaga kerja profesional, sementara lowongan yang tersedia justru didominasi sektor pekerjaan kerah biru dan pekerjaan berbasis gig.
Melansir dari South China Morning Post, Jum'at, 19 Desember 2025, tingkat pengangguran muda di China usia 16 hingga 24 tahun yang tidak termasuk pelajar, turun menjadi 16,9 persen pada November, dari 17,3 persen pada Oktober. Data ini dirilis oleh National Bureau of Statistics.
Pekerja blok migas. (foto ilustrasi)
Penurunan tersebut menandai tren perbaikan sejak Agustus, ketika angka pengangguran melonjak ke 18,9 persen. Lonjakan itu dipicu oleh kelulusan 12,2 juta mahasiswa, jumlah tertinggi dalam sejarah China, yang masuk ke pasar kerja secara bersamaan pada musim panas.
Angka 18,9 persen tersebut juga menjadi level tertinggi sejak metode perhitungan diubah pada 2023, ketika pemerintah China memutuskan mengecualikan pelajar dari data pengangguran pemuda.
Meski statistik menunjukkan perbaikan, masalah di pasar tenaga kerja China belum terselesaikan. Ketimpangan antara keterampilan lulusan dan kebutuhan industri masih menjadi hambatan utama.
Banyak perusahaan membuka lowongan di sektor manufaktur, layanan dasar, dan pekerjaan fleksibel. Namun, posisi kerah putih yang membutuhkan latar belakang pendidikan universitas justru terbatas. Kondisi ini mendorong lulusan baru untuk menurunkan ekspektasi karier mereka demi bertahan secara finansial.
Tekanan ekonomi dan ketidakpastian global membuat perusahaan lebih berhati-hati. Perekrutan karyawan tetap dengan gaji tinggi kerap ditunda, sementara pekerjaan kontrak jangka pendek dan gig economy menjadi pilihan utama.
Chen Lili, lulusan sarjana administrasi publik tahun ini, menjadi salah satu gambaran nyata dari kondisi tersebut. Ia mulai mencari pekerjaan di bidang sumber daya manusia bahkan sebelum lulus. Namun setelah berbulan-bulan menjalani puluhan wawancara tanpa hasil, ia kini mempertimbangkan pekerjaan pabrik.
“Berasal dari keluarga pedesaan, saya tidak punya jaring pengaman,” katanya. “Sejak lulus, saya harus menghidupi diri sendiri.”
Chen, yang tinggal di Chongqing, mengatakan bahwa lowongan kerja yang tersedia tidak sejalan dengan latar belakang pendidikannya. Ia lebih sering menemukan peluang sebagai telemarketer dibandingkan posisi kerah putih yang relevan dengan gelar akademiknya.
Kondisi ini membuat banyak lulusan universitas menghadapi dilema besar, yaitu mempertahankan idealisme karier atau menerima pekerjaan apa pun demi stabilitas ekonomi.
Alhasil, fenomena lulusan kampus yang beralih ke pekerjaan kerah biru atau gig kini semakin umum di China. Bagi sebagian anak muda, pekerjaan di pabrik, logistik, atau layanan berbasis aplikasi dianggap sebagai solusi sementara, meski sering kali berubah menjadi pilihan jangka panjang.
Analis menilai, selama ketimpangan antara sistem pendidikan dan kebutuhan pasar kerja belum dibenahi, tekanan terhadap lulusan muda akan terus berlanjut.