Lapangan Kerja Kantoran Menyusut, Profesi Kerah Biru Jadi Opsi Baru Gen Z
Di tengah ekonomi tidak pasti, generasi muda dipaksa berpikir lebih realistis soal masa depan karier. Gelar sarjana tak lagi otomatis menjamin pekerjaan stabil, sementara biaya pendidikan terus melonjak.
Situasi ini membuat Gen Z mulai mempertimbangkan ulang jalur karier yang selama ini dipandang sebelah mata. Salah satunya adalah pekerjaan kerah biru atau blue-collar, mulai dari teknisi otomotif, manufaktur, hingga konstruksi.
Sektor-sektor tersebut justru menawarkan gaji tinggi dan stabilitas jangka panjang. Ironisnya, ketika minat mulai tumbuh, industri justru belum siap menyambut dan malah menciptakan jurang antara kebutuhan tenaga kerja dan generasi yang sebenarnya siap mengisi.
Awal 2025, CEO Ford Jim Farley menyebut sebanyak 5.000 posisi mekanik di Ford tidak terisi, meski semuanya menawarkan gaji enam digit dolar AS atau setara lebih dari Rp1,67 miliar per tahun, jauh di atas rata-rata pendapatan pekerja Amerika.
Ford bukan satu-satunya. Selama lebih dari satu dekade, berbagai profesi kerah biru kesulitan menarik tenaga muda. Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat lebih dari 400.000 pekerjaan terampil masih kosong, dan jumlah ini diperkirakan terus bertambah.
Sementara itu, Manufacturing Institute dan Deloitte bahkan memperkirakan 3,8 juta pekerja tambahan akan dibutuhkan dalam 10 tahun ke depan. Menurut Myriam Sullivan, Direktur Senior di Jobs for the Future’s Center for Apprenticeship & Work-Based Learning, krisis ini lahir dari “badai sempurna”, yaitu ketika tenaga kerja menua, stigma budaya terhadap pekerjaan kerah biru, serta persaingan ketat untuk tenaga terampil.
Ilustrasi industri manufaktur.
Meski stigma masih kuat, data menunjukkan perubahan sikap. Survei Harris Poll 2024 untuk Intuit Credit Karma mencatat 78 persen warga Amerika melihat meningkatnya minat anak muda terhadap pekerjaan berbasis keterampilan. Lonjakan biaya kuliah membuat Gen Z, yang sudah dibayangi utang pendidikan, lebih tertarik pada karier bergaji tinggi tanpa harus menempuh kuliah empat tahun.
Data National Student Clearinghouse menunjukkan pendaftaran community college berbasis vokasi naik 16 persen dalam setahun, sementara jumlah Gen Z yang belajar bidang konstruksi melonjak 23 persen pada 2022–2023.
Namun, ketika pekerjaan kerah putih level pemula semakin hilang, dunia pendidikan dan industri belum mampu menyediakan jalur masuk yang jelas ke pekerjaan kerah biru. Akibatnya, banyak posisi tetap kosong, sementara Gen Z merasa pintu masuknya tertutup.
Clinton Crawford, teknisi otomotif berusia 55 tahun di Arkansas, mengatakan masalah sudah muncul sejak bangku sekolah. Anak-anaknya yang masih SMA tidak pernah diperkenalkan pada pekerjaan kerah biru sebagai pilihan karier yang sah.
“Itu bagus, kalau itu cocok untukmu,” kata Crawford, sebagaimana dikutip dari Fortune, Senin, 22 Desember 2025. “Tapi saya rasa itu tidak untuk semua orang.”
Sementara itu, survei 2025 dari Jobber menyebut bahwa hanya 7 persen orang tua yang ingin anaknya menempuh pendidikan vokasi. Di lain sisi, mayoritas pelajar Gen Z menilai pendidikan vokasi masih membawa stigma sosial dibandingkan kuliah.
Pew Research Center mencatat hanya 3 dari 10 pekerja kerah biru yang merasa pekerjaannya dihormati masyarakat. Akademisi Harvard Michael Sandel juga sudah lama menyoroti ketimpangan antara nilai ekonomi pekerja kerah biru dan penghargaan sosial yang mereka terima.
Di sisi industri, masalah lain muncul, yakin kurangnya investasi pada pelatihan. Myriam Sullivan mengatakan banyak perusahaan berharap kandidat datang sudah “siap pakai”.
Namun, menurut Joe Mahon dari Minneapolis Fed, hambatan terbesar tetap finansial. Banyak peserta pelatihan hanya ditawari US$11 per jam, atau sekitar Rp183.700 per jam, sehingga memilih pekerjaan lain yang langsung memberi upah lebih tinggi.
“Kalau dibayar jauh di bawah penghasilan yang mereka harapkan nanti, itu keputusan yang sulit, terutama bagi mereka yang keuangannya pas-pasan,” ujarnya.
Bagi mereka yang mampu melewati stigma dan hambatan awal, hasilnya nyata. Kyle Knapp, mandor bengkel berusia 38 tahun di California, mengatakan pekerjaannya memberinya “penghidupan yang sangat baik.” Ia mampu membeli rumah dan membesarkan keluarga dengan nyaman.
Di tengah fakta bahwa usia rata-rata pembeli rumah kini mencapai 40 tahun, dan kepemilikan rumah terasa nyaris mustahil bagi banyak Gen Z, pekerjaan kerah biru justru menawarkan stabilitas langka, terutama saat AI terus menggerus pekerjaan entry level kerah putih.