Cari Kerja Makin Susah, tapi Gen Z Masih Punya Harapan
Pasar tenaga kerja global sedang berada dalam tekanan. Lowongan entry level makin terbatas, banyak perusahaan menahan perekrutan, dan ketidakpastian ekonomi membuat masa depan terasa sulit ditebak.
Situasi ini wajar memicu kecemasan, terutama bagi mereka yang baru membangun karier. Namun di tengah gambaran yang tampak suram tersebut, muncul fakta yang cukup mengejutkan.
Generasi Z atau Gen Z, dinilai memiliki pandangan karier paling positif dibanding generasi lain. Optimisme ini bukan karena mereka menilai pasar kerja sedang baik, melainkan karena mereka percaya pada kemampuan diri untuk beradaptasi.
Generasi ini tumbuh di era penuh disrupsi, mulai dari perkembangan teknologi yang sangat cepat, perubahan pola kerja digital, hingga guncangan global seperti pandemi. Pengalaman hidup di tengah perubahan membuat mereka lebih siap secara mental menghadapi ketidakpastian.
"Data survei Indeed menunjukkan 77 persen Gen Z memiliki pandangan positif terhadap prospek karier mereka. Angka ini lebih tinggi dibanding milenial yang berada di kisaran 65 persen," demikian dikutip dari Axios, Jumat, 29 Januari 2026.
Secara umum, lebih dari separuh pencari kerja merasa percaya diri dapat mencapai tujuan profesional mereka, meski kondisi pasar tidak ideal. Sikap ini memperlihatkan bahwa kepercayaan diri personal menjadi modal penting di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu.
Meski demikian, optimisme dari sisi pekerja muda tidak sepenuhnya sejalan dengan pandangan perusahaan. Sebagian besar pemberi kerja yakin mampu memenuhi kebutuhan talenta mereka dalam beberapa tahun ke depan. Namun dari sisi pencari kerja, hanya sebagian kecil yang percaya kondisi pasar kerja secara keseluruhan akan membaik.
Kesenjangan persepsi ini menciptakan tantangan baru dalam proses rekrutmen dan retensi karyawan, karena masing masing pihak merasa sudah berada di jalur yang benar.
Teknologi kecerdasan buatan atau AI menjadi titik gesekan yang paling jelas. Bagi banyak pencari kerja, AI menimbulkan kekhawatiran tentang masa depan keterampilan dan keamanan pekerjaan.
Namun bagi perusahaan, AI justru menjadi prioritas strategis untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Di sinilah posisi Gen Z menjadi menarik. Alih alih hanya melihat AI sebagai ancaman, generasi muda cenderung memandangnya sebagai alat yang bisa dimanfaatkan untuk memperkuat peran mereka.
Selain itu, cara Gen Z membangun karier juga mulai berbeda. Memiliki lebih dari satu sumber penghasilan atau gig stacking makin dianggap wajar. Banyak anak muda tidak lagi bergantung pada satu pekerjaan utama, tetapi mengombinasikan pekerjaan tetap dengan proyek lepas, bisnis kecil, atau pekerjaan digital.
Di sisi lain, pasar kerja saat ini cenderung bergerak lambat. Banyak perusahaan berada dalam posisi menahan perekrutan sekaligus tidak melakukan pemutusan kerja besar besaran. Kondisi ini membuat persaingan semakin ketat, terutama untuk posisi pemula. Dalam situasi seperti ini, sikap adaptif, kemauan belajar, dan penguasaan teknologi menjadi keunggulan utama bagi Gen Z.