Kisah Meeby Sulap Klepon Jadul Jadi Jajanan Gen Z di Kota Malang
Uap tipis mengepul dari panci rebusan di sudut Pasar Klojen, Kota Malang, Jawa Timur. Aroma wangi khas pandan bercampur manisnya gula merah, memenuhi lorong pasar yang setiap akhir pekan ramai dipadati pengunjung.
Di antara deretan stan kuliner yang menawarkan aneka makanan kekinian dan tradisional, tangan cekatan Meeby justru berhasil menyulap kedua kombinasi tersebut. Klepan-klepon namanya.
Di tengah derasnya tren camilan modern, Meeby memilih tetap bertahan dengan klepon, namun dalam wajah yang berbeda.
Ia tidak sekadar menjual jajanan pasar, tetapi mengemasnya dengan sentuhan rasa yang lebih dekat dengan lidah anak muda.
“Kalau klepon itu sebenarnya sudah enak dari dulu, cuma saya ingin bikin versi yang lebih disukai anak muda jaman sekarang,” ujar Meeby kepada Kompas.com, Minggu (31/5/2026).
Klepon aneka rasa di Malang
Selain klepon original dengan isian gula merah yang meleleh saat digigit, Meeby menghadirkan berbagai varian baru. Ada aneka cokelat, matcha, hingga gula kacang. Bahkan, pelanggan bisa memilih kombinasi rasa dalam satu kotak.
Menurutnya, inovasi tersebut lahir dari keberanian mencoba setelah melihat respons pembeli yang terus meningkat sejak pertama kali berjualan.
“Awalnya saya cuma jual dua rasa, original dan cokelat. Tapi ternyata banyak yang penasaran dan balik lagi. Dari situ saya jadi berani nambah varian,” katanya.
Ilustrasi klepon gula merah. Klepon Bulang menjadi ikon kuliner manis dari Sidoarj
Tak hanya soal rasa, daya tarik klepon racikan Meeby juga terletak pada pengalaman melihat proses pembuatannya secara langsung.
Adonan disiapkan di rumah, sementara proses pembentukan hingga perebusan dilakukan di stan, menjadi pengalaman baru bagi Gen Z untuk mengetahui proses pembuatan jajanan tradisional.
“Banyak yang suka karena bisa lihat langsung prosesnya. Apalagi pas masih hangat, digigit isiannya lumer, itu yang bikin beda,” ujarnya sambil tersenyum.
Respons pembeli pun terbilang positif. Saat akhir pekan, penjualan klepon bisa mencapai sekitar 100 box per hari atau setara 1.000 butir klepon. Harga yang ditawarkan juga relatif terjangkau, yakni mulai Rp15.000 hingga Rp35.000 per box, tergantung varian isian.
Bagi Meeby, inovasi ini bukan sekadar soal mengikuti tren, tetapi cara menjaga agar jajanan tradisional tetap dikenal generasi muda di tengah gempuran jajanan kekinian.
“Kalau tidak dikembangkan, mungkin anak-anak sekarang sudah tidak kenal klepon. Saya ingin tetap ada, tapi dengan cara yang lebih menarik,” tuturnya.
Melalui sentuhan kreatif tersebut, klepon yang dulu identik dengan jajanan lawas kini kembali mendapat tempat di hati generasi muda Kota Malang.
Salah satu pelanggan Klepan Klepon, Nabilla Silva (21), mengaku tertarik karena variasi rasa yang tidak biasa untuk jajanan tradisional.
“Biasanya klepon kan cuma gula merah, ini ada cokelat dan matcha juga. Jadi lebih unik saja rasanya juga enak, seperti mochi tapi versi tradisional,” kata Nabilla.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang