Waduh! Konsultasi Kesehatan Mental Meningkat Sejak Lebaran 2026, Paling Banyak dari Gen Z
Masalah kesehatan mental kini semakin menjadi perhatian di tengah masyarakat modern. Tekanan pekerjaan, persoalan ekonomi, hubungan sosial, hingga tuntutan kehidupan digital membuat banyak orang mulai lebih sadar pentingnya menjaga kondisi psikologis.
Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat juga dinilai semakin terbuka untuk mencari bantuan profesional ketika mengalami gangguan emosional, stres berlebihan, hingga kecemasan yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Fenomena tersebut turut tercermin dari meningkatnya jumlah konsultasi kesehatan mental di platform layanan kesehatan digital. Tren ini bahkan mengalami lonjakan signifikan setelah momen Lebaran atau Idul Fitri 2026 dan terus bertahan hingga sekarang.
Peningkatan konsultasi terkait kesehatan mental mulai terlihat sejak dua minggu sebelum Lebaran tahun ini. Awalnya, kenaikan tersebut dikira hanya bersifat sementara karena dipengaruhi momentum Ramadhan dan Idul Fitri. Namun, tren itu justru terus berlanjut.
“Semenjak dua minggu sebelum Lebaran tahun ini, kita melihat ada peningkatan. Awalnya kami kira ini hanya seasonal, tapi ternyata tidak demikian. Jadi tetap naik terus sejak itu, sampai dengan sekarang masih naik terus. Jadi sepertinya memang ada kekhawatiran nyata yang mungkin semakin lama, malah justru semakin besar di masyarakat,” ujar Chief Marketing Officer Halodoc, Fibriyani Elastria, dalam Media Gathering – Halodoc 10th Anniversary, di Jakata, Senin 25 Mei 2026.
Menurutnya, kelompok usia yang paling banyak melakukan konsultasi kesehatan mental berasal dari generasi muda, terutama Gen Z. Setelah itu, kelompok milenial menjadi pengguna terbanyak berikutnya. Sementara generasi X tercatat memiliki proporsi paling kecil karena isu kesehatan mental dinilai belum terlalu umum dibicarakan oleh kelompok usia yang lebih tua.
Kondisi ini menunjukkan bahwa generasi muda kini semakin sadar pentingnya kesehatan psikologis dan tidak lagi ragu mencari bantuan ketika menghadapi tekanan mental. Berbagai keluhan yang muncul pun cukup beragam, mulai dari rasa cemas berlebihan, depresi, stres berkepanjangan, hingga pikiran yang terasa penuh dan sulit dikendalikan.
Hal menarik lainnya yang ditemukan Halodoc adalah kecenderungan pengguna lebih nyaman mengungkapkan masalah mental kepada asisten digital berbasis kecerdasan artifisial (AI) dibanding berbicara langsung dengan manusia pada tahap awal konsultasi.
“Kalau kita lihat yang juga cukup menarik adalah ada kasus-kasus di mana manusia lebih terbuka dengan HILDA atau dengan AI dibandingkan langsung dengan manusia untuk tahap awalnya,” kata Fibriyani.
Ia menjelaskan, pengguna kerap menyampaikan berbagai keluhan kepada HILDA, mulai dari depresi hingga kondisi pikiran yang terasa bising. Setelah itu, sistem AI akan memberikan respons empatik sekaligus mengarahkan pengguna menuju layanan yang sesuai, seperti psikolog maupun psikiater.
Selain itu, konsultasi terkait kesehatan mental ternyata paling banyak dilakukan pada malam hingga dini hari. Fibriyani menyebut jam konsultasi didominasi pada rentang pukul 22.00 hingga 02.00 pagi.
“Jadi yang menarik juga ternyata konsultasi yang terkait mental health banyak terjadinya cukup mendominasi di jam-jam yang larut, dari jam 10 sampai dengan jam 2 pagi,” ujarnya.
Tak hanya masalah kesehatan mental, Halodoc juga mencatat sejumlah keluhan lain yang masuk dalam lima besar konsultasi terbanyak. Di antaranya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penyakit umum seperti batuk, pilek, demam, sakit kepala, masalah kulit seperti eksim dan ruam, hingga kesehatan reproduksi.
Berdasarkan salah satu jurnal Universitas Gadjah Mada, jumlah pengguna Halodoc hingga Maret 2024 telah mencapai 20 juta pengguna. Tahun ini, perusahaan layanan kesehatan digital tersebut juga memasuki usia satu dekade di Indonesia.
Dalam momentum tersebut, Halodoc memperkenalkan sejumlah inovasi baru dalam ekosistem layanan kesehatannya, termasuk HILDA yang kini berkembang menjadi layanan Halodoc on WhatsApp serta fitur Family Care untuk membantu pemantauan kesehatan keluarga.
Chief Operating Officer Halodoc, Alfonsius Timboel, mengatakan bahwa perusahaan ingin terus menghadirkan layanan kesehatan yang semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat modern.
“Sepuluh tahun lalu, kami memulai Halodoc dari pertanyaan sederhana: mengapa akses layanan kesehatan belum merata bagi banyak orang Indonesia? Hari ini, kami bersyukur dapat melayani jutaan masyarakat Indonesia, mulai dari konsultasi dokter, pembelian obat, layanan laboratorium, hingga pemantauan kesehatan keluarga. Milestone terbesar kami bukanlah peluncuran produk, melainkan momen-momen ketika teknologi benar-benar membantu kehidupan masyarakat, termasuk saat pandemi COVID-19. Memasuki dekade berikutnya, kami fokus membangun layanan kesehatan yang tidak hanya digital, tetapi semakin proaktif, personal, dan relevan dengan kebutuhan serta kebiasaan masyarakat yang terus berubah seiring berjalannya waktu”, ungkap Alfonsius Timboel.