Cari Kerja Makin Sulit! Pria Lulusan S3 Ini Kirim Ratusan Lamaran tapi Tetap Tak Ada Panggilan Interview

Ribuan Pencari Kerja Padati Job Fair
Ribuan Pencari Kerja Padati Job Fair

 Mencari kerja di 2026 semakin terasa menantang, bahkan bagi mereka yang datang dengan gelar pendidikan tinggi dan pengalaman akademik panjang. Pasar tenaga kerja yang melambat, perusahaan yang menahan perekrutan, serta biaya hidup yang terus meningkat membuat proses mencari kerja menjadi perjalanan panjang penuh ketidakpastian. 

Di tengah kondisi ini, kisah para pencari kerja kerap diwarnai kompromi besar, dari pekerjaan di luar keahlian hingga rencana hidup yang harus diubah.

Jeremy Liew menjadi salah satu gambaran nyata situasi tersebut. Pria 31 tahun itu sebelumnya yakin gelar doktor di bidang kimia akan mengamankan masa depannya di industri bioteknologi Boston yang mendunia. Namun lebih dari satu tahun setelah meraih PhD dan melamar lebih dari 500 pekerjaan di berbagai perusahaan di kawasan tersebut, tak ada satu pun tawaran kerja untuknya.

Liew pindah dari New Jersey ke Boston pada 2018 karena tertarik dengan padatnya perusahaan bioteknologi, laboratorium riset, dan universitas ternama di kota tersebut. Seperti banyak mahasiswa pascasarjana lainnya, ia beranggapan bahwa pendidikan lanjutan secara otomatis akan berujung pada karier sains yang stabil dan bergaji tinggi. Harapan itu kini runtuh.

Ilustrasi melamar kerja.

Setelah lulus tahun lalu, kondisi finansial Liew memburuk. Tabungannya habis untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Ia sempat mendaftar program bantuan pangan pemerintah dan memangkas pengeluaran sebisa mungkin. 

Demi membayar sewa tempat tinggal di pinggiran Boston, ia akhirnya bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan rintisan kecerdasan buatan, pekerjaan yang jauh dari jalur karier yang ia siapkan selama bertahun-tahun.

Di tengah kebuntuan mencari kerja di Amerika Serikat, Liew mulai melirik peluang dari luar negeri. Ia mengaku mendapat pesan dari perekrut bioteknologi di berbagai negara, termasuk China, yang saat ini tengah agresif mengembangkan industrinya.

“Industri ini benar-benar sedang booming di China,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari VN Express, Rabu, 7 Januari 2026. 

Ia menambahkan bahwa banyak orang mendorongnya untuk melamar pekerjaan di luar negeri. Pengalaman Liew mencerminkan perlambatan yang lebih luas di ekosistem bioteknologi Boston. 

Sektor yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai jalur karier paling aman bagi pekerja berpendidikan tinggi kini tertekan oleh kombinasi pendanaan modal ventura yang mengetat, suku bunga tinggi, serta ketidakpastian dukungan riset dari pemerintah.

Data federal menunjukkan bahwa Massachusetts mengalami penurunan jumlah pekerjaan riset dan pengembangan bioteknologi pada 2024 setelah bertahun-tahun bertumbuh, termasuk selama masa pandemi. Tren pemangkasan tersebut berlanjut hingga setidaknya pertengahan 2025, sementara perekrutan baru berjalan lambat.

Dampaknya terlihat jelas di Boston. Pada akhir September, hampir 28 persen ruang laboratorium di kawasan Boston Raya tercatat kosong. Di Kendall Square, pusat industri ilmu hayati yang berdekatan dengan Massachusetts Institute of Technology, tingkat kekosongan melonjak dari hampir nol pada 2021 menjadi dua digit.

Tekanan paling berat dirasakan oleh perusahaan rintisan. Berdasarkan MassBio’s 2025 Industry Snapshot, investasi modal ventura untuk bioteknologi di Massachusetts turun ke level terendah untuk paruh pertama tahun sejak 2017. 

Nilai pendanaan tahap awal kini rata-rata hanya sekitar sepertiga dari besaran tiga tahun lalu, sehingga peluang kerja bagi lulusan PhD baru semakin menyempit. Efeknya merembet ke sektor lain. 

Restoran dan usaha kecil yang sebelumnya ramai oleh peneliti dan pekerja kantor kini mengeluhkan turunnya jumlah pengunjung seiring meningkatnya PHK dan tertundanya ekspansi perusahaan. Beberapa pengembang bahkan menunda proyek pembangunan laboratorium, sementara perusahaan bioteknologi kecil memilih merampingkan tim demi memperpanjang usia pendanaan.

Bagi para ilmuwan muda, situasi ini terasa membingungkan. Banyak lulusan dengan kredensial elite terpaksa mengirim ratusan lamaran, menerima pekerjaan jangka pendek yang tidak relevan, atau meninggalkan Boston sepenuhnya. 

Sebagian lainnya bahkan memilih meninggalkan bidang ilmu hayati setelah menempuh pendidikan selama lebih dari satu dekade. Pejabat negara bagian pun memperingatkan risiko terjadinya arus keluar talenta. 

Selama ini, mahalnya biaya hidup di Boston dianggap sepadan dengan gaji tinggi dan stabilitas karier di sektor bioteknologi. Tanpa jaminan tersebut, negara bagian lain maupun pasar luar negeri kini menjadi pilihan yang semakin menarik bagi para pencari kerja.