Cari Kerja Makin Susah, 8 dari 10 Pelamar Kini Mulai Putus Asa

Ilustrasi Job Fair Nasional.
Ilustrasi Job Fair Nasional.

Mencari pekerjaan kini terasa semakin berat bagi banyak orang, terutama di tengah persaingan ketat, maraknya penggunaan kecerdasan buatan (AI), hingga banyaknya lowongan kerja palsu yang beredar. Kondisi ini membuat banyak pencari kerja mulai kehilangan motivasi untuk terus melamar pekerjaan.

Sebuah survei terbaru dari Talker Research terhadap 5.000 pencari kerja di Amerika Serikat menemukan bahwa delapan dari 10 pengangguran mengalami kesulitan untuk mempertahankan semangat dalam berburu pekerjaan. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Rasa lelah mental dan frustrasi akibat proses rekrutmen yang panjang menjadi salah satu penyebab utama. “Delapan dari 10 warga Amerika yang menganggur kesulitan menemukan motivasi untuk melanjutkan pencarian kerja mereka,” tulis survei tersebut sebagaimana dikutip dari Your Tango, Selasa, 21 April 2026.

Fenomena ini semakin terasa dengan hadirnya AI yang mulai menggantikan sejumlah pekerjaan, sekaligus memperumit proses seleksi lamaran kerja. Banyak perusahaan kini menggunakan sistem penyaringan otomatis berbasis AI yang membuat pelamar semakin sulit lolos ke tahap wawancara.

Belum lagi munculnya lowongan kerja palsu serta proses melamar kerja yang dinilai semakin rumit dibandingkan sebelumnya. Kondisi ini membuat banyak pencari kerja merasa putus asa dan mempertanyakan apakah upaya mereka masih layak dilanjutkan.

Menariknya, masalah ini tidak hanya dirasakan oleh generasi muda. Survei tersebut menunjukkan bahwa hampir semua generasi mengalami tekanan serupa, mulai dari Gen Z, milenial, Gen X, hingga baby boomers. Meski Gen X dan baby boomers tercatat mengalami masa pengangguran lebih lama, semua kelompok usia sama-sama merasa kewalahan menghadapi pasar kerja saat ini.

Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat (US Bureau of Labor Statistics) melaporkan tingkat pengangguran sebesar 4,3 persen per 3 April 2026. Secara angka, kondisi ini terlihat cukup baik. Namun, data tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kenyataan di lapangan karena tidak membedakan antara pekerjaan profesional dan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan khusus.

Laporan itu menunjukkan sektor kesehatan, transportasi, dan pergudangan masih tumbuh cukup kuat. Sementara sektor lain seperti manufaktur, perdagangan, jasa profesional, teknologi informasi, hingga sektor bisnis menunjukkan pertumbuhan yang minim atau stagnan.

Kelompok yang paling terdampak justru berasal dari lulusan perguruan tinggi, terutama fresh graduate, pekerja kantoran, dan pekerja di sektor teknologi. Mereka mengalami kesulitan besar dalam mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan dan ekspektasi penghasilan.

NPR melaporkan tingkat pengangguran lulusan baru perguruan tinggi mencapai 5,6 persen. Salah satu mahasiswa tingkat akhir jurusan teknik kimia di Howard University mengaku telah melamar ke 50 pekerjaan dalam enam bulan terakhir, namun hanya menerima penolakan atau bahkan tidak mendapat respons sama sekali.

Ekonom Indeed, Laura Ullrich, mengatakan kondisi ini sangat bergantung pada bidang kerja yang dituju. Menurutnya, memang ada banyak sektor yang cocok dengan kemampuan lulusan baru, tetapi sektor yang benar-benar sedang membuka banyak lowongan saat ini jumlahnya terbatas.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Situasi ini diperparah oleh ancaman otomatisasi akibat AI. Untuk tetap kompetitif, sejumlah pakar menyarankan pencari kerja membangun personal branding agar lebih menonjol di mata perusahaan. Personal branding dianggap sebagai cara untuk memasarkan diri layaknya sebuah produk.

Selain itu, upskilling atau meningkatkan keterampilan baru juga menjadi semakin penting, terutama bagi mereka yang jalur kariernya mulai tergeser oleh perkembangan AI. Kemampuan untuk mengadaptasi pengalaman lama ke industri baru dinilai menjadi salah satu kunci agar tetap relevan di tengah pasar kerja yang semakin kompetitif.