Gen Z Bukan Malas Kerja, Riset Sebut Ini Alasan Mereka Ogah Lembur

Ilustrasi kerja bareng Gen Z
Ilustrasi kerja bareng Gen Z

Banyak anggapan yang menyebut generasi Z atau Gen Z kurang memiliki etos kerja karena tidak terbiasa lembur, menolak membalas pesan kantor di luar jam kerja, hingga berani mempertanyakan atasan. Namun, pandangan ini mulai dipatahkan oleh berbagai riset terbaru.

Alih-alih dianggap malas, Gen Z justru dinilai sedang mendefinisikan ulang makna disiplin dalam bekerja. Mereka lebih mengutamakan efisiensi, batas yang sehat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta kerja yang lebih terarah dibanding sekadar budaya lembur tanpa akhir.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bagi sebagian generasi sebelumnya, laptop yang ditutup tepat pukul 18.00 mungkin terlihat seperti kurang ambisius. Namun bagi Gen Z, hal itu justru merupakan bentuk disiplin.

Konsep ini berbeda dari disiplin tradisional yang identik dengan jam kerja panjang dan kesibukan yang terlihat jelas. Kini, disiplin lebih diartikan sebagai kemampuan bekerja efektif dalam batas yang sehat.

Salah satu bentuk disiplin yang paling menonjol adalah soal waktu kerja. Gen Z lebih fokus pada hasil, bukan jumlah jam kerja. Hal tersebut terungkap dalam riset berjudul 'Redefining Work Ethic: Why Gen Z Values Efficiency Over Exhaustion'.

Melansir dari India Today, Minggu, 19 April 2026, riset tersebut menunjukkan bahwa Gen Z lebih memilih menyelesaikan pekerjaan secara efektif dibanding bertahan lama di kantor hanya demi terlihat rajin. Mereka juga dikenal lebih tegas soal batas antara urusan kantor dan kehidupan pribadi, sehingga mereka tidak selalu merasa wajib membalas pesan kerja di luar jam kantor.

Hal ini didukung studi 'A Study on Impact of Gig Economy on Work-Life Balance of Gen Z Employees' yang menunjukkan bahwa paparan terhadap budaya kerja fleksibel membuat generasi muda lebih sadar terhadap risiko kesehatan mental.

Namun batas ini bukan berarti kaku. Artinya, batas yang dibuat bukan penolakan terhadap pekerjaan, melainkan bentuk kesadaran untuk menjaga keseimbangan hidup.

Hal lain yang sering disalahpahami adalah kebiasaan Gen Z mempertanyakan keputusan atasan. Banyak yang menganggap hal itu sebagai bentuk kurang hormat. Padahal, bagi mereka, bertanya adalah bentuk keterlibatan.

Gen Z juga cenderung lebih tegas dalam soal tanggung jawab kerja. Mereka tidak selalu bersedia mengerjakan tugas di luar jobdesk tanpa kompensasi yang jelas.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Penelitian 'Explaining Gen Z’s Desire for Hybrid Work in Corporate, Family and Entrepreneurial Settings' menunjukkan bahwa generasi ini lebih memilih lingkungan kerja yang adil, fleksibel, dan jelas. Banyak milenial menilai pola kerja ini sebagai tanda kurang komitmen. Namun Gen Z melihatnya berbeda.

Pada akhirnya, Gen Z bukan menolak bekerja. Mereka hanya sedang mengubah cara kerja itu sendiri. Disiplin bagi mereka bukan lagi soal bertahan paling lama di kantor, melainkan soal bekerja dengan sadar, menjaga batas, dan memastikan hidup tetap seimbang.