Data: 6 dari 10 Gen Z Utamakan Waktu, Pilih Pindah Hunian Dekat Tempat Kerja
Perubahan gaya hidup generasi muda di kota besar semakin menunjukkan pergeseran signifikan, terutama dalam hal memilih tempat tinggal. Bagi Generasi Z, hunian kini tidak lagi sekadar berfungsi sebagai tempat beristirahat, tetapi juga menjadi faktor penting dalam menunjang efisiensi mobilitas sehari-hari.
Hal ini semakin relevan di Jakarta sebagai pusat aktivitas ekonomi yang identik dengan tingkat kemacetan tinggi.
Berdasarkan data terbaru, sebanyak 6 dari 10 Gen Z mempertimbangkan untuk berpindah hunian demi memangkas waktu tempuh menuju tempat kerja. Fenomena ini mencerminkan meningkatnya kesadaran generasi muda terhadap pentingnya keseimbangan antara waktu, biaya, dan kualitas hidup.
Momentum Hari Angkutan Nasional yang diperingati setiap 24 April turut menyoroti urgensi akses transportasi publik sebagai bagian dari solusi mobilitas perkotaan.
"Sebanyak 6 dari 10 Gen Z di Jakarta mempertimbangkan untuk pindah hunian semata demi mengurangi durasi perjalanan harian mereka. Angka tersebut menunjukkan seberapa besar pengaruh mobilitas terhadap kualitas hidup anak muda, terutama di kota padat seperti Jakarta. Konektivitas bukan sekadar nilai tambah sebuah hunian, tetapi sudah menjadi faktor penentu untuk pilihan hunian generasi muda,” ucap Dian Paskalis, Country Director of Growth and VP of Online Marketing Cove.
Dalam keseharian, Gen Z di Jakarta dan sekitarnya memiliki dua prioritas utama, yakni efektivitas perjalanan dan efisiensi pengeluaran. Preferensi ini tercermin dalam keputusan memilih hunian, di mana faktor jarak ke kantor menjadi pertimbangan utama bagi 40 persen responden, disusul oleh keterjangkauan harga sebesar 38 persen. Artinya, lokasi strategis yang dekat dengan pusat aktivitas menjadi nilai tambah yang signifikan.
Lebih lanjut, sekitar 47 persen Gen Z menganggap waktu tempuh ideal menuju tempat kerja berada pada kisaran 15 hingga 30 menit. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa durasi tersebut kerap sulit dicapai, terutama pada jam sibuk.
Kemacetan lalu lintas, penerapan kebijakan ganjil-genap, hingga fluktuasi tarif transportasi daring menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap hari.
Dalam kondisi tersebut, hunian yang berlokasi dekat dengan akses transportasi umum menjadi solusi yang semakin diminati. Kedekatan dengan moda seperti KRL, MRT, LRT, maupun TransJakarta memungkinkan waktu perjalanan yang lebih konsisten dan terprediksi.
Selain membantu menghemat biaya transportasi, hal ini juga berkontribusi dalam mengurangi tingkat stres akibat mobilitas harian yang tidak menentu.
Tren ini turut mendorong berkembangnya konsep hunian berbasis Transit Oriented Development (TOD). Pengembangan hunian dengan pendekatan TOD tidak hanya memberikan kemudahan akses bagi penghuni, tetapi juga berdampak positif terhadap sektor properti, termasuk industri co-living.
Hunian co-living yang terletak dekat dengan transportasi publik terbukti memiliki daya tarik lebih tinggi di pasar. Secara umum, nilai sewa properti di kawasan ini dapat meningkat sekitar 5 hingga 10 persen.
Bahkan, kenaikan harga sewa bisa lebih signifikan apabila lokasi hunian berada dalam radius kurang dari 500 meter dari akses transportasi umum. Sebaliknya, minat penyewa cenderung menurun apabila jarak hunian melebihi 1 kilometer dari titik transportasi.
Dengan demikian, preferensi Gen Z terhadap hunian strategis menandai perubahan paradigma dalam industri properti urban. Efisiensi mobilitas kini menjadi kunci utama dalam menentukan pilihan tempat tinggal, sekaligus membuka peluang baru bagi pengembangan hunian yang terintegrasi dengan sistem transportasi publik.