Cari Kerja Kantoran Makin Sulit, Sarjana Gen Z Disarankan Pelajari Skill Tukang hingga Barista
Masa depan kerja bagi generasi muda kini menghadapi tantangan serius. Kenyataan di lapangan menemukan bahwa lulusan Gen Z dan millennial yang baru menempuh pendidikan tinggi semakin sulit menemukan pekerjaan entry-level di kantor.
Hal ini dikarenakan banyak peran yang kini diambil alih oleh kecerdasan buatan (AI). Sander van ’t Noordende, CEO global dari perusahaan rekrutmen terbesar dunia, Randstad, bahkan memperingatkan bahwa jalur tradisional dari kuliah ke kantor kini sudah tidak relevan.
“Orang perlu merenungkan, kuliah dan dilatih atau dididik untuk profesi yang cepat berubah, apakah itu masih jalur yang tepat,” ujarnya sebagaimana dikutip dari kepada Fortune, Kamis, 8 Januari 2026.
“Dulu, orangtua kita mengatakan, ‘kuliah dulu, lalu bekerja di kantor,’ jalur itu yang lama berfungsi kini mulai pudar,” tambahnya. “Kamu sudah bisa lihat sendiri, lulusan semakin sulit mendapat pekerjaan. Hal ini terlihat di profesi seperti marketing, komunikasi, desain, lihat saja bagaimana AI sudah unggul di beberapa hal tersebut.”
Ia menyebut, pasar kerja white-collar atau kerah putih memang tampak membeku. Namun, pekerjaan blue-collar atau kerah biru justru bertumbuh.
Ilustrasi Sedang Bekerja
“Permintaan sangat besar di bidang trade dan skilled labor, seperti insinyur mekanik, operator mesin, teknisi perawatan, pengemudi forklift, sopir truk, dan lainnya. Jadi, peluang masih ada,” ungkapnya.
Bahkan, profesi bartender dan barista kini mengalami kenaikan gaji lebih signifikan dibandingkan pekerja kantor. Pemerintah Inggris baru saja mengumumkan investasi sebesar US$965 juta atau setara Rp16,1 triliun untuk program apprenticeship, bagi puluhan ribu pemuda yang menganggur menempati pekerjaan di sektor hospitality, retail, dan AI.
Van ’t Noordende menekankan, bagi mereka yang masih bersikeras kuliah, bidang STEM kemungkinan tetap diminati, terutama di negara seperti Cina yang tingkat pendidikan STEM-nya dua kali lipat dibanding AS dan beberapa negara Eropa.
Bagi yang merasa waktu dan uang mereka untuk kuliah sudah terbuang, van ’t Noordende menyarankan untuk retrain atau belajar keterampilan baru. “Lihat sekelilingmu, temukan peluang yang sesuai dengan keterampilan dan latar belakangmu, dan masuklah ke sana,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa berpindah dari pekerjaan kantoran ke profesi seperti tukang ledeng, guru, atau perawat bukanlah kegagalan, melainkan penyesuaian dengan realitas yang ada. “Kamu harus bangkit dan membangun keterampilan,” tegasnya.