Konsep 'Intimate Podcast' bikin Milenial dan Gen Z Enggak Merasa Digurui

Ilustrasi podcast.
Ilustrasi podcast.

Ada anggapan bahwa mendekatkan diri pada nilai spiritual menuntut seseorang untuk mengubah total penampilan luar secara kaku, menjauh dari pergaulan kota, atau meninggalkan keseharian yang selama ini dijalani.

Padahal, bagi generasi muda urban (perkotaan) seperti milenial dan Gen Z, pencarian makna seringkali justru hadir di tengah rutinitas yang sangat dekat dengan kehidupan mereka, mulai dari bekerja, berkarya, nongkrong, membangun relasi, hingga bermedia sosial.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Melalui platform “Dari Sahabat untuk Sahabat” dengan tema “Aku Ingin Menjadi Siapa yang Baik Menurut Tuhan” yang dihadirkan melalui diskusi beberapa waktu lalu, BCA Syariah menghadirkan ruang percakapan yang menunjukkan bahwa perjalanan spiritual tidak harus terasa jauh, formal, atau eksklusif.

Sebaliknya, nilai spiritual dapat hadir lebih dekat dengan kultur anak muda melalui obrolan yang cair, personal, penuh humor, tetapi tetap menyentuh kegelisahan yang dalam. Tema “Aku Ingin Menjadi Siapa yang Baik Menurut Tuhan” membuka cara pandang bahwa spiritualitas tidak harus hadir dalam satu bentuk yang seragam.

Seseorang bisa datang dari dunia kreatif, komunitas motor, lingkungan kerja, dunia hiburan, atau ruang pergaulan yang sangat beragam, tetapi tetap memiliki dorongan yang sama untuk mencari makna dan ketenangan.

Wakil Presiden Senior Dana, Jasa, dan Komunikasi Pemasaran BCA Syariah, Mia Rahma Amalia, mengaku ada stereotip bahwa orang yang ingin menjadi lebih baik harus tampil dalam bentuk tertentu atau berada di lingkungan tertentu. Padahal, kata dia, dalam kehidupan sehari-hari, proses setiap orang bisa sangat berbeda.

"Yang ingin kami angkat adalah bagaimana perjalanan menuju keberkahan itu bisa terasa lebih dekat dan tidak menghakimi,” jelasnya. Pesan ini menjadi penting bagi generasi muda, karena mereka hidup dalam ruang sosial yang mudah memberi label.

Seseorang bisa dinilai dari cara berpakaian, komunitas yang diikuti, konten yang diunggah, atau masa lalu yang terlihat di media sosial. Padahal, proses menjadi lebih baik sering kali berjalan lebih sunyi, personal, dan tidak selalu terlihat oleh orang lain.

Yang membuat platform Dari Sahabat untuk Sahabat terasa berbeda adalah formatnya yang lebih menyerupai intimate podcast experience. Percakapan berlangsung cair, hangat, dan tidak satu arah.

Para pembicara tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga berbagi pengalaman personal yang membuat audiens lebih mudah merasa terhubung. Format seperti ini menjadi relevan bagi generasi muda yang terbiasa mengonsumsi konten dalam bentuk podcast, talk show, dan percakapan digital.

Mereka tidak selalu mencari nasihat yang terasa menggurui, tetapi membutuhkan ruang yang memberi rasa aman untuk bertanya, mendengar, dan melihat bahwa proses menjadi lebih baik tidak selalu berjalan sempurna.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tema “Aku Ingin Menjadi Siapa yang Baik Menurut Tuhan” menjadi kuat karena menyentuh kegelisahan yang dekat dengan banyak anak muda. Di tengah tekanan untuk selalu terlihat benar, berhasil, dan diterima, muncul kebutuhan untuk memahami diri sendiri dengan lebih jujur.

Platform ini juga memperlihatkan bagaimana kajian dapat hadir dengan cara yang lebih luwes dan relevan. Tidak harus selalu berada dalam suasana yang berjarak, tetapi bisa hadir di tengah percakapan yang akrab, setara, dan dekat dengan realitas anak muda.