Ogah Kerja Bareng Gen Z, Generasi Boomers Pilih Pensiun Lebih Cepat

Ilustrasi kerja bareng Gen Z
Ilustrasi kerja bareng Gen Z

 Perbedaan cara pandang antar generasi kini menjadi isu serius di dunia kerja modern. Bukan hanya soal gaya komunikasi atau etos kerja, tetapi sudah berdampak pada keputusan karier yang besar seperti pensiun dini. 

Sebuah studi terbaru menunjukkan sebagian Baby Boomers memilih pensiun lebih cepat dari dunia kerja karena ketegangan dengan rekan kerja dari Generasi Z.

Survei baru yang dilakukan Clari + Salesloft bersama firma riset independen Workplace Intelligence menemukan bahwa 19 persen Baby Boomers berencana pensiun lebih awal karena lelah berurusan dengan Gen Z di tempat kerja. Studi ini melibatkan 2.000 tenaga penjual dan pemimpin penjualan di Amerika Serikat.

Menariknya, situasi ini bukan sepihak. Gen Z juga menunjukkan kecenderungan menghindari Boomers. Sekitar 28 persen Gen Z mengatakan mereka mencari pekerjaan yang interaksinya minim dengan Baby Boomers.

Laporan tersebut menyebut konflik generasi diperkirakan merugikan perusahaan hingga US$56 miliar per tahun, atau setara sekitar Rp935,2 triliun. Salah satu pemicu utama ketegangan adalah adopsi AI. Teknologi ini memungkinkan sebagian pekerja muda memenuhi target lebih cepat, sementara sebagian pekerja senior belum sepenuhnya beradaptasi.

“Penjualan seharusnya menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan dari AI, tetapi saat ini justru menjadi pemecah, alih-alih pengganda. Beberapa tenaga penjual bergerak lebih cepat, menutup lebih banyak transaksi, dan mencapai target dengan AI. Yang lain menolaknya atau hampir tidak menggunakannya. Kesenjangan itu menciptakan gesekan di dalam tim dan menurunkan kinerja," kata Steve Cox, CEO Clari + Salesloft, sebagaimana dikutip dari NewsWeek, Kamis, 29 Januari 2026.

Di sektor penjualan, 39 persen Gen Z mengatakan lebih memilih dikelola oleh AI dibanding Baby Boomer, sementara 25 persen Boomers lebih memilih bekerja dengan AI daripada rekan Gen Z.

Keseimbangan kerja-hidup juga menjadi titik panas. Sebanyak 71 persen Gen Z percaya Boomers lebih menghargai jam kerja daripada hasil. Sebaliknya, 64 persen Boomers menilai Gen Z memprioritaskan work-life balance di atas kebutuhan bisnis.

Michael Ryan, pakar keuangan dan pendiri MichaelRyanMoney.com, mengatakan, pensiun dini bukan tentang Gen Z. "Ini tentang menyadari permainan yang mereka latih tidak lagi dimainkan,” ujarnya. 

“Gen Z masuk dengan perhitungan bertahan hidup yang berbeda. Mereka melihat loyalitas orang tua mereka dibalas dengan PHK. Mereka masuk ke ketidakpastian AI dan utang," ujarnya. 

"Boomers mendengar kemalasan. Gen Z mendengar eksploitasi. Pekerjaan yang sama, kalkulasi risiko berbeda.”

Lebih lanjut, Ryan memperingatkan risiko jangka panjang jika komunikasi antar generasi terputus. “Ketika generasi berhenti berkomunikasi, Anda bisa kehilangan dua hal sekaligus: memori institusional dari atas, naluri teknis dari bawah. (Akibatnya) produktivitas anjlok.”

Ia menegaskan, masalahnya bukan sekadar saling tidak suka, tetapi kedua pihak memilih menyerah dan berhenti terlibat. Ke depan, ketegangan ini diperkirakan mereda jika kedua generasi mulai memahami nilai dan tekanan yang dihadapi masing-masing. Namun untuk saat ini, konflik generasi telah menjadi faktor nyata yang memengaruhi keputusan karier.