Media Sosial Berdampak Buruk untuk Anak? Pakar Jelaskan Akar Masalahnya

media sosial, media sosial buruk, dampak media sosial, tips parenting, kasus sman 72 jakarta utara, media sosial buruk bagi anak, pengasuhan permisif, Media Sosial Berdampak Buruk untuk Anak? Pakar Jelaskan Akar Masalahnya

Media sosial sering dianggap berdampak buruk pada anak dan remaja. Kasus terbaru yang menjadi contoh ekstrem dari dampak buruk media sosial pada remaja adalah ledakan di SMAN 72 Jakarta, Jakarta Utara, yang mengakibatkan 96 orang luka-luka.

Kendati demikian, Direktur Eksekutif ICT Watch, Indriyatno Banyumurti mengatakan, media sosial hanyalah alat layaknya pisau dapur.

“Pisau bisa jadi (menghasilkan) makanan enak, bisa jadi alat pembunuh. Kalau dalam konteks (media sosial) anak-anak dan remaja, konektivitas dan peran orangtua menjadi penting,” tutur Indriyatno di Kantor Google Indonesia, Jakarta Selatan, Kamis (20/11/2025).

Media sosial tak selamanya buruk untuk anak, asal..

Pengasuhan yang permisif harus diperhatikan

Psikolog sekaligus Ketua Bidang E (Humas, Media dan Edukasi) Himpunan Psikologi Indonesia, Samanta Elsener, M.Psi., mengatakan, konektivitas orangtua yang bisa membuat media sosial buruk adalah pengasuhan yang permisif.

“Ketika orangtua punya pengasuhan yang permisif, terlalu mengizinkan apa pun sama anak atau justru neglect (cuek) terhadap kebutuhan emosional anak-anak, itu nanti berpengaruh terhadap perkembangan emosi anak,” ucap Samanta dalam kesempatan yang sama.

Perkembangan emosi anak berkaitan dengan ketidakmampuan anak untuk meregulasi emosi mereka, alias disregulasi emosi, yang berkaitan juga dengan penurunan fungsi kognitif.

media sosial, media sosial buruk, dampak media sosial, tips parenting, kasus sman 72 jakarta utara, media sosial buruk bagi anak, pengasuhan permisif, Media Sosial Berdampak Buruk untuk Anak? Pakar Jelaskan Akar Masalahnya

Media sosial ibarat pisau karena bisa membantu, bisa membahayakan. Pendampingan orangtua jadi faktor utama agar anak tidak terjebak dampak negatifnya.

Penurunan fungsi kognitif tidak hanya berdampak pada kemampuan anak untuk meregulasi emosi, seperti yang dipaparkan oleh dr. Zulvia Oktanida Syarif, Sp.KJ, yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI).

“Kami melihat adanya hendaya (gangguan) pada fungsi kognitif pada remaja. Remaja kami teliti fungsi kognitifnya. Daya pikirnya, memori, konsentrasi, kemampuan pengambilan keputusan, dan pengendalian impuls, ternyata rendah,” jelas dr. Vivi dalam kesempatan yang sama.

Tahun ini, PDSKJI melakukan riset nasional terhadap 624 remaja berusia 13-24 tahun di berbagai wilayah di Indonesia menggunakan Alat Ukur Fungsi Eksekutif Indonesia (AUFEI).

AUFEI dikembangkan dan diadaptasi oleh PDSKJI sesuai konteks budaya Indonesia, serta mencakup lima domain yaitu Working Memory, Inhibitory Control, Cognitive Flexibility, Planning and Organization, dan Spiritual Function.

Hasilnya, sebanyak 507 remaja belum berkembang secara optimal pada fungsi eksekutif, sedangkan 117 remaja telah berkembang dengan baik.

“Fungsi eksekutif adalah pusat kendali otak yang menentukan kemampuan seseorang mengatur diri, berpikir fleksibel, dan mengambil keputusan bijak,” kata Ketua Bidang Pendidikan, Pelatihan, dan Penelitian PP PDSKJI, Dr. dr. Suzy Yusna Dewi, Sp.KJ(K), MARS, dalam keterangan pers perihal riset PDSKJI yang diberikan oleh dr. Vivi kepada Kompas.com, Kamis.

Orangtua jadi garda terdepan penyaring kegiatan anak

media sosial, media sosial buruk, dampak media sosial, tips parenting, kasus sman 72 jakarta utara, media sosial buruk bagi anak, pengasuhan permisif, Media Sosial Berdampak Buruk untuk Anak? Pakar Jelaskan Akar Masalahnya

Psikolog dan Ketua Bidang Humas HIMPSI, Samanta Elsener, di sela acara Beranda Jiwa di kantor Google Indonesia di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Kamis (20/11/2025).

Samanta melanjutkan, selama sepuluh tahun terakhir, media sosial dipenuhi oleh konten-konten soal kesehatan mental, yang mana tidak semuanya dibuat oleh tenaga profesional.

Konten-konten seperti itu memang bagus karena memperkenalkan masyarakat terkait kesehatan mental secara lebih mendalam, tapi bisa jadi bumerang bagi anak dan remaja dengan orangtua yang cuek.

“Proses pengasuhan itu (permisif) akan semakin menjadi jurang pemisah. Orangtua perlu berfungsi sebagai garda terdepan untuk menyaring apa yang dilakukan (dan ditonton) anak-anak,” tutur dia.

Orangtua yang turut andil dalam apa pun yang dilakukan dan dikonsumsi anak di media sosial, bisa membantu mereka menelaah apa yang dilihat di dunia maya, dan membantu mereka menilai apakah hal tersebut baik atau buruk.

Ayah dan ibu juga bisa membantu membatasi screen time anak, yang bisa menurunkan fungsi kognitif, karena anak menggunakannya secara bebas tanpa kendali.

Menurut Indriyatno, peran orangtua bisa mencegah anak menyebabkan apa yang terjadi dalam kasus SMAN 72. Sebab, saat ini aksi terorisme tidak harus terjadi dengan “belajar” ke orang-orang tertentu.

“Teroris dulu harus merekrut orang untuk masuk ke grup. Ketemu orang satu per satu, ngajakin nongkrong, ngopi, dan segala macam. Sekarang itu semua dilakukan di media sosial, dibilangnya terorisme open source. Semua orang bisa mendalami itu semua tanpa perlu ada perantara orang khusus,” ucap dia.

“Ketika kita bersikap permisif untuk membiar anak dengan perangkatnya (gadget), dan membiarkannya sendiri, dan akhirnya mereka ‘diasuh’ oleh algoritma media sosial, ini yang menjadikannya alat berbahaya,” sambung Indriyatno.

Penggunaan media sosial dibatasi dan didampingi orangtua

Ketika penggunaan media sosial dibatasi dan didampingi oleh orangtua, platform tersebut bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Sebab, saat ini manusia bisa belajar banyak lewat media sosial, seperti mempelajari bahasa baru, mencari soal untuk belajar, menemukan informasi seputar beasiswa, belajar bermain gitar, dan lain sebagainya.

“Adanya komunikasi, konektivitas, bonding yang jelas dan kuat antara orangtua dan anak, akan menjadikan media sosial sebagai alat yang ampuh untuk edukasi. Alat yang ampuh untuk bisa memberikan tumbuh kembang yang baik buat anak,” pungkas Indriyatno.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.