Kasus Anak Bunuh Ibu di Medan, Psikolog Jelaskan Pengaruh "Game Online" ke Perilaku

Kasus Anak Bunuh Ibu di Medan, Psikolog Jelaskan Pengaruh

Baru-baru ini di Medan, Sumatera Utara, terjadi kasus di mana seorang anak (12) melukai ibunya menggunakan pisau sehingga berujung meninggal dunia.

Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu (10/12/2025) lalu. Sang anak bangun dan mengambil pisau dari dapur, kemudian melukai ibunya yang sedang tertidur.

Kapolrestabes Medan Kombes Calvin Simanjuntak, Senin (29/12/2025), menyampaikan salah satu motif tindakan tersebut adalah sakit hati karena sang ibu menghapus game online.

Selain itu, sang anak juga disebut sering kali memainkan game online yang menggunakan pisau dan menonton serial anime yang menampilkan pisau.

Berkaca dari kasus tersebut, ternyata game online memiliki pengaruh terhadap perilaku kekerasan yang dilakukan pemainnya.

Game online bisa picu perilaku kekerasan

Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, mengatakan bahwa game online (terutama yang mengandung kekerasan) memiliki pengaruh terhadap perilaku kekerasan yang dilakukan anak.

“Ya, namun tidak secara otomatis atau linier,” kata Danti saat dihubungi Kompas.com, Selasa (30/12/2025).

“Penelitian psikologi menunjukkan bahwa paparan konten kekerasan yang intens dapat memengaruhi kognisi dan emosi, tetapi efeknya berbeda-beda pada setiap anak,” sambungnya.

Lebih lanjut, Danti menjelaskan, game (dalam kasus yang terjadi di Medan) berperan sebagai pemicu (trigger) dan penyedia model perilaku.

“Namun ada faktor kerentanan lain (seperti kematangan emosi, adiksi, dan kemungkinan masalah kesehatan mental yang tidak terdeteksi) yang membuat tragedi ini terjadi,” ujar Danti.

Pengaruh game online terhadap perilaku anak

Kasus Anak Bunuh Ibu di Medan, Psikolog Jelaskan Pengaruh

Ilustrasi bermain game online. Pengaruh game online terhadap perilaku kekerasan yang dilakukan anak.

Danti juga menjelaskan beberapa pengaruh yang diakibatkan oleh game online terhadap perilaku anak, mencakup:

1. Desensitisasi (penurunan kepekaan)

Danti menyebut, paparan kekerasan berulang dalam game (seperti menggunakan pisau) dapat membuat anak merasa bahwa kekerasan adalah hal yang biasa, wajar, atau bahkan solusi yang efektif.

Kondisi tersebut membuat rasa empati terhadap rasa sakit orang lain bisa terkikis secara perlahan.

2. Priming (aktivasi pikiran agresif)

Adegan kekerasan dalam game "menyiapkan" otak untuk merespons situasi stres dengan cara yang agresif.

Ketika anak merasa terancam atau marah (misalnya saat game-nya dihapus), memori atau skema perilaku kekerasan dari game tersebut lebih mudah muncul di kepalanya.

3. Identifikasi Karakter

Berbeda dengan menonton film, dalam game anak adalah "pelaku" atau memiliki peran sebagai tokoh utama.

Ia yang mengendalikan senjata dan mendapatkan hadiah (poin/menang) atas tindakan tersebut. Hal ini memperkuat internalisasi perilaku agresif.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang