Fenomena Jasa Teman Jalan, Psikolog Jelaskan Kaitannya dengan Kesepian Urban

Kesepian, jasa teman jalan, jasa teman curhat, kesepian urban, loneliness, loneliness urban, jasa teman ngobrol, jasa teman ngopi, mengapa orang tertarik dengan jasa teman jalan, Fenomena Jasa Teman Jalan, Psikolog Jelaskan Kaitannya dengan Kesepian Urban, Mengapa obrolan dengan orang asing memberi rasa nyaman?, Jasa teman solusi sementara untuk kesepian, Mayoritas klien adalah perempuan, Apa yang dipelajari dari fenomena jasa teman jalan?

Setiap orang tentu butuh interaksi dengan sesamanya. Namun, di tengah hiruk pikuk kota besar, tak sedikit orang kesulitan membangun sekaligus merawat pertemanan.

Fenomena jasa "teman jalan" pun hadir sebagai solusi instan untuk kebutuhan bersosialisasi, mulai dari menemani nongkrong, jalan-jalan, hingga menghadiri acara.

Salah satunya adalah layanan Jasa Gue Temenin yangyang ramai diminati di Jakarta.

Mengapa orang tertarik dengan jasa "teman jalan"?

Psikolog klinis Mira Damayanti Amir, S.Psi., menilai tren ini bukan sekadar gaya hidup.

“Hubungan interpersonal itu butuh waktu, tenaga, dan keterampilan sosial. Tidak semua orang memilikinya secara memadai, terutama jika kemampuan ini tidak diasah sejak kecil,” kata Mira, saat dihubungi Kompas.com, Senin (29/9/2025).

Menurutnya, keluarga sering fokus pada prestasi akademis atau karier, sehingga keterampilan bersosialisasi kurang diperhatikan.

Akibatnya, meski sukses materi, beberapa orang tetap merasa kesepian.

Mengapa obrolan dengan orang asing memberi rasa nyaman?

Menariknya, banyak orang merasa lebih nyaman berbicara dengan orang asing daripada teman dekat.

"Kadang orang lebih lega bercerita pada orang yang tidak mereka kenal, karena tidak ada penilaian," jelas Mira.

Kebutuhan untuk didengar tanpa dihakimi adalah kebutuhan dasar manusia, yang jika tidak terpenuhi dapat memengaruhi kesehatan mental dan produktivitas.

Jasa teman solusi sementara untuk kesepian

Menurut Mira, jasa teman jalan bisa menjadi solusi mengatasi kesepian, namun hanya sementara.

“Kalau ingin membangun relasi jangka panjang, itu berbeda. Tetapi untuk ditemani sebentar atau sekadar berbagi cerita, jasa ini bisa membantu, tergantung kondisi masing-masing,” ujar Mira.

Aktivitas sederhana, seperti ngobrol santai atau tertawa bersama, dapat memicu hormon oksitosin, hormon yang dikenal sebagai ‘hormon bahagia’, sehingga membantu meredakan stres.

Mayoritas klien adalah perempuan

Fakta menarik, pemilik jasa Gue Temenin Jalan, Johanes David Gratias Pero (32), dalam wawancara dengan Kompas.com menyebut mayoritas klien jasa ini adalah perempuan.

Menurut Psikolog Mira, hal ini berkaitan dengan faktor keamanan dan kebutuhan ekspresi verbal.

“Perempuan biasanya ingin ruang untuk menyalurkan cerita atau curhat dengan risiko minimal, seperti dilindungi oleh biro jasa,” jelasnya.

laki cenderung mencari teman dengan cara berbeda dan lebih berani bersosialisasi secara langsung.

Apa yang dipelajari dari fenomena jasa teman jalan?

Meski membantu mengatasi kesepian, fenomena teman jalan juga menimbulkan pertanyaan soal kualitas relasi.

Jasa ini bersifat transaksional, sehingga kedekatan emosional mungkin tidak terbentuk sebagaimana pertemanan alami.

“Kalau terlalu sering mengandalkan teman bayaran, seseorang bisa kehilangan kesempatan membangun relasi yang lebih sehat dan tahan lama,” tambah Mira.

Mira menambahkan, fenomena ini mengingatkan kita bahwa interaksi sosial dan kemampuan membangun hubungan adalah bagian penting dari kesehatan mental.

Bersosialisasi, mendengarkan, dan didengar bukan sekadar hiburan, tapi bagian dari kebutuhan psikologis manusia yang memengaruhi kebahagiaan dan produktivitas.

Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.