Banyak Anak Indonesia Alami Gejala Cemas dan Depresi, Psikolog Jelaskan Penyebabnya

Banyak Anak Indonesia Alami Gejala Cemas dan Depresi, Psikolog Jelaskan Penyebabnya, 1. Faktor biologis yang memengaruhi kondisi mental anak, 2. Faktor psikologis seperti trauma dan rendahnya kepercayaan diri, 3. Faktor sosial, 4. Lingkungan keluarga yang toksik, 5. Pengaruh media sosial dan krisis keteladanan

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menemukan indikasi masalah kesehatan jiwa berupa kecemasan dan depresi pada ratusan ribu anak di Indonesia. 

Temuan ini didapatkan setelah sekitar 7 juta anak menjalani skrining kesehatan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada periode 2025–2026.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebutkan, sebanyak 4,4 persen atau sekitar 338.000 anak menunjukkan gejala cemas (anxiety disorder). 

Sementara itu, sekitar 4,8 persen atau sekitar 363.000 anak menunjukkan gejala depresi (depression disorder).

Temuan ini memunculkan kekhawatiran sekaligus pertanyaan mengenai faktor yang menyebabkan banyak anak mengalami masalah kesehatan mental sejak usia dini. Lantas, apa saja faktor yang bisa memicu kecemasan dan depresi pada anak?

5 Faktor penyebab cemas dan depresi pada anak

1. Faktor biologis yang memengaruhi kondisi mental anak

Salah satu faktor yang dapat memicu gangguan kecemasan dan depresi pada anak berasal dari aspek biologis.

“Faktor ini bisa karena hormon, pubertas, kondisi fisik,” ujar Psikolog klinis anak dan remaja Lydia Agnes Gultom, M.Psi. kepada Kompas.com, Sabtu (14/3/2026).

Perubahan biologis pada masa pertumbuhan, terutama saat memasuki masa pubertas, dapat memengaruhi kondisi emosional anak. 

Perubahan hormon yang terjadi pada fase ini sering kali membuat anak menjadi lebih sensitif secara emosional.

Selain itu, kondisi kesehatan fisik tertentu juga dapat memengaruhi kesehatan mental anak. 

Anak yang memiliki penyakit kronis atau kondisi kesehatan tertentu berpotensi mengalami tekanan emosional yang lebih besar dibandingkan anak lain seusianya.

2. Faktor psikologis seperti trauma dan rendahnya kepercayaan diri

Selain faktor biologis, kondisi psikologis anak juga berperan besar dalam munculnya gejala kecemasan maupun depresi.

“Misalnya kepercayaan diri yang rendah, ketidakmampuan meregulasi emosi, ada pengalaman trauma,” jelas Lydia.

Anak yang memiliki kepercayaan diri rendah atau kesulitan mengelola emosi cenderung lebih rentan mengalami tekanan psikologis. Situasi ini bisa semakin kompleks jika anak pernah mengalami pengalaman traumatis.

Trauma yang tidak tertangani dengan baik dapat meninggalkan dampak emosional jangka panjang. Hal ini kemudian dapat memicu munculnya kecemasan berlebih maupun perasaan sedih yang berkepanjangan.

3. Faktor sosial

Lingkungan sosial juga menjadi faktor penting yang memengaruhi kesehatan mental anak.

“Kondisi atau konflik keluarga, permasalahan akademia, pertemanan, masalah finansial, pola asuh, kehilangan, penyakit kronis, dan lain-lain,” kata Lydia.

Berbagai situasi tersebut dapat menimbulkan tekanan emosional pada anak. Konflik dalam keluarga, misalnya, dapat membuat anak merasa tidak aman secara emosional.

Selain itu, tekanan akademik, permasalahan dengan teman sebaya, hingga kondisi ekonomi keluarga juga dapat memengaruhi kondisi psikologis anak.

4. Lingkungan keluarga yang toksik

Psikolog anak dan remaja Gloria Siagian, M.Psi. menambahkan, lingkungan keluarga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kesehatan mental anak.

“Lingkungan keluarga itu bisa bikin anak jadi cemas dan depresi karena lingkungan keluarga yang toksik, serta tidak memahami pengasuhan yang baik dan positif kepada anak,” ujar Gloria.

Menurut dia, pola pengasuhan yang tidak sehat sering kali berangkat dari pengalaman pribadi orangtua yang belum selesai.

“Alhasil, pengasuhannya lebih berangkat dari luka, trauma, dan keinginan pribadi. Lingkungan keluarga yang toksik itu juga bisa bikin anak anxiety,” lanjutnya.

Ketika anak tumbuh dalam lingkungan yang tidak aman secara emosional, risiko munculnya gangguan kecemasan dan depresi menjadi lebih besar.

5. Pengaruh media sosial dan krisis keteladanan

Faktor lain yang juga berperan adalah paparan digital yang berlebihan serta kondisi sosial yang terjadi di masyarakat.

“Overstimulasi dari digital juga bisa bikin anak jadi depresi dan cemas, karena mereka sekarang ini membandingkan diri terus-menerus dengan melihat apa yang terjadi media sosial,” kata Gloria.

Ia menjelaskan, anak-anak sering kali belum memiliki kemampuan yang cukup untuk mengelola informasi yang mereka terima dari dunia digital.

Selain itu, fenomena yang sering viral di media juga dapat memicu kecemasan.

“Maksudnya kayak berita-berita viral yang ada di Indonesia atau kondisi-kondisi yang diciptakan juga bisa menimbulkan kecemasan buat anak dan remaja,” ujarnya.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental anak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari kondisi biologis, psikologis, hingga lingkungan sosial di sekitarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang