Pemprov DKI Kerahkan Kader untuk Edukasi Warga soal Pola Asuh Digital
Edukasi mengenai pola asuh di era teknologi sangat dibutuhkan agar setiap orangtua menyadari pentingnya perlindungan anak.
Untuk mendukung kebijakan pemerintah soal ruang siber yang aman, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengambil langkah proaktif dengan memaksimalkan peran komunitas yang sudah ada di lingkungan permukiman warga, yakni kader Dasawisma.
Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) Provinsi DKI Jakarta, dr. Dwi Oktavia mengatakan, pendekatan langsung ke masyarakat dinilai lebih efektif untuk memetakan dan menjawab tantangan yang dihadapi orangtua, seperti mengelola durasi pemakaian layar maupun menangani anak yang tantrum akibat gawai.
"Para orangtua harus tahu bahwa mereka butuh untuk bisa mengelola medsos yang sehat," tutur Dwi dalam acara media diskusi yang diadakan oleh Google dan Youtube di Jakarta (8/6/2026).
Menurutnya kesadaran awal dari dalam rumah tangga merupakan kunci utama. Ketika orangtua sudah menyadari kebutuhan tersebut, mereka akan lebih terbuka menerima panduan dan arahan tentang cara mendampingi anak dalam menggunakan internet secara bijak.
Cara Pemprov DKI bangun literasi digital warga
Pemerintah menyadari bahwa kegiatan edukasi berupa seminar atau kelas daring tidak akan menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara maksimal. Oleh karena itu, diperlukan metode distribusi informasi yang lebih membumi dan mudah diakses oleh para warga.
Untuk merealisasikan penyebaran materi tersebut, instansi pemerintah daerah melibatkan puluhan ribu relawan akar rumput yang tersebar di berbagai rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW).
"Kita se-DKI ada 76.000 kader Dasawisma," ungkap Dwi.
Para kader ini bertugas sebagai agen sosialisasi yang memberikan pendampingan langsung. Keberadaan mereka sebagai anggota lingkungan masyarakat setempat membuat proses edukasi menjadi lebih dekat dan mudah dipahami oleh para orangtua.
Agar proses pemantauan efektif, pembagian tugas di lapangan telah diatur secara sistematis guna menghindari adanya keluarga yang terlewat dari program penyuluhan.
"Kader Dasawisma ini, setiap orang itu sudah mempunyai binaan 20 sampai 30 keluarga. Jadi ini enggak ada yang tumpang tindih pegangan keluarganya," jelasnya.
Rutin bagikan broadcast mingguan
Demi kelancaran penyampaian pesan, alur distribusi informasi dirancang sesederhana mungkin. Para relawan di lapangan tidak dibebani keharusan untuk menggunakan aplikasi baru yang rumit dan menyita waktu.
Pesan-pesan ringkas seputar pedoman mendampingi anak menggunakan gawai disalurkan secara rutin melalui aplikasi perpesanan seperti WhatsApp.
"Kader Dasawisma ini setiap minggu akan menerima broadcast dari Kantor Dinas PPAPP yang nanti beliau akan teruskan ke keluarga-keluarga binaannya," ucap dr. Dwi.
Langkah ini memastikan bahwa setiap rumah tangga mendapatkan pengingat dan tips praktis tanpa harus meluangkan waktu khusus menghadiri acara luring.
Sediakan wadah informasi terintegrasi
Selain mengandalkan broadcast, pemerintah daerah juga memfasilitasi kebutuhan literasi yang lebih mendalam lewat sebuah wadah informasi terintegrasi.
Pusat data ini disediakan bagi warga yang ingin mempelajari topik pengasuhan digital lebih lanjut.
Berbagai materi komprehensif disusun untuk menjawab kebingungan ayah dan ibu dalam menghadapi tren teknologi yang terus berganti.
"Kami punya platform namanya PUSPA, berisi informasi penting buat orangtua tentang bagaimana mereka bisa antara lain menggunakan platform digital yang sehat buat anaknya," pungkas Dwi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang