Kejanggalan Kematian Santri di Kubu Raya, Disebut Alergi Paracetamol tapi Wajah Lebam

Kubu Raya, Pontianak, Kejanggalan Kematian Santri di Kubu Raya, Disebut Alergi Paracetamol tapi Wajah Lebam

Seorang santri berinisial IZA asal Kabupaten Kayong Utara meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan di rumah sakit di Pontianak, Kalimantan Barat.

IZA merupakan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Labbaik Indonesia yang berada di Kabupaten Kubu Raya. 

Ia sempat dirawat secara intensif setelah ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri.

Namun, kematian santri tersebut memunculkan tanda tanya bagi pihak keluarga. 

Pasalnya, kondisi fisik korban yang mereka lihat di rumah sakit dinilai tidak sesuai dengan informasi awal yang diberikan oleh pihak pesantren.

Kejanggalan Kasus Kematian Santri di Kubu Raya

Sebelum korban meninggal dunia, pihak keluarga sempat menerima kabar dari pihak pesantren bahwa IZA mengalami reaksi alergi setelah mengonsumsi obat paracetamol.

Mendapat informasi tersebut, orangtua korban, Ahmad Edi Santoso dan Nur Hasanah, segera berangkat dari Kabupaten Kayong Utara menuju Kubu Raya untuk melihat kondisi anak mereka.

Ketika tiba di rumah sakit, keduanya mengaku terkejut karena kondisi anak mereka berbeda dengan penjelasan yang sebelumnya disampaikan.

“Kami awalnya diberitahu anak kami alergi paracetamol. Tapi setelah melihat langsung, wajahnya lebam dan bengkak parah. Ini terlihat bukan seperti alergi,” ujar Ahmad, dikutip dari TribunPontianak, Jumat (13/3/2026).

Berdasarkan foto yang beredar, korban terbaring di tempat tidur rumah sakit dengan kondisi kedua mata membengkak hingga hampir tertutup.

Selain itu, memar berwarna gelap tampak di sekitar mata dan pipi korban. Pada bagian kening juga terlihat benjolan yang cukup besar.

Dokter jaga di RS Anton Soedjarwo Bhayangkara Polda Kalbar yang pertama menangani korban juga menyampaikan adanya indikasi trauma di bagian kepala sehingga diperlukan pemeriksaan lebih lanjut.

“Dokter mengatakan ada trauma di kepala,” jelas Ahmad.

Setelah itu, korban dirujuk ke RSU Santo Antonius Pontianak untuk menjalani pemeriksaan oleh dokter spesialis bedah saraf. 

Namun, setelah menjalani perawatan, korban akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

Pihak keluarga meminta pihak pesantren memberikan penjelasan secara terbuka terkait penyebab kematian korban.

Selain itu, keluarga korban juga meminta kasus ini diusut secara menyeluruh.

Kata Polisi dan Pesantren soal Kasus Santri Meninggal

Kasubsi Penmas Polres Kubu Raya, Apitu Ade, mengatakan pihak kepolisian telah mendatangi rumah sakit untuk memastikan kondisi korban.

Ia menegaskan bahwa kepolisian tetap melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti kematian korban.

“Kami sudah mendatangi rumah sakit dan diketahui bahwa yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia,” ujar Ade.

“Untuk proses hukum tetap berjalan dan ini tetap akan menjadi atensi Kapolres Kubu Raya,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Pesantren Labbaik Indonesia, Aswandi Alfatih, menyatakan pihaknya belum dapat memastikan penyebab kematian korban.

“Kami belum bisa memberikan keterangan lebih jauh. Kami tidak bisa memastikan soal kesadarannya karena itu ranah medis. Namun yang kami ketahui, kondisinya belum kembali normal seperti biasa,” kata Aswandi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang