Lampion Raksasa 4,6 Meter Hiasi Vihara Hiang Thian Siang di Kubu Raya, Simbol Kebersamaan Umat Tri Dharma
Vihara Hiang Thian Siang di Desa Kakap, Kabupaten Kubu Raya, menghadirkan suasana berbeda dalam perayaan umat Tri Dharma tahun ini.
Sebuah lampion raksasa dipasang di area vihara sebagai simbol kebersamaan sekaligus semangat menyambut perayaan. Kehadiran ornamen berukuran jumbo tersebut langsung mencuri perhatian warga dan umat yang datang beribadah.
Lampion raksasa itu memiliki tinggi mencapai 4,6 meter dengan diameter sekitar 78 sentimeter.
Ukurannya jauh lebih besar dibandingkan dekorasi lampion pada perayaan tahun-tahun sebelumnya.
Panitia sengaja menghadirkan lampion berukuran besar untuk memperkuat nuansa perayaan sekaligus menjadi penanda semaraknya kegiatan keagamaan di lingkungan vihara.
Mengapa Lampion Raksasa Menjadi Daya Tarik Perayaan?
Keberadaan lampion jumbo tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi semata. Lampion tersebut juga menjadi simbol persatuan dan kebersamaan umat Tri Dharma yang terdiri dari penganut Buddha, Konghucu, dan Tao.
Ukurannya yang mencolok membuat lampion ini mudah terlihat dari kejauhan, sehingga menambah semarak suasana vihara, terutama pada malam hari.
Selain itu, lampion raksasa juga menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat sekitar. Banyak warga yang datang untuk melihat langsung dekorasi tersebut, bahkan mengabadikannya dalam foto.
Hal ini menunjukkan bahwa perayaan keagamaan di vihara juga memiliki nilai sosial dan budaya yang mampu menarik perhatian masyarakat luas.
Bagaimana Proses Pembuatan Lampion Jumbo Ini?
Ketua Klenteng Tri Dharma Hiang Thian Siang Kakap, Lim Hie Thian, menjelaskan bahwa proses pembuatan lampion raksasa tidak dilakukan secara instan. Dibutuhkan waktu sekitar satu pekan untuk menyelesaikan seluruh tahapan pengerjaan.
“Pengerjaannya sekitar satu minggu, kalau tidak ada kendala tanggal 3 malam sudah siap semuanya,” ujar Lim.
Menurut Lim, proses pembuatan diawali dengan persiapan bahan-bahan utama. Rangka lampion dibuat dari bambu dan rotan yang dipilih secara khusus.
Bahan-bahan tersebut tidak langsung digunakan, melainkan melalui tahap pembersihan dan pemolesan agar lebih kuat dan tahan lama saat dipasang.
“Kita siapkan bambunya, rotannya, dipoles dulu, dibersihkan, supaya lampionnya kokoh,” kata Lim.
Tahapan ini dinilai penting mengingat ukuran lampion yang cukup besar, sehingga kekuatan rangka menjadi faktor utama demi keamanan dan ketahanan ornamen.
Mengapa Seluruh Kain Lampion Diganti Baru?
Pada perayaan tahun ini, panitia memutuskan untuk menggunakan seluruh bahan kain baru pada lampion raksasa. Keputusan tersebut diambil agar warna lampion tampak lebih cerah dan menarik.
“Kain lama tidak dipakai karena warnanya sudah pudar, jadi tahun ini pakai kain baru semua,” sambung Lim.
Kain lama dinilai sudah tidak layak digunakan karena sebelumnya terpapar hujan dan cuaca terbuka dalam waktu lama.
Dengan penggunaan kain baru, lampion diharapkan tampil lebih segar dan mampu memperindah suasana vihara selama perayaan berlangsung.
Dalam proses pengerjaannya, Lim menyebut bahwa kerangka dan desain utama lampion ditangani oleh satu orang perajin yang sudah berpengalaman.
Sementara itu, tahapan pengecatan rangka dan pemasangan kain dilakukan secara gotong royong bersama para relawan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang