Santri di Kubu Raya Meninggal Dunia: Wajah Lebam, Diduga Jadi Korban Kekerasan

Kubu Raya, Santri di Kubu Raya Meninggal Dunia: Wajah Lebam, Diduga Jadi Korban Kekerasan

Seorang santri berinisial IZA asal Kabupaten Kayong Utara meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan di rumah sakit di Pontianak, Kalimantan Barat.

IZA merupakan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Labbaik Indonesia, Kabupaten Kubu Raya.

Kematian santri tersebut diduga berkaitan dengan tindakan kekerasan yang dialaminya saat berada di lingkungan ponpes.

Dugaan itu muncul setelah korban ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri dengan sejumlah luka serta lebam di bagian wajah.

Selain itu, korban juga diduga mengalami trauma di bagian kepala sehingga harus mendapatkan penanganan medis intensif di rumah sakit.

Namun setelah menjalani perawatan oleh tim medis, korban akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

Polisi Usut Penyebab Kematian Korban

Kasubsi Penmas Polres Kubu Raya Apitu Ade mengatakan pihak kepolisian telah mendatangi rumah sakit untuk memastikan kondisi korban.

Dari hasil pengecekan yang dilakukan, tenaga medis menyatakan korban telah meninggal dunia.

“Kami sudah mendatangi rumah sakit dan diketahui bahwa yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia,” ujar Ade, dikutip dari TribunPontianak, Jumat (13/3/2026).

Keluarga berencana membawa jenazah korban ke Kabupaten Kayong Utara untuk dimakamkan.

Meski demikian, kepolisian memastikan penanganan hukum terkait peristiwa tersebut tetap berjalan.

Polisi akan melakukan penyelidikan lebih lanjut guna mengetahui penyebab pasti kejadian yang menimpa korban.

Ade juga menyebut kasus tersebut menjadi perhatian pimpinan kepolisian di wilayah setempat.

“Untuk proses hukum tetap berjalan dan ini tetap akan menjadi atensi Kapolres Kubu Raya,” pungkasnya.

Saat ini polisi masih mengumpulkan keterangan dari sejumlah pihak untuk mengungkap kronologi kejadian serta memastikan dugaan kekerasan yang menyebabkan korban meninggal dunia.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Pesantren Labbaik Indonesia, Aswandi Alfatih, menyatakan pihaknya belum dapat memastikan penyebab kematian IZA.

"Kami belum bisa memberikan keterangan lebih jauh. Kami tidak bisa memastikan soal kesadarannya karena itu ranah medis. Namun yang kami ketahui, kondisinya belum kembali normal seperti biasa," katanya.

Awal Mula Keluarga Terima Kabar Santri Meninggal

Sebelum korban meninggal dunia, pihak keluarga sempat menerima informasi dari pihak pesantren bahwa korban mengalami reaksi alergi setelah mengonsumsi obat parasetamol.

Mendapat kabar tersebut, orangtua korban, Ahmad Edi Santoso dan Nur Hasanah, segera berangkat dari Kabupaten Kayong Utara menuju Kubu Raya untuk melihat kondisi anak mereka.

Saat tiba di rumah sakit, keduanya mengaku terkejut karena kondisi Azizi tidak sesuai dengan penjelasan yang sebelumnya disampaikan.

"Kami awalnya diberitahu anak kami alergi parasetamol. Tapi, setelah melihat langsung, wajahnya lebam dan bengkak parah. Ini terlihat bukan seperti alergi," ujar Ahmad.

Korban dalam kondisi terbaring di tempat tidur rumah sakit dengan kondisi kedua mata membengkak hingga hampir tertutup.

Memar berwarna gelap tampak di sekitar mata dan pipi, sementara pada bagian kening terlihat benjolan yang cukup besar.

Melihat kondisi tersebut, keluarga menduga Azizi mengalami kekerasan ketika berada di lingkungan pesantren.

Dokter jaga di RS Anton Soedjarwo Bhayangkara Polda Kalbar yang pertama menangani Azizi menyampaikan adanya indikasi trauma pada bagian kepala sehingga diperlukan pemeriksaan lebih lanjut.

"Dokter mengatakan ada trauma di kepala," kata Ahmad.

Korban kemudian dirujuk ke RSU Santo Antonius Pontianak untuk menjalani pemeriksaan oleh dokter spesialis bedah saraf.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang